Banten

2025: Tahun di Mana Kita Merasa Maju, Padahal Sedang Mundur Berjamaah

Abdurahman | 1 Januari 2026, 08:33 WIB
2025: Tahun di Mana Kita Merasa Maju, Padahal Sedang Mundur Berjamaah

AKURAT BANTEN-Saat kita berdiri di ambang tahun baru, menoleh ke belakang ke arah 2025 memberikan kita perspektif yang unik.

Tahun 2025 bukan sekadar angka di kalender, melainkan sebuah laboratorium besar di mana kemanusiaan, kebijakan, dan alam saling berinteraksi dengan cara yang sangat intens.

Berikut adalah sebuah refleksi mendalam mengenai peristiwa-peristiwa besar yang membentuk wajah 2025 dan pelajaran yang bisa kita bawa untuk masa depan.

Baca Juga: Malam Tahun Baru di Tenda Pengungsian: Gaya Sederhana Presiden Prabowo Nonton Layar Tancap Bareng Warga Tapsel

2025: Sebuah Cermin Retak dan Harapan Baru

Tahun 2025 dimulai dengan optimisme transisi kepemimpinan di Indonesia, namun segera diuji oleh realitas global yang keras.

Dari ketegangan geopolitik yang memuncak hingga amukan alam yang memaksa kita berlutut, 2025 adalah tahun di mana "ketahanan" (resilience) bukan lagi sekadar slogan, melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Babak Baru Perseteruan Inara Rusli vs Virgoun: Antara Hak Asuh Anak dan Tuduhan Gadai Mobil

1. Alam yang Tak Lagi "Bisa Ditawar"

Salah satu potret paling membekas dari 2025 adalah Tragedi Banjir Sumatera dan berbagai bencana hidrometeorologi yang melanda tanah air.

Peristiwa ini membuka mata kita bahwa krisis iklim bukanlah prediksi masa depan, melainkan realitas objektif.

Pelajaran: Bencana ini adalah kritik keras terhadap tata ruang yang mengabaikan ekologi. Kita belajar bahwa mengejar investasi dengan merusak hutan hulu adalah "utang" yang akan ditagih alam dengan bunga yang sangat mahal.

Perbaikan ke Depan: Transformasi dari pola penanganan kuratif (mengobati setelah kejadian) menjadi mitigasi preventif (mencegah sebelum terjadi) adalah harga mati.

Baca Juga: Tahun Baruan di Jakarta Gratis Transportasi! Cek Jadwal, Rute, dan 33 Titik Penutupan Jalan di Sini!

2. Guncangan Ekonomi dan Dinamika Global

Secara internasional, 2025 diwarnai oleh ketegangan dagang baru akibat kebijakan tarif Amerika Serikat yang memicu volatilitas harga emas dan pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati angka Rp16.800.

Di sisi lain, keterlibatan militer yang semakin terbuka di berbagai belahan dunia (seperti kehadiran pasukan Korea Utara dalam konflik Rusia-Ukraina) mengingatkan kita betapa rapuhnya perdamaian dunia.

Refleksi: Ketergantungan ekonomi yang ekstrem pada pasar global membuat kita rentan.

Perbaikan ke Depan: Penguatan ekonomi domestik dan diversifikasi pasar adalah kunci. Kita harus belajar untuk lebih mandiri tanpa harus menutup diri dari dunia.

Baca Juga: KILAS BALIK 2025: Apa yang Harus Diperbaiki Sebelum Kita Melangkah Lebih Jauh?

3. Kemajuan Teknologi vs. Krisis Etika

Tahun ini kita melihat lompatan luar biasa dalam eksplorasi ruang angkasa (seperti misi New Glenn dan Axiom) serta penetrasi AI yang semakin dalam.

Namun, di saat yang sama, kita menghadapi tantangan kesehatan mental yang meningkat di kalangan Gen Z dan isu pengangguran struktural.

Refleksi: Teknologi bisa membangun jembatan ke bulan, tapi tidak bisa secara otomatis membangun karakter manusia.

Pelajaran: Pendidikan tidak boleh hanya fokus pada gelar, tetapi pada integritas moral dan daya kritis agar manusia tidak menjadi "budak" algoritma.

Baca Juga: Viral Video Ritual di Prambanan: Mengapa Aksi Zikir Kelompok Baju Putih Ini Picu Ketegangan?

Pesan untuk Diri Kita di 2026

Jika 2025 adalah guru, maka pelajarannya adalah tentang Keseimbangan. Kita tidak bisa membangun ekonomi tanpa menjaga ekologi. Kita tidak bisa mengejar kemajuan digital tanpa memelihara kemanusiaan.

"Sejarah tidak berulang, tetapi ia sering kali berima. Jika kita tidak mempelajari rima kesalahan di tahun 2025, kita hanya akan mengulang duka yang sama di tahun-tahun mendatang.

Mari jadikan setiap retakan di tahun 2025 sebagai tempat masuknya cahaya pengetahuan yang baru. Memperbaiki diri bukan berarti menghapus masa lalu, melainkan membangun fondasi yang lebih kokoh di atas puing-puing pengalaman (**) 

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
A