Saham GOTO Hancur 44 Persen! Laba Membesar, Tapi Saham Malah Ambruk hingga Rp28

AKURAT BANTEN – Pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menjadi sorotan. Bukan karena kinerja keuangannya memburuk, melainkan karena harga sahamnya justru terjun tajam ketika perusahaan mencatatkan perbaikan kinerja.
Dalam hanya empat hari perdagangan, saham GOTO merosot sekitar 44 persen, dari level Rp50 hingga menyentuh Rp28 pada penutupan perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena terjadi di tengah laporan keuangan semester I 2026 yang menunjukkan GOTO telah berbalik mencetak laba.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang belum diaudit, GOTO membukukan laba konsolidasian sebesar Rp423,25 miliar pada semester I 2026.
Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan masih mencatatkan rugi sebesar Rp741,96 miliar.
Kontras inilah yang membuat pergerakan saham GOTO semakin menarik untuk dicermati.
Harga saham GOTO justru jatuh ketika laporan keuangan menunjukkan perbaikan: laba berbalik positif, pendapatan tumbuh, dan arus kas operasi ikut membaik. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di pasar?
Baca Juga: Remaja 17 Tahun yang Tenggelam di Jembatan Grendeng Tangerang Ditemukan Tewas
Empat Hari Saham GOTO Terjun Bebas
Tekanan terhadap saham GOTO terlihat setelah batas minimum harga saham Rp50 tidak lagi menjadi batas bawah perdagangan.
Pada Senin, 28 September 2026, saham GOTO berada di sekitar Rp43. Sehari kemudian, harga kembali merosot menjadi Rp37.
Tekanan jual berlanjut pada Rabu, ketika saham GOTO turun ke level Rp32.
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, penurunan kembali terjadi. Saham GOTO terkoreksi Rp4 atau sekitar 12,50 persen dibandingkan penutupan sebelumnya dan berakhir di level Rp28.
Jika dibandingkan dengan level Rp50 sebelum perubahan ketentuan perdagangan, saham GOTO telah kehilangan sekitar Rp22 per saham.
Secara persentase, penurunannya mencapai sekitar 44 persen.
Pergerakan tersebut berlangsung setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan ketentuan baru yang memungkinkan saham diperdagangkan di bawah Rp50.
Untuk saham pada papan utama, papan pengembangan, dan papan ekonomi baru dengan rentang harga Rp11 hingga Rp200, batas auto rejection bawah atau ARB ditetapkan sebesar 15 persen.
Dengan perubahan tersebut, level Rp50 tidak lagi menjadi batas minimum harga saham.
Baca Juga: Dua Proyek Properti Alam Sutera Group Raih Penghargaan Indonesia Real Estate Awards 2026
Ironis, Laba GOTO Justru Membesar
Di tengah kejatuhan harga saham, kondisi laporan keuangan GOTO justru menunjukkan perkembangan yang berbeda.
GOTO mencatat laba konsolidasian Rp423,25 miliar sepanjang semester I 2026.
Angka itu berbalik drastis dibandingkan semester I 2025 ketika perusahaan masih membukukan rugi Rp741,96 miliar.
Lebih jauh, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp607,49 miliar.
Pada periode yang sama tahun sebelumnya, angka tersebut masih berupa rugi sebesar Rp580,01 miliar.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya perbaikan signifikan pada hasil usaha perseroan.
Namun, pasar saham tidak otomatis merespons positif hanya karena laba perusahaan meningkat.
Harga saham terbentuk dari transaksi jual dan beli di pasar, yang juga dipengaruhi ekspektasi investor, sentimen, likuiditas, serta kondisi perdagangan.
Pendapatan GOTO Naik 28,5 Persen
Perbaikan kinerja GOTO juga terlihat dari sisi pendapatan.
Pendapatan bersih perseroan pada semester I 2026 mencapai sekitar Rp10,99 triliun.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 28,5 persen dibandingkan Rp8,56 triliun pada semester I 2025.
Menariknya, pertumbuhan pendapatan tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan total biaya dan beban yang berada di kisaran 17 persen.
Kondisi tersebut ikut mendorong perbaikan laba usaha.
Jika pada semester I 2025 GOTO masih mencatat rugi usaha sebesar Rp171,60 miliar, pada semester I 2026 perseroan berhasil membukukan laba usaha Rp781,88 miliar.
Artinya, bukan hanya laba bersih yang berubah positif. Hasil usaha sebelum memperhitungkan pos-pos lainnya juga menunjukkan perbaikan.
Baca Juga: Transformasi Digital, Sekretariat DPRD Banten Integrasikan Layanan Lewat E-Setwan
Arus Kas Operasi Ikut Berbalik Positif
Sinyal perbaikan lainnya datang dari arus kas.
Pada semester I 2026, kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi GOTO mencapai Rp1,72 triliun.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan kondisi semester I 2025 ketika arus kas dari aktivitas operasi masih negatif Rp612,05 miliar.
Perubahan dari arus kas operasi negatif menjadi positif menjadi salah satu bagian penting dalam membaca perkembangan kinerja perusahaan.
Namun demikian, membaiknya sejumlah indikator fundamental tidak otomatis membuat harga saham langsung bergerak naik.
Hal itulah yang terlihat pada GOTO.
Mengapa Saham Tetap Ambruk?
Salah satu konteks penting dalam penurunan saham GOTO adalah perubahan aturan perdagangan yang membuka batas minimum harga Rp50.
Manajemen GOTO sebelumnya menilai tekanan harga saham lebih berkaitan dengan aspek teknis setelah adanya perubahan aturan BEI.
Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Prottireny, menyatakan bahwa penurunan harga saham belum mencerminkan perkembangan fundamental perusahaan.
Sementara itu, Aditya Prayoga dari Phintraco Sekuritas menilai pasar membutuhkan waktu untuk menyesuaikan harga setelah batas Rp50 dibuka.
Menurut pandangan tersebut, pergerakan dalam beberapa hari pertama setelah perubahan aturan tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan perubahan prospek bisnis GOTO.
Terbukanya batas harga memungkinkan proses pembentukan harga berlangsung lebih jauh melalui mekanisme permintaan dan penawaran.
Pada fase tersebut, volatilitas juga dapat meningkat hingga pasar menemukan tingkat harga baru.
Baca Juga: Wayne Rooney Minta Man City Dihukum Berat: “Turunkan Mereka ke Liga Terendah!”
Ada Sisi yang Perlu Dicermati dari Laporan Keuangan
Meski laba GOTO telah berbalik positif, bukan berarti seluruh indikator dalam laporan keuangan bergerak tanpa tekanan.
Pendapatan pinjaman misalnya, meningkat sekitar 64,7 persen menjadi Rp2,70 triliun.
Namun, beban penurunan nilai piutang pembiayaan dan pinjaman juga meningkat sekitar 78,9 persen menjadi Rp691,39 miliar.
Artinya, pertumbuhan bisnis pinjaman berjalan bersama dengan peningkatan beban penurunan nilai.
Biaya keuangan juga meningkat.
Dari sebelumnya Rp240,53 miliar, biaya keuangan GOTO naik menjadi Rp388,30 miliar.
Di luar usaha, GOTO mencatat keuntungan kurs bersih Rp315,14 miliar. Namun terdapat penyesuaian nilai wajar instrumen keuangan yang memberikan dampak negatif sebesar Rp328,10 miliar.
Karena itu, membaca kinerja GOTO tidak cukup hanya dengan melihat angka laba bersih.
Pertumbuhan pendapatan, laba usaha, arus kas, biaya keuangan, hingga risiko pembiayaan juga menjadi bagian penting untuk melihat kondisi perseroan secara utuh.
Baca Juga: Eks Gelandang Timnas Spanyol Dukung Haaland Tinggalkan Man City, Barcelona Jadi Tujuan Ideal?
GOTO Kini Berada di Level Rp28
Penutupan perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, menjadi titik penting dalam pergerakan terbaru saham GOTO.
Harga Rp28 menunjukkan bahwa saham tersebut telah berada jauh di bawah level Rp50 yang sebelumnya menjadi batas minimum perdagangan.
Namun, laporan keuangan semester I 2026 memberikan gambaran berbeda.
Perusahaan justru telah mencatat laba Rp423,25 miliar, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp607,49 miliar, pendapatan Rp10,99 triliun, serta arus kas operasi positif Rp1,72 triliun.
Kini perhatian pasar berada pada kemampuan GOTO mempertahankan perbaikan tersebut sekaligus bagaimana mekanisme pembentukan harga baru bekerja setelah batas minimum Rp50 dibuka.
Untuk saat ini, dua fakta berjalan berdampingan: kinerja keuangan GOTO menunjukkan perbaikan, sementara sahamnya justru tertekan hingga Rp28.
Kontras antara kedua kondisi tersebut menjadi alasan utama mengapa pergerakan GOTO kembali menjadi sorotan pasar modal pada awal Oktober 2026.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Remaja 17 Tahun yang Tenggelam di Jembatan Grendeng Tangerang Ditemukan Tewas
- 2Wayne Rooney Minta Man City Dihukum Berat: “Turunkan Mereka ke Liga Terendah!”
- 3Bukan Cuma Soal Sponsor! Ini 4 Kesalahan Finansial Man City yang Kini Bisa Mengubah Nasib The Citizens
- 4Tanggapi Keluhan Warga, Kelurahan Cipondoh Akui Sulit Atasi Sampah Pasar Sipon
- 5Pendapatan AC Milan Tembus Rp9,4 Triliun, Kok Utangnya Malah Naik Puluhan Juta Euro? Ini Faktanya
- 6Timnas Indonesia Dituntut Realistis Usai Imbang Lawan Malaysia, Herdman Ungkap Masalahnya
- 7Tinggal 21 Gol Lagi! João Félix Sudah Siapkan Misi Khusus untuk Antar Cristiano Ronaldo ke 1.000 Gol
- 8Man City Dinyatakan Bersalah, Thomas Tuchel Pilih Diam: Begini Sikapnya kepada Pemain The Citizens di Inggris
- 9Wayne Rooney Minta Man City Dihukum Berat: “Turunkan Mereka ke Liga Terendah!”
- 10Bukan Cuma Soal Sponsor! Ini 4 Kesalahan Finansial Man City yang Kini Bisa Mengubah Nasib The Citizens




