Banten

Manchester City Terbukti Langgar 114 Tuntutan Keuangan, Ini Ancaman Sanksi yang Mengintai

Viona Sebastian Nolani | 30 September 2026, 11:53 WIB
Manchester City Terbukti Langgar 114 Tuntutan Keuangan, Ini Ancaman Sanksi yang Mengintai
Pemain Manchester City Phil Foden - Instagram/@mancity

AKURAT BANTEN - Putusan yang menyebut Manchester City terbukti melanggar 114 dari 115 tuntutan keuangan membuat masa depan klub raksasa Inggris tersebut kini dibayangi ketidakpastian hukum.

Meski keputusan awal sudah diumumkan, Manchester City belum akan langsung menerima sanksi disipliner karena proses hukum masih dapat berlanjut.

Berdasarkan aturan Liga Premier, kedua pihak memiliki waktu 14 hari untuk mengajukan banding atas putusan tersebut.

Jika banding diajukan, proses berikutnya akan ditangani komite independen baru yang terdiri dari tiga anggota dan ditunjuk oleh Ketua Komite Yudisial Liga Premier.

Baca Juga: Vozinha Jadi Bintang Piala Dunia 2026, Tapi Ketenaran Justru Bikin Hidupnya Berubah Drastis

CEO Manchester City, Ferran Soriano, mengatakan kepada Dewan Klub Eropa (EFC) di Kopenhagen bahwa klub akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah.

Soriano juga menyebut proses hukum tersebut berpotensi berlangsung selama bertahun-tahun sebelum benar-benar mencapai keputusan akhir.

Situasi ini berbeda dengan perkara Manchester City di UEFA pada 2020, ketika larangan tampil di kompetisi Eropa akhirnya dibatalkan oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).

Dalam perkara Liga Premier kali ini, Manchester City tidak memiliki opsi untuk membawa kasus tersebut ke CAS setelah proses banding selesai.

Baca Juga: BGN Keluarkan Aturan Baru Program MBG, SPPG Kini Wajib Libatkan Pelaku Usaha Lokal

Keputusan yang dikeluarkan komite banding Liga Premier nantinya akan bersifat final sekaligus mengikat bagi kedua pihak.

Apabila upaya banding Manchester City tidak berhasil, klub dapat menghadapi sejumlah hukuman berat dari Liga Premier.

Sanksi tersebut berpotensi berupa pengurangan poin dalam jumlah besar, denda dengan nilai tinggi, hingga kemungkinan dikeluarkan dari kompetisi Liga Premier.

Dampak paling cepat justru dapat dirasakan dari sisi skuad karena ketidakpastian hukum berpotensi memengaruhi masa depan para pemain bintang Manchester City.

Saat ini, klub memiliki 17 pemain yang terikat kontrak jangka panjang hingga 2030.

Salah satu pemain paling penting adalah Erling Haaland yang telah menandatangani kontrak bersama Manchester City hingga 2034.

Apabila Manchester City terdegradasi atau kehilangan kesempatan tampil di Liga Champions, sejumlah pemain penting seperti Haaland, Rodri, Phil Foden, Marc Guéhi, dan Nico O'Reilly dapat menghadapi situasi yang membuat klausul pelepasan mereka menjadi perhatian.

Kondisi tersebut juga dapat membuka kemungkinan terjadinya perubahan besar dalam skuad, termasuk penjualan pemain dalam jumlah besar.

Bukan hanya pemain yang menghadapi ketidakpastian karena manajer baru Enzo Maresca juga berada dalam situasi yang tidak mudah.

Maresca bahkan baru saja membuat Chelsea menerima kompensasi sebesar £17 juta setelah mengambil alih posisi di Manchester City.

Di tengah persoalan hukum terbesar yang pernah dihadapi klub, Ketua Manchester City Khaldoon Al Mubarak mengirimkan surat kepada para penggemar.

Dalam surat tersebut, Al Mubarak kembali menegaskan komitmen klub sekaligus keyakinannya terhadap posisi Manchester City yang merasa tidak bersalah.

Ia juga mengutip "sejumlah bukti yang tak terbantahkan." sebagai bagian dari penegasan sikap klub.

Al Mubarak menekankan bahwa Manchester City tidak akan membiarkan persoalan tersebut menghentikan momentum yang sedang dibangun oleh tim.

Perkara ini juga memiliki dimensi yang lebih luas karena tidak hanya berkaitan dengan kompetisi sepak bola Inggris.

Persoalan tersebut turut menyentuh aspek geopolitik karena dapat memberikan tekanan terhadap reputasi investor asal Abu Dhabi dan Sheikh Mansour.

Sejumlah analis bahkan menyampaikan kekhawatiran bahwa sengketa hukum Manchester City berpotensi memberikan dampak terhadap hubungan perdagangan antara Inggris dan Uni Emirat Arab (UEA).

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.