Banten

Kekeringan Ancam Pertanian Banten, Andrio Caesario Dorong Petani Naik Kelas

Handrian Setiawan | 29 September 2026, 13:04 WIB
Kekeringan Ancam Pertanian Banten, Andrio Caesario Dorong Petani Naik Kelas
Ilustrasi kekeringan - ANTARA FOTO/ Putra M. Akbar/kye

AKURAT BANTEN - Kekeringan mulai menekan sektor pertanian Banten. Hingga 14 September 2026, 2.897,55 hektare lahan persawahan tercatat terdampak kekeringan, menjadi sinyal kuat bahwa petani membutuhkan strategi baru untuk menjaga produktivitas sekaligus nilai ekonomi hasil pertanian.

Di tengah ancaman berkurangnya pasokan air, penguatan ekosistem agribisnis dinilai menjadi salah satu langkah penting. Bukan hanya soal menjaga tanaman tetap tumbuh, tetapi juga memastikan hasil panen memiliki kualitas, akses pasar, dan nilai tambah yang lebih tinggi.

Ketua Umum Barisan 8 Center sekaligus praktisi agribisnis, Andrio Caesario melihat tantangan tersebut perlu dijawab dengan pendekatan pertanian yang lebih modern dan terintegrasi.

Baca Juga: Indonesia Terima 12 AAV M-35, Ini Alasan Kendaraan Amfibi Baru Korps Marinir TNI AL Jadi Sorotan

Andrio selama ini turun langsung menemui petani untuk mendengarkan berbagai persoalan di lapangan. Dukungan diberikan mulai dari sarana produksi seperti pupuk berkualitas hingga pelatihan untuk meningkatkan kapasitas petani.

Menurutnya, persoalan pertanian tidak cukup diselesaikan hanya dari sisi produksi. Petani juga perlu diperkuat dari sisi teknologi, pascapanen dan akses pasar.

“Petani harus mendapatkan akses terhadap sarana produksi, pengetahuan dan pasar. Kalau tiga hal ini bisa diperkuat, pertanian tidak hanya bertahan, tetapi bisa berkembang menjadi agribisnis yang memberikan nilai tambah,” ujar Andrio, Selasa (29/9/2026).

Baca Juga: Man City Terancam Degradasi, Ini yang Bisa Terjadi pada Erling Haaland dan Para Bintang Klub

Fasilitas Pengeringan Jadi Kunci

Upaya mendorong petani naik kelas juga dilakukan melalui penguatan infrastruktur pascapanen. Andrio menginisiasi pembangunan fasilitas pengeringan jagung modern di sejumlah daerah.

Fasilitas tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat rantai pasok komoditas pertanian. Proses pengeringan yang lebih modern dapat membantu menjaga kualitas hasil panen sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap metode tradisional yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca.

Dengan kualitas hasil panen yang lebih terjaga, komoditas pertanian berpeluang memiliki daya saing lebih baik ketika masuk ke pasar industri.

Baca Juga: Spanyol Juara Piala Dunia Wanita U-20 2026! Laia Lopez Jadi Pahlawan, Korea Utara Tumbang Dramatis

Langkah ini sekaligus mendorong perubahan paradigma dari pertanian tradisional menuju agribisnis modern, di mana petani tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada nilai tambah dan kepastian pasar.

Kekeringan Dorong Transformasi Pertanian

Data Dinas Pertanian Provinsi Banten menunjukkan kekeringan menjadi salah satu tantangan sektor pertanian selama musim kemarau 2026. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air bagi tanaman, tetapi juga berpotensi memengaruhi produktivitas dan pendapatan petani.

Dengan luas lahan terdampak mencapai 2.897,55 hektare, pengelolaan air, teknologi pertanian dan mitigasi risiko menjadi semakin penting.

Petani di wilayah terdampak perlu menyesuaikan pola pengelolaan lahan dengan kondisi ketersediaan air. Sementara pemerintah daerah melalui dinas terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi persawahan.

Baca Juga: Bukan Main Padat! Cerita Mengerikan, Satu Gerbong KRL JABOTABEK Bisa Diisi 480 Orang, Rela Berdesakan Demi Hemat

Di sisi lain, penguatan agribisnis dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membuat sektor pertanian lebih adaptif terhadap perubahan kondisi cuaca.

Bagi Andrio, modernisasi pertanian harus berjalan beriringan dengan penguatan petani. Teknologi, sarana produksi, peningkatan kapasitas dan akses pasar perlu ditempatkan dalam satu ekosistem agar hasil pertanian tidak berhenti sebagai komoditas mentah.

Dengan pendekatan tersebut, tantangan kekeringan bukan hanya menjadi persoalan yang harus ditangani, tetapi juga momentum untuk mempercepat transformasi pertanian Banten menuju sektor agribisnis yang lebih produktif, kompetitif dan bernilai ekonomi. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.