Banten

Teknologi Gasifikasi Sampah Jadi Energi Dikembangkan, Emisi Bisa Dipangkas hingga 90 Persen

Viona Sebastian Nolani | 23 September 2026, 11:34 WIB
Teknologi Gasifikasi Sampah Jadi Energi Dikembangkan, Emisi Bisa Dipangkas hingga 90 Persen
BRIN Sulap Sampah Jadi Energi Bersih dan Material Bernilai Tinggi - BRIN

AKURAT BANTEN - Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi gasifikasi yang terintegrasi dengan sistem penangkap karbon untuk menjawab persoalan pengelolaan sampah di Indonesia.

Teknologi tersebut dirancang untuk mengubah sampah menjadi energi bersih atau waste to energy, sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dan memanfaatkan sisa pengolahan menjadi material bernilai tinggi seperti Carbon Nanotube (CNT).

Peneliti Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN, Nina Konitat Supriatna, mengatakan buruknya pengelolaan sampah saat ini dapat menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat dan ketahanan iklim.

Sampah yang dibuang sembarangan, ditimbun di tempat pembuangan akhir (landfill), maupun dibakar secara terbuka berpotensi menghasilkan gas berbahaya sekaligus memperbesar kontribusi terhadap pemanasan global.

Baca Juga: Manchester United Incar Fermin Lopez, Siapkan Dana Fantastis untuk Gelandang Barcelona

"Saat ini masih banyak sekali sampah yang dibuang secara sembarangan dan tidak melalui manajemen sampah. Sampah yang tidak terkelola akan memicu metan, di mana metan ini sangat besar perannya menyebabkan naiknya gas emisi rumah kaca. Selain itu, pembakaran yang tidak terkelola, juga akan menghasilkan emisi CO2, dioksin, dan furan yang berbahaya bagi kesehatan kita," ungkap Nina dalam Energy Week 2026 di Gedung B.J. Habibie, M. H. Thamrin, Jakarta, Selasa (22/9).

BRIN kemudian mengembangkan gasifikasi terkontrol sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi persoalan tersebut.

Teknologi ini mengolah biomassa dan sampah padat atau Refuse Derived Fuel (RDF) sehingga menghasilkan syngas yang dapat dibakar dan mengandung hidrogen, karbon monoksida, serta metana.

Baca Juga: Zidane Punya Rencana Baru untuk Kylian Mbappe di Timnas Prancis, Bakal Kembali ke Sayap Kiri?

Melalui penerapan sistem tersebut, potensi pelepasan metana dan CO2 dari timbunan sampah dengan kapasitas mencapai 150 ton per hari dapat ditekan hingga 90 persen.

PRTKE BRIN juga mengembangkan sistem pemilahan sampah otomatis berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung efisiensi proses pengolahan.

Pengembangan teknologi pemilahan sampah tersebut telah menyelesaikan tahap pertama dan akan memasuki fase kedua dengan rencana penempatan fasilitas di Parepare, Sulawesi Selatan.

Tidak hanya menghasilkan energi, teknologi gasifikasi BRIN juga dapat memproses limbah plastik pada temperatur 1.600 derajat Celcius menjadi Carbon Nanotube (CNT), material maju yang memiliki performa tinggi.

Konsep tersebut memungkinkan material sisa dari proses pengolahan tetap dimanfaatkan sehingga limbah tidak berakhir sebagai buangan baru.

Residu gasifikasi berupa tar dan char atau arang juga dikembangkan kembali menjadi material isolator dengan kinerja yang disebut setara dengan komposit komersial.

BRIN turut memperluas pengembangan teknologi untuk mengurangi emisi karbon yang berasal dari sektor industri berskala besar.

Dua teknologi penangkapan karbon yang tengah dikembangkan adalah Calcium Looping melalui kerja sama dengan University of Waterloo, Kanada, serta Direct Air Capture (DAC) berbasis solvent ramah lingkungan yang dikembangkan bersama Universitas Indonesia (UI).

"Calcium looping ini bisa menangkap CO2 sampai 90 persen. Ini untuk industri semen, karena itu adalah sektor yang masalah emisinya bukan hanya dari bahan bakar, tapi juga dari perubahan kalsium karbonat (CaCO3) menjadi kalsium oksida (CaO). Di tahun depan kita juga sedang mencari industri yang akan menerapkan dan memodifikasikan calcium looping ini," papar Nina.

Pentingnya teknologi pengolahan sampah juga disampaikan praktisi industri dari PT CCEPC Environment Protection and Energy Comprehensive Utilization Indonesia, Daffa Khairi.

Menurutnya, penerapan pengolahan sampah menjadi energi atau PSEL dan Waste to Energy (WtE) semakin dibutuhkan karena pengelolaan sampah di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan.

"Mengapa ada urgensi untuk pengelolaan sampah menjadi energi? Karena pengelolaannya hampir 50 hingga 65 persen belum dilakukan secara penuh. Kita tetap perlu menekankan bahwa tujuan utama dari PSEL ini adalah untuk mengelola sampah. Energi listrik yang dihasilkan itu hanya sebagai nilai tambah," ia menegaskan.

Daffa menjelaskan fasilitas pengolahan tersebut memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan beragam jenis limbah yang tersedia.

Pendekatan yang digunakan industri tersebut dinilai sejalan dengan arah pengembangan teknologi biomassa dan sampah padat yang sedang dilakukan BRIN.

Teknologi gasifikasi BRIN saat ini juga diperkenalkan secara terbuka kepada masyarakat melalui pameran dan simulasi sistem.

Masyarakat serta mitra industri dapat melihat langsung simulasi teknologi yang menggunakan combustor dan ventilator bertekanan tinggi pada 22–24 September 2026 di Lobi Gedung B.J. Habibie, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.