Daya Saing Indonesia Anjlok 21 Peringkat, Kalah dari Malaysia hingga Vietnam di Ranking Dunia 2026

AKURAT BANTEN - Indonesia mengalami penurunan 21 posisi dalam Peringkat Daya Saing Dunia terbaru dibandingkan pencapaian tertingginya dua tahun sebelumnya.
Penurunan ini terjadi karena melemahnya sejumlah faktor penting, terutama efisiensi pemerintah, kinerja bisnis, serta kondisi infrastruktur sejak Presiden Prabowo Subianto mulai menjabat.
Saat ini, posisi Indonesia berada di bawah beberapa negara Asia Tenggara lainnya dalam daftar daya saing global.
Negara-negara tersebut adalah Filipina, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura yang masing-masing menempati peringkat ke-47, ke-26, ke-27, ke-15, serta peringkat pertama dunia.
Baca Juga: Messi Bertemu Vozinha di Piala Dunia 2026, Mimpi Kiper Tanjung Verde Akhirnya Jadi Kenyataan
Berdasarkan catatan Lembaga Pengembangan Manajemen (IMD), Indonesia mencatat pencapaian terbaik pada 2024 dengan menduduki posisi ke-27 dunia.
Namun, peringkat tersebut mengalami penurunan besar menjadi posisi ke-40 pada tahun berikutnya, lalu kembali turun ke peringkat ke-48 dalam daftar IMD 2026 yang diumumkan pada 18 Juni.
Dalam laporannya, IMD menyebut bahwa “ekonomi yang memiliki institusi yang kredibel lebih siap untuk menghadapi dunia yang bergejolak dan terfragmentasi saat ini”.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya perubahan fokus, dari sebelumnya yang lebih mengutamakan biaya, skala ekonomi, serta hasil produksi.
Baca Juga: Nagelsmann Bikin Jerman Hancur di Piala Dunia 2026? Kesalahan Taktik yang Jadi Sorotan
Arturo Bris, direktur Pusat Daya Saing Dunia IMD yang berbasis di Swiss, menjelaskan bahwa situasi geopolitik global semakin tidak stabil dan fragmentasi dunia terus meningkat.
Menurutnya, kekuatan institusi menjadi faktor yang semakin menentukan dalam menghadapi kondisi tersebut.
“Negara-negara dengan lembaga-lembaga yang telah teruji dan kredibel akan memperoleh keuntungan dalam konteks ini karena, ketika sistem internasional berhenti melayani begitu banyak kebutuhan nasional, bisnis dapat berjalan seperti biasa,” kata Bris.
Dari empat indikator utama dalam penilaian tersebut, kinerja ekonomi Indonesia masih bertahan di peringkat yang sama selama dua tahun terakhir, yakni posisi ke-24.
Angka tersebut menjadi peningkatan besar dibandingkan tahun 2022 ketika Indonesia masih berada di peringkat ke-42.
Meski demikian, beberapa komponen ekonomi domestik mengalami penurunan.
Salah satunya adalah sektor ekonomi domestik yang turun 15 posisi ke peringkat 24 tahun ini.
Selain itu, sektor lapangan kerja juga mengalami pelemahan dengan turun 11 peringkat ke posisi 28.
Tiga indikator utama lainnya justru mengalami penurunan cukup besar, terutama pada aspek efisiensi bisnis. Pada 2024, efisiensi bisnis Indonesia masih tergolong kuat dengan berada di posisi ke-14 dari 70 negara yang masuk dalam pemeringkatan.
Namun, posisi tersebut kemudian menurun menjadi peringkat ke-26 pada tahun lalu dan kembali merosot tajam ke peringkat ke-50 tahun ini.
Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan lima tahun sebelumnya yang berada di posisi ke-31.
Seluruh aspek dalam indikator efisiensi bisnis, mulai dari produktivitas dan efisiensi, pasar tenaga kerja, sektor keuangan, praktik manajemen, hingga sikap serta nilai-nilai bisnis, mengalami pelemahan.
Penurunan pada berbagai komponen tersebut berkisar antara 9 peringkat pada kondisi terbaik hingga 27 peringkat pada penurunan terbesar.
Efisiensi pemerintah Indonesia juga mengalami penurunan signifikan. Pada akhir masa pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo tahun 2024, indikator ini berada di posisi ke-23.
Setelah itu, peringkatnya turun menjadi ke-34 pada tahun lalu dan kembali melemah ke posisi ke-38 tahun ini.
Laporan IMD mencatat bahwa Indonesia mengalami perkembangan dalam regulasi bisnis dan kerangka kelembagaan.
Namun, negara ini masih menghadapi tantangan dalam aspek keuangan publik, kebijakan perpajakan, serta sistem sosial.
Sektor infrastruktur yang menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Jokowi juga masih tertinggal dibandingkan negara lain.
Indonesia berada di peringkat ke-52 dua tahun lalu, posisi yang sama seperti pada 2022.
Akan tetapi, kondisi infrastruktur Indonesia terus mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir.
Peringkatnya turun ke posisi ke-57 pada 2025 dan kembali melemah menjadi peringkat ke-58 dalam daftar terbaru, dengan catatan terburuk terjadi pada sektor infrastruktur dasar.
Di tengah penurunan tersebut, terdapat beberapa sektor yang menunjukkan perbaikan.
Komponen harga, regulasi bisnis, serta investasi internasional menjadi bagian yang mengalami peningkatan, dengan kenaikan peringkat sekitar 5 hingga 6 posisi.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Makin Tegang! Putusan MK soal Syarat Pendidikan Gibran Tinggal Ditunggu, Dokumen UTS Insearch Jadi Sorotan
- 2Viral Kapolri Suyudi Baru Dilantik, Komisi III DPR Langsung Sambangi Rumahnya: Ada Apa? Isu Pejabat Polri Arogan Jadi Sorotan
- 3BPEK DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta Raih Award of Appreciation di Success Business Mastery
- 4Viral di Jakarta! Surat Asli Bupati Sigi Berisi Permohonan Bantuan Jembatan Malah Jadi Bungkus Nasi Pecel, Ini Isi Lengkapnya
- 5Pendopo Gandeng Batik Indra Loka Perluas Pasar Busana Motif Lokal Lintas Generasi
- 6Geger! Guru ICM Serpong Jadi Tersangka Kekerasan Seksual, Dugaan Child Grooming Terungkap
- 7Fantastis! Orang Superkaya Indonesia Diproyeksi Tembus 6.966 Orang, Pertumbuhannya Nomor 1 Dunia, Ini Penyebabnya
- 8Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026! Drama 120 Menit dan Adu Penalti Akhirnya Putus Kutukan 35 Tahun
- 9Sesko Cedera Lagi, Manchester United Bisa Panik! 3 Striker Ini Berpotensi Jadi Solusi Januari 2027
- 10Dari Bangku Cadangan Jadi Pahlawan! Michael Olise Ungkap Instruksi Zidane yang Bikin Belgia Hancur









