Iran Siap Kirim Uranium ke Negara Ketiga Tetapi Tolak Tunduk pada AS

AKURAT BANTEN - Iran menawarkan opsi pemindahan sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke negara ketiga sebagai respons atas proposal terbaru AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 10 minggu.
Namun, Teheran tetap menolak tuntutan pembongkaran fasilitas nuklirnya.
Di tengah berbagai insiden yang terus menguji rapuhnya gencatan senjata, Iran juga belum menunjukkan sinyal publik bahwa mereka siap menerima rencana yang diajukan Donald Trump.
Presiden AS itu mengusulkan agar Iran membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, sementara Washington akan menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dalam waktu satu bulan.
Baca Juga: Viral 56 Bhikkhu Tempuh Perjalanan Damai Bali-Borobudur Selama 20 Hari
Dalam proposal terbaru tersebut, Iran disebut bersedia mengurangi sebagian stok uranium yang sangat diperkaya dan mengirimkan sisanya ke negara ketiga.
Laporan itu mengutip sumber yang mengetahui isi tanggapan Teheran.
Meski demikian, Iran meminta jaminan bahwa uranium yang dipindahkan akan dikembalikan apabila negosiasi gagal, serta tetap menolak pembongkaran fasilitas nuklirnya.
Respons Iran dituangkan dalam beberapa halaman dokumen yang juga berisi usulan penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap.
Baca Juga: Kasus Hantavirus Andes Menggemparkan Dunia, Indonesia Disebut Rentan karena Alasan Ini
Meski begitu, laporan tersebut menegaskan bahwa AS dan Iran masih memiliki perbedaan besar terkait masa depan program nuklir Teheran.
Perang yang berlangsung sejauh ini telah menewaskan ribuan orang di kawasan Timur Tengah dan memicu lonjakan harga energi global.
Bahkan jika kesepakatan tercapai, kedua pihak masih harus melakukan negosiasi lanjutan mengenai mekanisme pengelolaan program nuklir Iran yang hingga kini menjadi isu paling sensitif.
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa AS bisa saja "menempuh jalur yang berbeda jika semuanya tidak ditandatangani dan diselesaikan."
Pernyataan itu dinilai sebagai sinyal kemungkinan perluasan Proyek Kebebasan, operasi singkat AS untuk melemahkan kendali maritim Iran dan mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga: Trump Sebut Respons Iran Tidak Dapat Diterima, Harga Minyak Langsung Meroket
Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur laut strategis tersebut.
Pada 10 Mei, Trump menuduh Iran telah "bermain-main" dengan AS dan negara lain.
"Selama 47 tahun, Iran telah 'mempermainkan' kita, membuat kita menunggu, membunuh rakyat kita dengan bom pinggir jalan mereka, menghancurkan demonstrasi, dan baru-baru ini memusnahkan 42.000 demonstran tak bersenjata yang tidak bersalah, dan menertawakan negara kita yang kini HEBAT KEMBALI," tulisnya dalam unggahan media sosial. "Mereka tidak akan tertawa lagi!"
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menegaskan bahwa perang "belum berakhir."
Baca Juga: Trump Klaim AS Bisa Habisi Semua Target Iran, NATO Malah Disebut Tak Membantu
Ia menyebut masih banyak langkah yang harus dilakukan untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran dan menghapus cadangan uranium yang diperkaya tinggi.
Walaupun gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April, situasi keamanan di kawasan masih belum stabil.
Serangan drone pada 10 Mei sempat membakar sebuah kapal kargo di lepas pantai Qatar di Teluk Persia, menjadi serangan terbaru terhadap kapal di wilayah tersebut.
Uni Emirat Arab dan Kuwait, dua negara yang dalam dua bulan terakhir juga menjadi target serangan Iran, pada 10 Mei menyatakan telah berhasil mencegat drone musuh.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Dibayangi Perang Iran dan Harga Tiket Gila-Gilaan, FIFA Mulai Panik?
Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memperingatkan Inggris dan Prancis melalui unggahan di platform X bahwa keberadaan kapal perang kedua negara di Selat Hormuz akan mendapat "tanggapan tegas dan segera dari angkatan bersenjata Republik Islam Iran."
Konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari itu telah mengguncang pasar minyak dan gas dunia.
Lonjakan harga energi kini meningkatkan tekanan terhadap pemerintah dan konsumen global, termasuk di AS menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
Baca Juga: Ketegangan Memuncak, Iran Beri Peringatan Keras Negara Pendukung AS soal Selat Hormuz
Saudi Aramco, perusahaan minyak terbesar di dunia, pada 10 Mei memperingatkan bahwa pasar energi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali stabil meskipun Selat Hormuz segera dibuka kembali.
"Jika perdagangan dan pengiriman tetap terhambat selama lebih dari beberapa minggu mulai hari ini, kami memperkirakan gangguan pasokan akan berlanjut, dan pasar baru akan normal pada tahun 2027," kata CEO Amin Nasser dalam pernyataannya.
Meski krisis masih berlangsung, negara-negara ekonomi utama di kawasan Teluk mulai beradaptasi dan mencari cara agar sebagian produksi energi mereka tetap dapat dipasarkan.
Baca Juga: Maung MV3 Garuda Limousine Tampil di KTT ASEAN, Bukti Industri Pertahanan Indonesia Makin Diakui
Data pelacakan menunjukkan kapal tanker Al Kharaitiyat yang membawa gas alam cair Qatar berhasil melintasi Selat Hormuz akhir pekan ini.
Pengiriman itu menjadi ekspor pertama Qatar dari wilayah tersebut sejak krisis dimulai dan ditujukan ke Pakistan, yang berperan sebagai mediator penting dalam pembicaraan damai AS-Iran.
Pengiriman LNG tersebut disebut sebagai bagian dari negosiasi Pakistan dengan Iran untuk memperoleh tambahan pasokan gas alam cair dari Qatar demi memenuhi kebutuhan mendesak.
Baca Juga: Heboh Obat Tramadol dan Eximer Menyasar Buruh Pabrik, DPR Sebut Banyak Pekerja Tak Sadar Bahayanya
Informasi itu disampaikan oleh sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut dan meminta identitas mereka dirahasiakan karena diskusi berlangsung tertutup.
Sementara itu, Aramco dan perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab, Adnoc, termasuk di antara perusahaan yang tetap mengirimkan minyak mentah melalui Selat Hormuz meski Iran secara efektif menutup jalur tersebut, sebagaimana dilaporkan Bloomberg pada 8 Mei.
Sebagian ekspor minyak Arab Saudi lainnya kini dialihkan melalui jaringan pipa menuju Laut Merah.
Baca Juga: Heboh Citra Satelit Ungkap Dugaan Tumpahan Minyak di Iran, Pulau Kharg Jadi Perhatian Dunia
Aramco bahkan melaporkan kenaikan laba kuartal pertama sebesar 26 persen pada 10 Mei, didorong lonjakan harga minyak dan bahan bakar olahan akibat perang serta penggunaan jalur distribusi alternatif tersebut. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 5Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 6MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 7Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 8Golkar Ungkap Alasan Partai Pendukung Tak Turun Bela Gibran di MK, Ini Penjelasannya
- 9Dedi Mulyadi Disebut Bisa Jadi Cawapres Prabowo 2029, Syarat Politik Ini Jadi Sorotan
- 10Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'









