Ketegangan Memuncak, Iran Beri Peringatan Keras Negara Pendukung AS soal Selat Hormuz

AKURAT BANTEN - Militer Iran pada 10 Mei memperingatkan bahwa negara-negara yang mengikuti sanksi AS terhadap Republik Islam Iran akan menghadapi hambatan saat melintasi Selat Hormuz.
Pada awal Mei, pemerintah AS kembali menjatuhkan sanksi baru terhadap kepentingan Iran.
Washington juga memperingatkan kapal-kapal internasional agar tidak membayar otoritas di Teheran untuk mendapatkan izin melintas di selat strategis tersebut.
AS bersama Bahrain turut menyusun rancangan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Resolusi itu mendesak Iran untuk menghentikan pembatasan pelayaran di jalur perairan tersebut, yang kini menjadi salah satu sumber ketegangan utama sejak perang pecah pada 28 Februari.
Baca Juga: Maung MV3 Garuda Limousine Tampil di KTT ASEAN, Bukti Industri Pertahanan Indonesia Makin Diakui
"Negara-negara yang mematuhi AS dengan memberlakukan sanksi terhadap Republik Islam Iran pasti akan menghadapi kesulitan menyeberangi selat tersebut," kata pejabat militer Mohammad Akraminia.
"Kami telah menetapkan sistem hukum dan keamanan baru di Selat Hormuz. Mulai sekarang, setiap kapal yang ingin melewatinya harus berkoordinasi dengan kami," tambahnya.
Ia menambahkan bahwa sistem baru tersebut "sekarang sudah berlaku" dan diyakini akan memberikan "keuntungan ekonomi, keamanan, dan politik".
Pada 9 Mei, ketua komisi keamanan nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, juga menyampaikan ancaman serupa melalui unggahan di platform X.
Baca Juga: Heboh Obat Tramadol dan Eximer Menyasar Buruh Pabrik, DPR Sebut Banyak Pekerja Tak Sadar Bahayanya
"Kami memperingatkan pemerintah, termasuk negara-negara mikro seperti Bahrain, bahwa berpihak pada resolusi yang didukung AS akan membawa konsekuensi yang berat. Selat Hormuz adalah jalur kehidupan yang vital; jangan mengambil risiko menutupnya selamanya," tulisnya.
Iran saat ini hanya mengizinkan sebagian kecil kapal melintas di jalur laut tersebut.
Dalam kondisi normal, Selat Hormuz menjadi rute penting yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, termasuk berbagai komoditas strategis lainnya.
Pada April lalu, wakil ketua parlemen Iran, Hamidreza Hajibabaei, mengatakan Teheran telah menerima pemasukan pertamanya dari pungutan tol yang diterapkan untuk kapal-kapal yang melewati selat tersebut.
Sementara itu, Rusia yang memiliki hak veto disebut siap menghalangi resolusi Dewan Keamanan PBB yang diajukan AS dan Bahrain, menurut sumber diplomatik.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 5MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 6Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 7Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 8Golkar Ungkap Alasan Partai Pendukung Tak Turun Bela Gibran di MK, Ini Penjelasannya
- 9Dedi Mulyadi Disebut Bisa Jadi Cawapres Prabowo 2029, Syarat Politik Ini Jadi Sorotan
- 10Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'









