Mengaku Cuma Bisa Nonton, Tour Guide Indonesia Buka-bukaan Perihal Letusan Gunung Dukono,

AKURAT BANTEN - Pada pagi hari tanggal 8 Mei sekitar pukul 07.40, dengan latar kawah abu-abu Gunung Dukono yang membentang di depannya, Reza Selang mulai menerbangkan drone miliknya untuk merekam suasana yang awalnya ia kira hanya akan menjadi video biasa.
Gunung berapi yang berada di Pulau Halmahera, kawasan timur Indonesia tersebut tampak dalam kondisi tenang.
Selama beberapa hari sebelumnya, ia menerima informasi bahwa tidak ada tanda-tanda aktivitas vulkanik yang mencurigakan.
Rombongan pendaki asal Singapura yang dipandunya bahkan bermalam di area dekat puncak usai melakukan pendakian sehari sebelumnya.
Namun hanya berselang satu menit, tepat pukul 07.41 pagi, Gunung Dukono tiba-tiba mengalami erupsi.
Material panas berupa batu dan puing vulkanik terlontar ke udara sebelum menghujani area sekitar bibir kawah.
“Biasanya, hanya mengeluarkan asap,” kata Reza, 35 tahun, dalam wawancara media pertamanya sejak letusan.
“Tapi kali ini, ia melontarkan material,” jelasnya.
Pria yang bekerja sebagai pemandu pendakian asal Ternate itu saat itu berada sedikit lebih rendah di lereng gunung sambil mengendalikan drone ketika letusan mulai terjadi.
Ia kemudian mengarahkan drone menuju area puncak untuk memastikan apakah masih ada pendaki yang berada di dekat kawah.
Dari layar pemantau drone, ia melihat salah seorang pendaki asal Singapura terbaring diam di atas tanah tanpa bergerak.
Sementara itu, seorang warga Singapura lain yang menjadi penyelenggara ekspedisi langsung berlari kembali menuju kawah usai melihat rekannya jatuh pingsan.
Reza pun segera mendaki untuk menyusulnya sambil merangkak melewati hujan batu vulkanik yang terus berjatuhan.
Penyelenggara rombongan lebih dulu mencapai korban dan langsung melakukan tindakan resusitasi jantung paru.
Pendaki tersebut akhirnya kembali sadar, tetapi tubuhnya sudah tidak mampu berdiri.
“Dia sadar, tetapi tidak bisa bergerak,” kata Reza.
Dengan tenaga yang tersisa, keduanya berusaha menyeret korban menjauh dari area kawah yang berbahaya.
Baca Juga: Kerap Jadi Titik Keributan, Aparat Gabungan Bubarkan Tongkrongan Bermuatan Miras di Graha Raya
Reza memegang bagian kaki korban yang terluka, sementara sang penyelenggara menopang tubuh bagian atasnya.
Di bawah mereka, bebatuan vulkanik terasa sangat panas hingga membakar celana yang dikenakan Reza.
“Itulah sebabnya kaki saya terbakar,” katanya, sambil menunjukkan perban di bagian belakang kedua kakinya.
Tidak lama kemudian, sebuah batu berukuran besar menghantam lereng gunung lalu memantul ke arah mereka hingga menjepit dua warga Singapura tersebut di antara bebatuan.
Karena tidak mampu lagi mengangkat mereka, Reza akhirnya terpaksa meninggalkan lokasi dan berlari turun gunung demi menyelamatkan diri.
“Saya hanya bisa berdiri di sana dan menonton,” kata Reza, air mata menggenang di matanya.
“Saya sudah tidak punya kekuatan lagi untuk memindahkan batu-batu itu,” pungkasnya.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 2Jika Gugatan Gibran Dikabulkan MK, Yusril Bicara Dampaknya, ‘Saya Tidak Bisa Membayangkan’
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Jokowi Akhirnya Buka Suara soal Pendidikan Gibran, Singgung Paket C, 'Masa Disuruh Lagi?'
- 5Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 6Gugatan Gibran di MK Disebut KPU Bisa Masuk Ranah Pemakzulan, Ini Alasannya
- 7Dedi Mulyadi Masuk Bursa Pilpres 2029, Tapi Ada Satu Hambatan Besar yang Disorot Pengamat
- 8Makin Terbuka! Hakim MK Pertanyakan Verifikasi Dokumen Pendidikan Gibran oleh KPU
- 9Jokowi Pamer KTA PSI, Chusnul Langsung Singgung Ijazah, Ada Apa?
- 10Gibran Jadi Sorotan Jelang 2029, Dedy Nur PSI Ungkap Kesiapan Hadapi Persaingan Politik






