Banten

Bukan 'Baper', Gibran Blak-blakan di Depan Tretan & Coki: Dari Sorotan 'Mens Rea' Hingga Rahasia Wajah Ngantuknya

Saeful Anwar | 22 Januari 2026, 16:35 WIB
Bukan 'Baper', Gibran Blak-blakan di Depan Tretan & Coki: Dari Sorotan 'Mens Rea' Hingga Rahasia Wajah Ngantuknya

AKURAT BANTEN – Apa jadinya jika orang nomor dua di Indonesia duduk satu meja dengan dua "ikon" komedi gelap tanah air, Tretan Muslim dan Coki Pardede?

Podcast terbaru di kanal YouTube Tretan Universe mendadak viral setelah menampilkan sisi lain Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, yang selama ini dikenal irit bicara.

Bukan sekadar obrolan formal, Gibran justru tampak "menikmati" setiap peluru roasting yang dilemparkan kepadanya. Berikut adalah poin-poin tajam yang membuat netizen gagal fokus:

Baca Juga: Heboh Kabar Rapel Kenaikan Gaji Pensiun 2026, Taspen Akhirnya Buka Suara: Simak Fakta Resminya!

1. Tanggapan Berkelas Soal Spesial Pandji Pragiwaksono: 'Mens Rea'

Salah satu topik paling panas adalah ketika Tretan dan Coki menyentil soal konten stand-up comedy Pandji Pragiwaksono bertajuk Mens Rea yang sedang menduduki peringkat #1 di Netflix.

Menariknya, Gibran mengaku sudah menontonnya. Alih-alih tersinggung karena namanya ikut disenggol, ia memberikan jawaban telak namun santai.

"Kalau nggak lucu, nggak mungkin nomor satu di Netflix," ujar Gibran singkat.

Ia bahkan memuji pencapaian Pandji, sebuah respons yang jarang diberikan oleh pejabat publik terhadap kritik keras yang dibalut komedi.

Baca Juga: ‘Hajar yang Bawa Beking!’: Instruksi Keras Menkeu Purbaya untuk Pegawai Pajak

2. Rahasia di Balik "Wajah Ngantuk" yang Ikonik

Netizen seringkali menjadikannya meme karena ekspresi wajahnya yang tampak selalu mengantuk.

Di depan Coki dan Tretan, Gibran akhirnya memberikan "klarifikasi" yang memancing tawa.

Ia menegaskan bahwa wajahnya yang tampak kurang tidur bukanlah karena begadang memikirkan negara, melainkan faktor genetika yang sudah ada sejak ia lahir.

"Dari lahir memang bentuk mata saya seperti ini... nggak apa-apa," katanya dengan nada tulus sekaligus pasrah.

Baca Juga: Awas Hoaks! Kemenag Tegaskan Belum Buka Pendaftaran CPNS & PPPK 2026, Jangan Asal Klik Tautan!

3. 'Roasting' Adalah Makanan Sehari-hari

Gibran juga mengenang betapa ia sudah terbiasa menjadi sasaran empuk komedian. Ia bercerita bahwa jauh sebelum menjabat posisi tinggi, ia sudah kenyang di-roasting.

"Anak saya baru lahir siang, malamnya saya di-roasting. Lebih parah dari Pandji," kenangnya sambil tertawa kecil.

Baginya, selama itu adalah bentuk hiburan dan bukan serangan personal yang bersifat bullying kasar, ia menganggapnya sebagai bagian dari dinamika demokrasi dan budaya digital.

Baca Juga: Seragam Hitam dan Nametag yang Masih Utuh: Kisah Pilu Ditemukannya Pramugari Florencia di Tebing Gunung Bulusaraung

4. Pesan Menohok untuk Netizen: Kritik Boleh, Tapi Jangan Menyerang Keluarga

Di balik tawa, ada pesan serius yang terselip. Gibran menekankan pentingnya batas dalam berkomentar di media sosial.

Ia menyoroti fenomena netizen yang seringkali menyerang keluarga komika atau figur publik hanya karena sebuah kritik.

"Apa yang disampaikan Pandji itu kan kritikan, masukan untuk kita semua," tegasnya. Ia mengajak publik untuk lebih bijak dan tidak memperkeruh konflik digital yang tidak perlu.

Baca Juga: Geger Unggahan ‘My Husband’, Vie Shantie Khan Akhirnya Bongkar Status Hubungannya dengan Mualem!

Wajah Baru Politisi di Era Digital

Kehadiran Gibran di podcast Tretan & Coki bukan sekadar aksi publisitas.

Ini menunjukkan pergeseran gaya komunikasi politik: dari yang kaku menjadi lebih terbuka terhadap budaya populer.

Gibran membuktikan bahwa pemimpin tidak harus selalu terlihat tegang.

Terkadang, menertawakan diri sendiri adalah cara terbaik untuk menunjukkan kekuatan mental dan kedewasaan dalam berpolitik (**).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman