Banten

NTB Berpacu Turunkan Stunting, Dua Kabupaten Jadi Sorotan Utama

Moehamad Dheny Permana | 18 November 2025, 04:52 WIB
NTB Berpacu Turunkan Stunting, Dua Kabupaten Jadi Sorotan Utama

Akurat Banten - Dua wilayah di Nusa Tenggara Barat kembali menyedot perhatian setelah pemerintah provinsi menetapkan Lombok Timur dan Lombok Utara sebagai area prioritas penanganan stunting.

Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri menyebut kedua daerah itu harus mendapatkan intervensi lebih intensif karena masih berada dalam kategori merah.

“Kita fokus di Lombok Timur dan Lombok Utara, karena keduanya masih berada di zona merah stunting,” ujarnya.

Ia menegaskan kebijakan tersebut tidak berarti mengesampingkan sembilan daerah lainnya, melainkan untuk mengejar perubahan signifikan pada dua wilayah dengan kasus tertinggi.

“Ada sentuhan untuk semua kabupaten dan kota, hanya porsinya yang lebih besar kita arahkan ke dua daerah itu agar warnanya bisa turun dari merah ke kuning,” tambahnya.

Dari sepuluh kabupaten dan kota di NTB, hanya Dompu dan Sumbawa Barat yang dinyatakan berada di zona hijau, sementara sebagian besar lainnya masuk kategori kuning.

Pemerintah provinsi merancang aksi khusus berupa pola pendampingan orang tua asuh selama 90 hari, yang mencakup pengawasan pemberian makanan bergizi secara berkala.

Baca Juga: Lonjakan Vaksin HPV Dikejar 2030, Pemerintah Pasang Target Ambisius untuk Lindungi Generasi Muda

“Program ini sudah berjalan, hanya belum maksimal, jadi akan kita dorong supaya terukur dan berdampak lebih kuat,” jelas Wagub.

Selain melakukan koordinasi lintas sektor, pemerintah provinsi bersama Bappeda, Dinas Kesehatan, BKKBN, dan seluruh pemerintah daerah akan menggelar pertemuan skala besar untuk menyusun strategi penurunan stunting tahun 2026.

Kepala Dinas Kesehatan NTB Lalu Hamzi Fikri mengungkapkan bahwa tingkat stunting di Lombok Utara mencapai 35,3 persen, sementara Lombok Timur berada di angka 33 persen.

“Angka stunting NTB sekarang 29,8 persen, dan memang naik-turun, pernah turun sampai 8,1 persen dan pernah juga naik 5,1 persen,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pendekatan yang akan diterapkan tidak lagi sekadar menangani anak-anak yang sudah terkena stunting, melainkan mencegah munculnya kasus baru.

Baca Juga: Indosat dan SMK Walang Jaya Perkuat Pembelajaran Praktik Lewat Inisiatif Kios Industri

“Fokus kita nanti ada pada Program Desa Derdaya. Kita sudah bergerak di 106 desa miskin ekstrem dan rencana aksi ini mendapatkan perhatian nasional,” ujar Fikri.

Upaya bersama lintas lembaga tersebut diharapkan mampu mempercepat perbaikan status gizi anak di NTB, terutama di dua wilayah yang kini berada dalam pengawasan ketat pemerintah.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.