Banten

Konten Base Fuel Dianggap Tak Sesuai: SPBU Swasta Mundur Beli BBM Pertamina, Spesifikasi Produk Biang Keladinya

Abdurahman | 2 Oktober 2025, 10:48 WIB
Konten Base Fuel Dianggap Tak Sesuai: SPBU Swasta Mundur Beli BBM Pertamina, Spesifikasi Produk Biang Keladinya

AKURAT BANTEN-Kolaborasi Pertamina dengan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta untuk mengatasi krisis stok Bahan Bakar Minyak (BBM) impor berujung antiklimaks.

Kesepakatan yang sempat diumumkan Menteri ESDM kini batal, memunculkan pertanyaan besar soal kualitas dan konten bahan bakar yang ditawarkan BUMN.

Kolaborasi pembelian base fuel (bahan bakar dasar) impor dari PT Pertamina (Persero) menjadi 'tali penyelamat' bagi sejumlah SPBU swasta, seperti PT VIVO Energy Indonesia dan APR (joint venture BP dan AKR), yang jatah impornya telah habis. Rencana ini digadang-gadang sebagai solusi cepat untuk mengisi kembali tangki-tangki mereka.

Namun, harapan itu kini pupus.

Baca Juga: Dilema Cukai Rokok: Jadi Polemik Masalah Ekonomi dan Kesehatan, Purbaya Pilih yang Paling Bermanfaat

Kandungan Etanol Jadi Biang Kerok Pembatalan

Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI pada Rabu, 1 Oktober 2025, akhirnya mengungkap alasan mengejutkan di balik mundurnya VIVO dan APR dari kesepakatan pembelian.

"VIVO membatalkan untuk melanjutkan, akhirnya tidak disepakati lagi. Lalu tinggal APR. APR akhirnya tidak juga. Jadi, tidak ada semua," ungkap Achmad Muchtasyar.

Alasan utama pembatalan tersebut ternyata terletak pada kandungan dalam base fuel Pertamina, yaitu etanol sebesar 3,5%.

Achmad menjelaskan, secara regulasi, kandungan etanol dalam BBM sebetulnya diperbolehkan hingga batas tertentu, bahkan disebut-sebut mencapai 20%. Artinya, kandungan 3,5% masih dalam ambang batas aman yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga: Purbaya Menteri Keuangan Bocorkan Harga Gas 3 kg, Naik atau Turun?

Lalu, mengapa SPBU swasta keberatan?

Para pemain swasta, yang umumnya memiliki merek dan spesifikasi produk BBM premium sendiri, khawatir konten etanol ini tidak sesuai dengan karakteristik atau spesifikasi produk yang mereka jual ke konsumen.

Keputusan untuk mundur disinyalir merupakan langkah untuk menjaga kualitas dan citra merek mereka.

"Isu yang disampaikan kepada rekan-rekan SPBU ini mengenai konten. Kontennya ada kandungan etanol. Sedangkan (BBM punya Pertamina) ada etanol 3,5 persen," tambah Achmad.

Baca Juga: SEWA MURAH: Kota Tangerang Sediakan 979 Unit Rusunawa, Sewa Mulai Rp90 Ribu Per Bulan

Ancaman Sanksi dan Standar Internasional

Keputusan SPBU swasta seperti VIVO dan APR untuk menolak BBM Pertamina ini mengindikasikan adanya pertimbangan yang lebih kompleks, salah satunya terkait kepatuhan terhadap standar produk global dan potensi risiko trade sanction (sanksi perdagangan) jika spesifikasi bahan bakar yang mereka gunakan tidak sesuai dengan standar internasional yang mereka adopsi.

Meskipun Pertamina menyambut baik semangat kolaborasi business-to-business (B2B) ini, penolakan tersebut menunjukkan bahwa isu stok bukan sekadar masalah ketersediaan, melainkan juga masalah spesifikasi teknis produk yang ketat di pasar BBM non-subsidi.

Mundurnya SPBU swasta dari kesepakatan ini kembali menyoroti tantangan pemenuhan stok BBM di tengah kebijakan pembatasan impor.

Pertamina segera mencari solusi untuk menyediakan base fuel tanpa kandungan etanol atau dengan spesifikasi lain yang dapat diterima, agar krisis stok di SPBU swasta bisa benar-benar teratasi (**) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
A