Banten

Siswa Waswas Konsumsi MBG, SPPG Perketat Pengawasan di Dapur

A. Zaki Iskandar | 25 September 2025, 15:46 WIB
Siswa Waswas Konsumsi MBG, SPPG Perketat Pengawasan di Dapur

AKURAT BANTEN - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah belakangan menuai kekhawatiran di kalangan siswa. Hal ini dipicu sejumlah kasus keracunan makanan di berbagai daerah.

Fikri, siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Tangerang, mengaku waswas mengonsumsi MBG yang dibagikan di sekolahnya. Ia menyebut, menu sayuran kerap basi ketika sampai di sekolah.

"Sejujurnya takut ada yang basi doang, makanya kadang suka enggak dimakan sayurnya," kata Fikri, Kamis (25/09/2025).

Baca Juga: Bukan Cuma Ngarai Sianok, Ini 4 Hidden Gem di Bukittinggi, 'Anti-Mainstream' yang Bikin Ketagihan!

Orang tua Fikri juga kerap mengingatkan agar anaknya berhati-hati saat menyantap makanan gratis tersebut.

Kekhawatiran serupa disampaikan Mahesa, siswa lain di sekolah yang sama. Ia mengatakan jarang menyantap MBG karena rasa makanan yang dianggap kurang enak serta kondisi menu yang sering basi.

“Dengan adanya fenomena keracunan, ada kekhawatiran juga. MBG itu dimasaknya malam, kita makan pas sudah siang jadi sayurnya sudah bau,” ujarnya.

Baca Juga: Bukan Kaleng-kaleng! Prabowo Gandeng Mahfud MD, DPR Dukung Penuh Masuk Komite Reformasi Polri

Kendati, kata Mahesa, para siswa tidak pernah melayangkan protes ke pihak sekolah. Menurutnya, kendali sepenuhnya berada pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPH).

Karenanya, Ia berharap pemerintah lebih selektif memilih penyedia jasa agar tujuan program untuk meningkatkan gizi siswa dan menekan angka stunting bisa tercapai.

“Jangan vendor yang hanya cari untung. Ini soal keselamatan anak-anak,” tegasnya.

Baca Juga: IFP Kota Tangerang: Bayang Korupsi Dibalut Digitalisasi Pendidikan

Sementara itu, Koordinator SPPG Kabupaten Tangerang, Priyo, mengatakan pihaknya akan melakukan upaya antisipasi proses distribusi agar kualitas makanan lebih terjaga.

Selain itu, SPPG juga menerapkan sejumlah langkah antisipasi, seperti memperketat pengawasan terhadap proses pengolahan, penerimaan bahan baku, hingga kebersihan dapur. Guru piket di sekolah pun diimbau untuk tidak menyajikan menu yang dianggap kurang layak.

"Jika ada menu yang kurang baik jangan dikonsumsi, diimbau ke guru piket yang menerima di hari itu agar tidak dikonsumsi," kata Priyo saat dikonfirmasi, Kamis (25/09/2025).

Priyo menjelaskan, setiap dapur diwajibkan menyimpan sampel makanan yang didistribusikan ke penerima manfaat. Upaya ini dilakukan sebagai bahan pemeriksaan apabila suatu saat terjadi kasus keracunan.

"Bilamana ada kasus keracunan bisa dicek dari sampel itu," katanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.