Perang Tarif Memanas: Xi Jinping Balas Telak Trump, Dunia Dagang Bergejolak!

AKURAT BANTEN – Gelombang ketegangan perdagangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat (AS) dan China, kembali mencapai puncaknya.
Presiden China Xi Jinping akhirnya angkat bicara menanggapi kebijakan kenaikan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Dalam pernyataan publik pertamanya pada Jumat (11/4), Xi Jinping dengan tegas menyatakan bahwa China tidak gentar menghadapi "tarif gila" yang dilancarkan oleh Gedung Putih.
Baca Juga: GEGER BINTARO, TANGSEL: Upaya Kubur Bayi di Balik Tanggul Boulevard, Pelaku Tertangkap!
"Selama lebih dari 70 tahun, China selalu mengandalkan kemandirian dan kerja keras, tidak pernah mengandalkan pemberian siapa pun, apalagi takut akan penindasan yang tak masuk akal," ujar Xi Jinping kepada Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez di Beijing, sebagaimana dilansir oleh CCTV.
Xi Jinping menekankan bahwa terlepas dari perubahan lanskap global, China akan tetap teguh pada prinsip kemandirian, mempertahankan tekad yang kuat, serta fokus pada pembangunan internal.
"Tidak ada pemenang dalam perang dagang, dan melawan dunia hanya akan mengarah pada isolasi diri," tegasnya, menyiratkan kekecewaan mendalam atas langkah agresif AS.
Komentar pedas ini muncul setelah Trump secara mengejutkan menaikkan tarif impor untuk produk-produk asal China menjadi 145 persen.
Kebijakan yang efektif sejak 9 April ini mengalami kenaikan signifikan dari angka sebelumnya yang berada di level 125 persen.
Langkah drastis AS ini tentu saja memicu respons keras dari Beijing.
Baca Juga: OKNUM BRIGADIR SADIS! Nyawa Bayi Tak Berdaya Direnggut Ayah Sendiri, Karir Polisi Hancur Seketika
China Balas dengan Tarif Setara, Ultimatum Dilayangkan
Tak ingin menjadi pihak yang terus menerus ditekan, China dengan sigap mengambil langkah balasan.
Dilansir dari Reuters pada hari yang sama, Beijing mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 125 persen untuk barang-barang impor yang berasal dari Amerika Serikat.
Kebijakan ini secara jelas merupakan respons setimpal atas tindakan proteksionis yang diterapkan oleh pemerintahan Trump.
Kementerian Keuangan China dalam pernyataannya mengecam keras kebijakan tarif tinggi AS, menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip perdagangan internasional.
"Pemberlakuan tarif yang sangat tinggi oleh AS terhadap Tiongkok secara serius melanggar aturan ekonomi dan perdagangan internasional, bertentangan dengan prinsip-prinsip ekonomi dasar dan akal sehat, dan merupakan tindakan intimidasi dan pemaksaan sepihak," demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.
Lebih lanjut, Kementerian Keuangan China bahkan melontarkan pernyataan pedas yang meramalkan dampak negatif kebijakan AS terhadap perekonomian global.
Baca Juga: BOGOR BERGETAR! Gempa Dangkal M 4,1 Guncang, Belasan Bangunan Dilaporkan Rusak, Ini Daftarnya!
Mereka menyebut bahwa tarif tinggi yang diterapkan Trump pada akhirnya akan menjadi "bahan tertawaan dalam sejarah ekonomi dunia."
Menariknya, Beijing juga memberikan sinyal kuat bahwa respons kali ini mungkin menjadi yang terakhir.
China menyatakan tidak akan lagi menanggapi jika Trump kembali menaikkan tarif untuk barang-barang asal Negeri Tirai Bambu yang masuk ke AS.
"Jika AS terus memainkan permainan angka dengan tarif, China tidak akan menanggapi," tegas pernyataan tersebut, mengindikasikan batas kesabaran dan potensi eskalasi yang lebih dalam.
Harapan Trump di Tengah Eskalasi, Dampak Global Mengintai
Di sisi lain, seperti yang dilaporkan oleh BBC, tarif baru yang diterapkan China terhadap barang-barang AS kini setara dengan tarif yang saat ini dikenakan AS terhadap produk-produk China.
Kendati tensi perdagangan meningkat tajam, Presiden Trump dikabarkan masih menyimpan harapan untuk mencapai kesepakatan dengan Beijing.
Ia bahkan menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan tersebut akan "berakhir dengan hasil yang sangat baik bagi kedua negara."
Perjalanan perang tarif antara AS dan China memang telah berlangsung cukup lama dan penuh liku.
Ketika Trump pertama kali mengumumkan skema tarif impornya, China dikenai tarif timbal balik sebesar 34 persen.
Beijing kemudian membalas dengan mengenakan tarif yang sama terhadap barang-barang Amerika.
Eskalasi terus berlanjut, di mana AS menaikkan tarif hingga total 104 persen, yang kemudian direspon China dengan kenaikan tarif menjadi 84 persen.
Hingga saat ini, sebelum kenaikan terbaru, tarif AS terhadap barang-barang China telah mencapai 125 persen.
Dengan tambahan tarif awal sebesar 20 persen, total tarif yang kini harus dihadapi oleh produk China yang masuk ke AS mencapai angka fantastis, 145 persen.
Kondisi ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran besar akan dampak negatif terhadap rantai pasok global, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia secara keseluruhan.
Baca Juga: Cek Rekening Bank DKI Sekarang! Sembako KJP Cair Sejak 8 April 2025, Segini Uangnya
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Pernyataan keras dari Xi Jinping dan langkah balasan tarif dari China jelas menunjukkan bahwa Beijing tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan dari Washington.
Ultimatum untuk tidak lagi menanggapi kenaikan tarif lebih lanjut juga mengindikasikan perubahan strategi dan potensi kebuntuan dalam negosiasi perdagangan.
Meskipun Trump masih menyimpan harapan akan adanya kesepakatan, eskalasi tarif yang terus berlanjut ini menciptakan ketidakpastian yang besar bagi pelaku bisnis di seluruh dunia.
Baca Juga: Titiek Puspa Meninggal karena Kanker Serviks, Coba Makan Ini Agar Kanker Serviks Sembuh
Konsumen di kedua negara kemungkinan besar akan merasakan dampak langsung dari kenaikan harga barang, sementara perusahaan-perusahaan multinasional harus bersiap menghadapi perubahan signifikan dalam rantai pasok dan strategi perdagangan mereka.
Dunia kini menanti dengan cemas langkah selanjutnya dari kedua negara adidaya ini.
Apakah harapan Trump untuk mencapai kesepakatan akan terwujud, ataukah perang tarif yang semakin sengit ini akan menyeret ekonomi global ke dalam jurang ketidakstabilan yang lebih dalam? Waktu akan menjawabnya (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






