Banten

Bukan Lagi Calistung! Bunda PAUD Tangerang Ubah Total Cara Belajar Anak: Apa Itu Deep Learning?

Abdurahman | 11 Februari 2026, 17:15 WIB
Bukan Lagi Calistung! Bunda PAUD Tangerang Ubah Total Cara Belajar Anak: Apa Itu Deep Learning?

AKURAT BANTEN – Selama bertahun-tahun, tolok ukur keberhasilan anak masuk Sekolah Dasar (SD) sering kali dipatok pada kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung (Calistung).

Namun, paradigma lama ini mulai "dihancurkan" di Kota Tangerang.

Bunda PAUD Kota Tangerang, Zuraidi Muzakir, kini tengah menggencarkan transformasi besar-besaran dengan memperkenalkan metode Deep Learning.

Kebijakan ini merupakan langkah berani untuk mengalihkan fokus dari sekadar hafalan mekanis menuju pemahaman yang bermakna.

Baca Juga: Waspada! Sungai Cisadane Tercemar Racun Pestisida, Warga Dilarang Konsumsi Ikan 'Mabuk'!

Mengapa Calistung Saja Tidak Cukup?

Banyak orang tua merasa bangga jika anaknya sudah bisa membaca di usia 4 tahun.

Namun, Bunda PAUD menekankan bahwa mengejar hasil instan tanpa membangun fondasi mental bisa berdampak buruk jangka panjang.

"Pendidikan anak usia dini bukan tentang seberapa cepat mereka bisa menghafal huruf, tapi seberapa dalam mereka memahami dunia di sekitar mereka," ungkapnya. Inilah alasan

mengapa Deep Learning hadir sebagai solusi untuk menciptakan transisi PAUD ke SD yang lebih menyenangkan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Main Air, Aksi Heroik Siswa PAUD Putri Ayu di Markas Damkar Cibodas Bikin Gemas!

Apa Itu Deep Learning? 3 Pilar yang Mengubah Cara Belajar

Mungkin Anda bertanya, apa bedanya metode ini dengan cara belajar biasa? Deep Learning di Kota Tangerang bertumpu pada tiga elemen kunci yang disebut-sebut sebagai "resep rahasia" pendidikan masa depan:

  • Mindful Learning (Belajar dengan Sadar): Anak diajak untuk hadir sepenuhnya. Sebelum mulai, ada sesi meditasi ringan atau refleksi untuk menenangkan pikiran. Anak yang tenang adalah anak yang siap menyerap ilmu.
  • Meaningful Learning (Belajar yang Bermakna): Tidak ada lagi hafalan kosong. Anak belajar konsep melalui hal yang mereka lihat sehari-hari. Belajar matematika bukan lewat kertas, tapi lewat menghitung jumlah buah di keranjang.
  • Joyful Learning (Belajar yang Menyenangkan): Jika anak tidak tertawa atau penasaran, maka proses belajar dianggap belum berhasil. Kegembiraan adalah bahan bakar utama otak untuk berpikir kritis.

Baca Juga: Pejabat Bea Cukai Terseret! Daftar Lengkap 11 Tersangka Korupsi CPO yang Rugikan Negara Rp14 Triliun

Meditasi di Ruang Kelas: Tren Baru PAUD Tangerang

Salah satu yang paling menarik dari gerakan ini adalah integrasi ketenangan batin dalam kurikulum. Anak-anak diajak untuk mengenali emosi mereka sendiri.

Dengan kondisi psikologis yang stabil (well-being), anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh (resilience) dan tidak mudah stres saat menghadapi pelajaran yang lebih berat di tingkat SD nanti.

Baca Juga: Di Balik Sosok AKBP Didik Putra Kuncoro: Kapolres Bima yang Terseret Pusaran Kasus Sabu Anak Buah

Dampak Bagi Masa Depan Kota Tangerang

Transformasi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan strategi matang untuk mendukung kebijakan pusat dalam menciptakan transisi PAUD ke SD yang tidak lagi membebani anak.

Kota Tangerang ingin memastikan bahwa setiap lulusan PAUD memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang lahir dari rasa ingin tahu, bukan paksaan.

Bagi para guru dan orang tua di Tangerang, ini adalah undangan untuk kembali ke fitrah pendidikan: Menumbuhkan manusia, bukan sekadar mencetak mesin penghafal (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman