Balita Kerap Ditinggal Sendiri di Jatinegara, Polisi Dalami Dugaan Penelantaran Anak

Akurat Banten - Unit Perlindungan Perempuan dan Anak atau PPA Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur tengah menelusuri secara mendalam dugaan penelantaran anak dalam kasus balita yang disebut sering ditinggal sendirian di rumah kontrakan kawasan Rawa Bunga, Jatinegara, Jakarta Timur.
Kasus ini menjadi perhatian serius aparat kepolisian karena menyangkut hak dasar anak yang seharusnya mendapatkan pengasuhan, perlindungan, serta lingkungan tumbuh kembang yang layak sejak usia dini.
Kepala Unit PPA Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur, Komisaris Polisi Sri Yatmini, menegaskan bahwa proses pendalaman masih terus berjalan untuk memastikan ada atau tidaknya unsur pidana dalam peristiwa tersebut.
“Ini masih dalam pendalaman kami. Tentunya saya sudah edukasi bahwa tidak menyekolahkan saja, anak tidak disekolahkan saja, itu sudah masuk perlakuan salah atau penelantaran,” ujar Sri Yatmini.
Menurut Sri, pihak kepolisian tidak bisa gegabah dalam menetapkan pasal, sehingga setiap keterangan dan fakta di lapangan harus dikaji secara menyeluruh dan objektif.
Ia menjelaskan bahwa hasil sementara menunjukkan adanya indikasi kuat pelanggaran hak anak, terutama terkait tanggung jawab orang tua terhadap pengasuhan dan pendidikan.
Baca Juga: Ayo! KAUM MUDA: Mau Skill Gratis Dan Dibayar? Ini Cara Daftar Pelatihan BLK Kota Tangerang Lewat HP!
Dalam kasus tersebut, seorang anak berusia sekitar tujuh tahun diduga harus mengasuh dua adiknya yang masih berusia balita tanpa pendampingan orang dewasa.
Kondisi ini, kata Sri, dapat dikategorikan sebagai bentuk eksploitasi anak yang dilakukan oleh orang tua.
“Anak balita yang tujuh tahun ini mengasuh kedua adiknya saja, itu orang tuanya sudah melakukan eksploitasi,” katanya.
Sri menambahkan bahwa beban tanggung jawab yang terlalu berat pada usia dini dapat berdampak serius terhadap kondisi mental dan psikologis anak.
Ia menilai tekanan tersebut berpotensi membuat anak mengambil keputusan atau tindakan berbahaya karena tidak mampu mengelola situasi yang dihadapinya.
“Oleh karena itu, tindakan orang tua ini bisa berdampak pada psikis anak, dan kemungkinan mengakibatkan dia mengambil jalan pintas, itu nanti akan kami dalami, dan ada pidananya,” ujar Sri.
Berdasarkan keterangan awal yang dihimpun penyidik, ibu dari ketiga anak tersebut diketahui bekerja di wilayah Makassar, Jakarta Timur.
Kesibukan bekerja diduga menjadi alasan sang ibu kerap meninggalkan anak-anaknya dalam kondisi tanpa pengawasan yang memadai.
“Bukan karena mengejar sesuatu, tapi memang ibunya bekerja. Dan itu sering, memang sering,” ungkap Sri.
Kebiasaan tersebut, lanjut Sri, bukanlah kejadian satu atau dua kali, melainkan sudah berulang dan diketahui oleh warga sekitar.
Para tetangga di lingkungan tempat tinggal anak-anak itu disebut sudah sangat familiar dengan situasi tersebut.
Baca Juga: Peluang Jadi ASN Terbuka Lebar, PPPK KemenHAM 2026 Bisa Daftar Online Lewat HP
“Tetangga itu peduli, sangat peduli. Makanya tetangga itu sudah hafal dengan kejadian itu,” ujar Sri.
Ia menggambarkan kondisi fisik anak-anak yang memprihatinkan dan tampak kurang terawat.
“Memang cukup kurus-kurus anaknya, tidak terurus. Sampai saya gendong, luar biasa. Anak segitu mandi, makan saja mungkin belum bisa,” katanya.
Kepedulian warga sekitar terlihat dari upaya mereka membantu memenuhi kebutuhan dasar anak-anak tersebut.
Sri menyebut, para tetangga kerap memberikan makanan karena merasa iba melihat kondisi ketiga anak itu.
“Jadi tetangganya itu yang peduli suka melemparkan makanan,” tuturnya.
Akses lingkungan tempat tinggal yang sempit juga menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak tersebut.
“Di sana aksesnya hanya lorong untuk jalan kaki, tidak bisa motor,” ujar Sri.
Dalam keseharian, anak-anak itu kerap bergantung pada bantuan lingkungan sekitar untuk sekadar makan dan bertahan hidup.
“Mereka bergandengan dengan tetangga, suka minta makanan dari sana-sini,” katanya.
Selain menelusuri aspek hukum, Unit PPA Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur juga memastikan adanya pendampingan psikologis bagi para korban.
Pendekatan yang dilakukan tidak semata-mata penegakan hukum, melainkan juga fokus pada pemulihan kondisi mental dan emosional anak.
“Semua masih kami dalami,” ujar Sri.
Kasus ini mencuat ke publik setelah salah satu balita berusia tiga tahun berinisial AC mengalami kecelakaan serius.
Balita tersebut terjatuh dari balkon lantai dua rumah kontrakan tempat mereka tinggal.
Akibat kejadian itu, AC mengalami luka di bagian dagu hingga harus mendapatkan jahitan.
Peristiwa tersebut semakin memperkuat dugaan adanya kelalaian pengawasan terhadap anak-anak di rumah tersebut.
Polisi kini terus mengumpulkan bukti dan keterangan tambahan untuk memastikan langkah hukum yang akan diambil selanjutnya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 2Terungkap Gugatan Surat Kesetaraan Pendidikan Gibran Ternyata Berawal dari Keluhan Calon Murid
- 3Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 4Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 5Belum Mahir Menyetir, Sopir Pickup SPPG Cibaliung 2 Tabrak 3 Relawan Sampai Terkapar
- 6Jika Gibran Didiskualifikasi MK, 3 Nama Ini Muncul Jadi Wapres Pengganti, Ada AHY dan Anies
- 7Terungkap Dokumen Grade 12 Gibran di UTS Insearch Kembali Dipersoalkan, Disebut Bukan Ijazah SMA
- 8Pendidikan Gibran Jadi Sorotan, Agus Yunanto Bongkar Pertanyaan Besar soal SMK Akuntansi
- 9Dedi Mulyadi Masuk Bursa Pilpres 2029, Tapi Ada Satu Hambatan Besar yang Disorot Pengamat
- 10Nama Purbaya Muncul di Bursa Capres 2029, Sang Anak Malah Ungkap Pertanyaan soal Cawapres








