Gelombang ISPA hingga Penyakit Kulit Mengintai Pengungsi Padang Pascabencana

Akurat Banten - Tren gangguan kesehatan mulai muncul di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Kota Padang, Sumatera Barat, setelah petugas kesehatan menemukan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan berbagai keluhan kulit di sejumlah posko pengungsian.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Srikurnia Yati, mengungkapkan bahwa temuan tersebut diperoleh dari pemantauan rutin yang dilakukan setiap hari di lokasi terdampak.
“Ada kenaikan kasus dan yang paling banyak ditemukan saat ini adalah ISPA,” ujarnya.
Menurut Srikurnia, lonjakan kasus ISPA tak lepas dari situasi cuaca yang tidak menentu dan kondisi fisik para pengungsi yang melemah pascabencana.
Ia menambahkan bahwa lingkungan yang dipenuhi debu akibat lumpur yang mengering juga memperburuk kualitas udara di sekitar lokasi.
“Debu ini sangat mengganggu pernapasan, jadi warga sebaiknya tetap memakai masker selama berada di area bencana,” kata dia.
Baca Juga: Ekspor RI Diyakini Tetap Tancap Gas di 2025 Meski Bayang-Bayang Tarif Trump Menguat
Untuk menekan penyebaran penyakit, Dinkes Kota Padang terus memberikan edukasi kesehatan kepada warga, terutama terkait pentingnya menjaga asupan cairan.
Di pengungsian, warga memang mendapatkan suplai air mineral dalam kemasan, namun jumlah konsumsi kerap lebih sedikit daripada kebutuhan ideal harian.
Padahal, menurut Srikurnia, tubuh tetap membutuhkan sedikitnya dua liter air setiap hari agar daya tahan tetap terjaga.
Keterbatasan logistik membuat kebutuhan itu sulit dipenuhi sehingga imunitas warga semakin rentan.
Selain menjaga hidrasi, Srikurnia juga mendorong warga di pengungsian untuk tetap berupaya menjalankan pola hidup sehat, mulai dari istirahat yang cukup hingga mengonsumsi makanan yang mengandung buah dan sayuran.
Tak hanya ISPA, kasus penyakit kulit juga menunjukkan tren peningkatan di sejumlah titik pengungsian.
Keluhan itu muncul seiring berubahnya sumber air bersih yang digunakan warga setelah bencana melanda.
Sebelumnya, masyarakat bergantung pada pasokan air PDAM, namun aliran tersebut terhenti setelah banjir dan longsor.
Baca Juga: Terungkap! Peran Istri di Balik Keajaiban Sembuhnya Epy Kusnandar dari Penyakit Mematikan
Akibatnya, warga memilih memanfaatkan air sumur atau sumber lain yang kualitasnya tidak terjamin.
“Air yang keruh atau tidak disaring dengan baik berpotensi besar menimbulkan penyakit kulit,” jelas Srikurnia.
Ia mengimbau semua warga pengungsian untuk selalu memastikan air yang digunakan telah disaring sebelum dipakai untuk mandi maupun kebutuhan lain.
Dengan ribuan warga yang hingga kini masih bertahan di posko pengungsian, Dinas Kesehatan menegaskan bahwa pemantauan dan layanan kesehatan akan terus ditingkatkan guna mencegah penyebaran penyakit lebih luas di tengah pemulihan pascabencana.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 2Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 3Jika Gugatan Gibran Dikabulkan MK, Yusril Bicara Dampaknya, ‘Saya Tidak Bisa Membayangkan’
- 4Belum Mahir Menyetir, Sopir Pickup SPPG Cibaliung 2 Tabrak 3 Relawan Sampai Terkapar
- 5Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 6Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 7Jika Gibran Didiskualifikasi MK, 3 Nama Ini Muncul Jadi Wapres Pengganti, Ada AHY dan Anies
- 8Terungkap Dokumen Grade 12 Gibran di UTS Insearch Kembali Dipersoalkan, Disebut Bukan Ijazah SMA
- 9Gugatan Gibran di MK Disebut KPU Bisa Masuk Ranah Pemakzulan, Ini Alasannya
- 10Sidang Gibran di MK Bikin Terkejut, KPU Akui Tak Cek Langsung Dokumen Pendidikan









