Banten

Fenomena Warga Pilih Damkar Ketimbang Polisi Bikin Menko Yusril Angkat Bicara

Moehamad Dheny Permana | 25 November 2025, 08:22 WIB
Fenomena Warga Pilih Damkar Ketimbang Polisi Bikin Menko Yusril Angkat Bicara

Akurat Banten - Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menyampaikan keheranannya atas kebiasaan baru masyarakat yang lebih nyaman menghubungi petugas pemadam kebakaran dibandingkan aparat kepolisian ketika menghadapi berbagai situasi darurat.

"Saya membaca artikel masyarakat kalau ada apa-apa lebih senang menghubungi damkar dari pada menghubungi polisi," ucapnya dalam Kuliah Umum di Universitas Muslim Indonesia Makassar.

Yusril menyebut tren tersebut bukan sekadar persoalan kecil, tetapi tanda perubahan perilaku yang perlu diperhatikan serius oleh lembaga penegak hukum.

Ia menuturkan bahwa kecenderungan warga melapor ke pemadam kebakaran bukan hanya terjadi saat ada bangunan terbakar, tetapi juga untuk urusan yang sama sekali tidak berhubungan dengan api.

Menurutnya, kejadian seperti warga terjebak di teralis, penemuan hewan liar, hingga situasi sepele lainnya, justru membuat masyarakat lebih percaya menghubungi pemadam kebakaran dibanding polisi.

“Kalau ada ular, ada buaya, yang dipanggil damkar, bukan polisi,” kata Yusril.

Ia bahkan menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus, petugas pemadam kebakaran bisa lebih sigap merespons dan mengatasi hewan buas dibandingkan polisi, sesuatu yang membuatnya semakin mempertanyakan perubahan pola kepercayaan masyarakat.

“Polisi dipanggil, polisi tidak bisa, damkar bisa menangkap buaya, saya juga heran-heran tapi itu yang terjadi,” tambahnya.

Yusril menilai kondisi tersebut terjadi karena masyarakat merasa lebih aman dan nyaman berinteraksi dengan petugas pemadam kebakaran.

Baca Juga: Dua Pemuda Diciduk Usai Todong Sopir Boks di Jakbar, Polisi Bergerak Kilat

Menurutnya, ada persepsi bahwa pemadam kebakaran tidak menimbulkan tekanan atau rasa takut, berbeda dengan stigma yang kadang melekat pada institusi kepolisian.

Ia menekankan perlunya pemulihan citra polisi dengan menghadirkan rasa melindungi dan mengayomi masyarakat, bukan menimbulkan kekhawatiran.

Ia mengingatkan bahwa aparat seharusnya mampu memberikan ketenangan, bukan kecemasan, saat publik mencari pertolongan.

“Nah, itu yang harus kita pikirkan sekarang, karena dalam hal pelindung dan pengayom terasa kurang,” ujarnya.

Yusril juga menyoroti berbagai kritik terkait penegakan hukum, khususnya yang ditujukan kepada penyidik kepolisian yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi harapan publik.

Menurutnya, masukan tersebut perlu diterima sebagai bahan evaluasi untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap aparat negara.

“Dan semua itu, kita terima saran-saran itu untuk kita perbaiki,” ungkapnya.

Ia berharap, reformasi kepolisian tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi benar-benar diwujudkan melalui perubahan sikap dan pelayanan yang lebih humanis.

Baca Juga: Tesla Rp2 Miliar Pakai Pelat Dinas Ramai Dibahas, Benyamin Ngaku Pemkot Gak Punya Tesla

Yusril optimistis kondisi ke depan dapat lebih baik jika institusi kepolisian mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat yang semakin kritis.

Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa perubahan perilaku publik yang lebih memilih memanggil pemadam kebakaran adalah cermin bahwa negara perlu hadir lebih efektif dalam memberi rasa aman.

Ia mengajak para mahasiswa hukum untuk ikut berpikir tentang bagaimana menciptakan institusi penegak hukum yang lebih dipercaya publik.

“Semoga di masa depan keadaannya lebih baik,” tutupnya.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.