Banten

Ledakan Industri Alas Kaki Dorong Optimisme Ekonomi Nasional

Moehamad Dheny Permana | 15 November 2025, 08:11 WIB
Ledakan Industri Alas Kaki Dorong Optimisme Ekonomi Nasional

Akurat Banten - Industri alas kaki kembali mencuri perhatian setelah Komisi VII DPR RI menegaskan sektor ini sebagai salah satu kekuatan penting yang menopang perekonomian Indonesia.

“Industri padat karya seperti alas kaki terbukti membuka peluang kerja dalam jumlah besar,” ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa bisnis alas kaki tidak hanya berperan dalam arus ekonomi, tetapi juga menyelamatkan banyak masyarakat dari ancaman pengangguran.

Sebagai sektor yang mengandalkan tenaga kerja dalam skala besar, industri alas kaki dianggap mampu menjaga stabilitas sosial melalui penciptaan lapangan kerja baru.

Chusnunia menjelaskan bahwa keberadaan pabrik-pabrik sepatu dan produk kulit memberikan kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi di berbagai daerah sentra industri.

“Kalau daya saingnya terus diperkuat, industri ini bisa menjadi tulang punggung ekonomi kita untuk jangka panjang,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa Komisi VII telah menginisiasi Panitia Kerja Daya Saing Industri untuk mengawal penguatan sektor tersebut agar tetap kompetitif di pasar global.

Meski demikian, industri alas kaki di Indonesia tak luput dari tantangan besar yang tengah bergulir.

Salah satunya berkaitan dengan tarif perdagangan dari Amerika Serikat yang disebut-sebut dapat memengaruhi kinerja ekspor pelaku industri lokal.

Selain itu, persoalan kawasan industri juga menjadi sorotan karena adanya temuan indikasi paparan radioaktif di beberapa titik.

“Kami sudah meminta Kementerian Perindustrian untuk menindaklanjuti masalah tersebut secara menyeluruh,” kata Chusnunia.

Baca Juga: SENTUHAN PRABOWO: Ratusan Becak Listrik Gratis dari Kantong Pribadi Presiden Mengubah Nasib Tukang Becak Tua di Tangerang

Sementara itu, Kementerian Perindustrian mencatat pertumbuhan positif pada industri kulit, barang kulit, dan alas kaki hingga kuartal ketiga 2025.

Pertumbuhan tersebut mencapai 4,87 persen secara customer to customer, menunjukkan peningkatan permintaan dan aktivitas produksi.

Di sisi lain, pertumbuhan kuartal ke kuartal berada di angka 0,72 persen yang menandakan tetap adanya pergerakan meski kondisi global penuh ketidakpastian.

Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin, Sri Bimo Pratomo, menyampaikan bahwa sektor ini menyerap tenaga kerja sebanyak 921.086 orang.

Tenaga kerja tersebut tersebar di 484 perusahaan skala menengah besar yang selama ini menjadi pondasi kekuatan produksi alas kaki nasional.

Data terbaru menunjukkan kapasitas industri alas kaki Indonesia sepanjang 2024 mencapai angka signifikan.

Total kapasitas mencapai 1.527 juta pasang, dengan 880 juta pasang merupakan hasil produksi dalam negeri.

Sebanyak 601 juta pasang berhasil menembus pasar ekspor, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam perdagangan alas kaki dunia.

Di sisi lain, impor tercatat sebanyak 192 juta pasang, sementara konsumsi domestik mencapai 471 juta pasang yang menandakan tingginya kebutuhan dan daya beli masyarakat.

Melihat perkembangan tersebut, industri alas kaki dianggap berpotensi menjadi jangkar ekonomi baru jika tantangan-tantangan yang ada dapat teratasi dengan cepat.

Baca Juga: KAI Siapkan Lompatan Besar Bangun Kereta di Luar Jawa Mulai 2026

Pemerintah bersama DPR kini tengah mendorong strategi penguatan daya saing yang lebih komprehensif untuk memastikan sektor ini tetap berlari kencang di tengah persaingan global.

Dengan fondasi produksi yang kuat, pasar ekspor yang luas, serta penyerapan tenaga kerja yang masif, industri alas kaki Indonesia digadang-gadang menjadi salah satu motor ekonomi yang terus relevan untuk masa depan.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.