SBY Bongkar Alasan Indonesia Hengkang dari OPEC, Bukan Lagi Negara Kaya Minyak

Akurat Banten - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkapkan fakta menarik di balik keputusan Indonesia keluar dari keanggotaan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Menurut SBY, keputusan itu diambil karena Indonesia sudah tidak lagi berstatus sebagai negara pengekspor minyak, melainkan menjadi pengimpor.
“Kalau mindsetnya kita ini kaya minyak, bisa berbuat apa saja, lalu masuk OPEC, saat kita jadi net importer, pasti keliru,” ujar SBY dalam acara Delivering Impactful Energy Transition yang digelar di Jakarta.
SBY menjelaskan, ketika dirinya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada 1999, produksi minyak Indonesia masih tinggi, mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.
Namun, seiring waktu, angka tersebut terus menurun hingga membuat keanggotaan Indonesia di OPEC tidak lagi relevan.
Situasi itu menjadi salah satu pertimbangan utama saat Indonesia akhirnya memutuskan untuk hengkang dari organisasi yang dikenal sebagai kartel minyak dunia tersebut pada masa pemerintahannya.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Tanggapi Luhut soal MBG, Sebut Bakal Tetap Tarik Dana yang Nganggur
“Jadi buang pemikiran bahwa kita ini kaya minyak, tergantung pada minyak bumi, dan sebagainya. Itu justru menghambat kita,” tegasnya.
Ia menilai Indonesia perlu keluar dari pola pikir lama yang terlalu bergantung pada sumber daya fosil.
SBY juga menyoroti pentingnya percepatan transisi energi ke sumber daya baru dan terbarukan agar Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.
“Kita harus shift betul, pindah ke yang sifatnya renewable, betul-betul renewable,” katanya menambahkan.
Di sisi lain, data terbaru dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan capaian produksi minyak nasional mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Pada Juni 2025, produksi minyak Indonesia mencapai 608,1 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD), atau sekitar 100,5 persen dari target APBN 2025 sebesar 605 MBOEPD.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan hal yang cukup langka, mengingat sejak 2008 hingga 2024 target lifting minyak selalu meleset dari rencana.
“Kita lihat Januari di 599,6, sampai Juni sudah 608,1 BOPD. Target APBN 605. Banyak orang bilang enggak mungkin tercapai, tapi ternyata bisa,” tutur Bahlil dalam konferensi pers Capaian Kinerja Semester I Tahun 2025 di Gedung Kementerian ESDM, Senin, 11 Agustus.
Selain minyak, produksi gas bumi nasional juga menunjukkan tren positif.
Pada Juni 2025, produksi gas mencapai 1.146,4 MBOEPD, melampaui target dengan realisasi 114 persen.
Rata-rata produksi gas pada semester I 2025 bahkan mencapai 1.199,7 MBOEPD.
Secara keseluruhan, akumulasi produksi minyak dan gas bumi semester I 2025 menembus 1.754,5 MBOEPD, jauh di atas target APBN sebesar 1.610 MBOEPD dengan rata-rata pencapaian 111,9 persen.
Capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor energi nasional di tengah upaya besar menuju transisi energi bersih.
Baca Juga: Roy Suryo dan CS Klaim Kantongi Salinan Ijazah Jokowi dari KPU, Sebut Jadi Bukti Baru
Meski demikian, SBY mengingatkan bahwa peningkatan produksi tidak boleh membuat Indonesia kembali terlena dengan bayangan kejayaan masa lalu sebagai negara kaya minyak.
Fokus utama, menurutnya, harus tetap diarahkan pada pembangunan energi masa depan yang berkelanjutan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Bawa Sabu 26 Kg, Dua Terdakwa Kasus Narkoba di Tangerang Dituntut Hukuman Mati
- 2Bukan Sekadar Menopang Tulang, Implan Medis Ini Dikembangkan agar Bisa Memulihkan Lapisan Pelindungnya
- 3Ballon d’Or 2026 Segera Terjawab! Ini Jadwal Pengumuman, Jam Tayang WIB, dan Kandidat yang Berebut Trofi
- 4Polisi Gagalkan Peredaran 120 Cartridge Vape Mengandung Etomidate di Apartemen Pacific Garden
- 5Harry Kane Ungkap Kebahagiaan Raih Ballon d'Or 2026, Ini Rekor Golnya Bersama Bayern Munich
- 6Jusuf Kalla Heran Ditantang Buka Buku Nikah, Padahal Hanya Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli!
- 7Uang Pelicin Rp338 Juta di Balik Kredit Fiktif Bank BJB: Polda Banten Bongkar Modus Licik Rekayasa Dokumen, Negara Boncos Rp8,7 Miliar!
- 8Haaland Semprot Donnarumma di Tengah Laga, Blunder Sang Kiper Bikin Man City Tumbang!
- 9Bayern Munich Beri Penghormatan kepada Harry Kane, 73 Bola Sepak Jadi Simbol Istimewa
- 10Mbappe Minta Maaf kepada China Usai Komentar Kontroversial, Sejumlah Pihak Ikut Bereaksi






