Ribuan Penerima MBG Jadi Korban Keracunan, Zulhas Tutup Dapur Bermasalah

Akurat Banten - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengambil langkah cepat dengan menutup sementara sejumlah dapur penyedia Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga bermasalah usai munculnya kasus keracunan di berbagai wilayah.
“SPPG yang bermasalah ditutup untuk sementara dilakukan evaluasi dan investigasi,” ujar Zulhas.
Menurutnya, evaluasi tidak hanya difokuskan pada lokasi yang terdampak, tetapi akan diterapkan pada seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pemeriksaan akan menyasar aspek kedisiplinan kerja, standar kualitas makanan, hingga kemampuan para juru masak dalam mengelola menu bergizi.
“Evaluasi tidak hanya di tempat yang terjadi, tetapi di seluruh SPPG,” tegasnya.
Selain itu, seluruh dapur diwajibkan melakukan sterilisasi alat makan, meningkatkan kebersihan sanitasi, memperbaiki kualitas air, serta memastikan pengelolaan limbah berjalan sesuai standar kesehatan.
“Semua dievaluasi dan diinvestigasi,” lanjut Zulhas.
Laporan Badan Gizi Nasional (BGN) menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan.
Sepanjang Januari hingga September 2025, tercatat 70 kasus insiden keamanan pangan, termasuk keracunan massal, yang berdampak pada 5.914 penerima manfaat program MBG.
Sebanyak sembilan kasus terjadi di wilayah Sumatera dengan 1.307 korban, di antaranya di Kabupaten Lebong, Bengkulu, serta Kota Bandar Lampung.
Baca Juga: Ponsel Pegawai Sudin Raib Dicopet Saat Abang None 2025, Aksi Terekam Kamera di TIM
Sementara di Pulau Jawa, tercatat 41 kasus dengan jumlah korban terbesar mencapai 3.610 orang.
Di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara, ditemukan 20 kasus dengan 997 orang terdampak.
Temuan laboratorium mengungkap sumber utama keracunan berasal dari kontaminasi bakteri.
Bakteri e-coli ditemukan pada air, nasi, tahu, dan ayam, sedangkan staphylococcus aureus teridentifikasi pada tempe dan bakso.
Kontaminasi salmonella ditemukan pada ayam, telur, dan sayur, sementara bacillus cereus banyak ditemukan pada menu berbahan mie.
Air yang digunakan pun tidak luput dari masalah, karena mengandung coliform, proteus, klebsiella, hingga PB yang berpotensi menimbulkan keracunan.
Kementerian menilai hasil investigasi ini menjadi alarm bagi seluruh pengelola dapur MBG untuk memperketat pengawasan dan pengendalian mutu.
Baca Juga: Kemenkes Ikut Awasi MBG, Akan Libatkan Puskesmas Hingga Verifikasi Dapur SPPG Diperketat
Program yang awalnya dihadirkan untuk mendukung gizi masyarakat, khususnya anak-anak, kini tengah menghadapi tantangan serius dalam hal keamanan pangan.
Zulhas berharap evaluasi besar-besaran ini mampu memperbaiki kelemahan sistem agar tujuan program kembali ke jalurnya.
“Tujuannya jelas, masyarakat harus sehat, bukan justru sakit karena makanan yang diberikan,” pungkasnya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Gibran Disorot soal Ijazah, Nama Anies Baswedan Muncul! Refly Harun Ungkap Sosok Pengganti Wapres
- 2Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang Perkuat Kapasitas Keluarga dan Pemasaran UMKM di Kelurahan Setu
- 3Ubah Stigma Mahjong, Andrew Herman Gelar Turnamen Berhadiah Rp15 Juta di One District at Puri
- 4Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 5Ansor Tangsel Sukses Gelar Ansor Fest Experience 2026 di Mall, Padukan Syiar dan Kreativitas Pemuda
- 6Belum Selesai Kasus 115 Pelanggaran! Manchester City Terancam Investigasi Baru dan Sanksi Tambahan
- 7Bukan Sekadar Kalah! Alexander Isak Soroti Kesalahan Fatal Liverpool saat Tumbang 2-3 di Istanbul
- 8Comeback Gila Real Madrid Bikin Bellingham Terpukau! Jude Minta Satu Hal Ini Dipertahankan Los Blancos
- 9Ranking Dua Akpol 1998! Ini Perjalanan Karier Ade Ary Syam Indradi hingga Jadi Karoops Polda Metro Jaya
- 10Jokowi dan Roy Suryo Saling Sindir di Sidang Ijazah, Ending Jabat Tangan Ini Bikin Publik Terkejut!






