Banten

Masalah Gigi Masih Tinggi, Dokter Ingatkan Jangan Remehkan Perawatan Sejak Dini

Moehamad Dheny Permana | 10 September 2025, 20:02 WIB
Masalah Gigi Masih Tinggi, Dokter Ingatkan Jangan Remehkan Perawatan Sejak Dini

Akurat Banten - Kondisi kesehatan gigi masyarakat Indonesia ternyata masih jauh dari kata ideal meski edukasi terus digencarkan di berbagai media.

Gigi berlubang, karang gigi yang menumpuk, hingga kebiasaan malas memeriksakan diri ke dokter menjadi pemandangan umum yang akhirnya menimbulkan masalah berulang.

“Edukasi sudah ada di mana-mana, bahkan di media sosial. Tapi pada praktiknya, banyak orang yang abai sehingga gangguan gigi tetap saja muncul,” ujar Head Clinic SMART Dental, drg. Adi.

Adi menjelaskan, kesehatan gigi bukan sekadar urusan estetika. Gigi yang rusak dapat memicu masalah serius bagi tubuh, terutama sistem pencernaan. Ketika gigi tidak mampu mengunyah makanan dengan baik, beban kerja lambung meningkat.

“Kalau makanan tidak hancur sempurna, lambung harus bekerja dua sampai tiga kali lebih berat. Itu yang bisa memicu gangguan pencernaan,” katanya.

Ia menekankan, menyikat gigi dengan cara yang benar merupakan langkah sederhana yang sering diabaikan masyarakat.

Menurutnya, banyak orang hanya membersihkan bagian luar gigi, sementara sisi dalam dibiarkan sehingga plak tetap menumpuk.

Selain kebiasaan menyikat gigi, pemeriksaan rutin juga menjadi kunci penting untuk mencegah kerusakan lebih parah.

Dengan kontrol ke dokter setiap tiga hingga empat bulan sekali, masalah bisa terdeteksi sejak dini.

“Kami selalu mengingatkan pasien untuk menjaga kebersihan gigi sebelum berbicara soal keindahan senyum. Itu fondasi utama yang tidak bisa ditawar,” tegas Adi.

Ia juga menegaskan, peran dokter gigi tidak hanya berhenti pada tahap pengobatan.

Baca Juga: Kadin Nilai Perubahan Kabinet Bisa Perkuat Sektor Riil dan Industri Nasional

Lebih dari itu, dokter gigi harus aktif mendorong pasien untuk melakukan pencegahan.

Pemeriksaan rutin memungkinkan masalah ditangani lebih cepat, lebih sederhana, dan tentunya dengan biaya lebih ringan dibandingkan jika penyakit sudah parah.

Data terbaru memperlihatkan urgensi persoalan ini.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menemukan bahwa 56,9 persen penduduk usia tiga tahun ke atas mengalami masalah gigi dan mulut.

Namun ironisnya, hanya 11,2 persen yang mendapat perawatan dari tenaga medis.

Meski kesadaran masyarakat untuk menyikat gigi meningkat hingga 95,6 persen, kenyataannya hanya 6,2 persen yang melakukannya dengan teknik benar sesuai anjuran.

Fakta ini menunjukkan bahwa frekuensi tidak akan banyak membantu bila caranya keliru.

Fenomena tersebut membuat para ahli menegaskan pentingnya literasi kesehatan gigi sejak dini.

Anak-anak perlu dibiasakan menjaga kebersihan mulut sejak kecil agar terbentuk pola hidup sehat hingga dewasa.

Baca Juga: KPK Ungkap Ada Dugaan Dana BJB 'Mampir' Ke Kantor Eks Gubernur Jabar Ridwan Kamil

“Kalau kebiasaan baik sudah terbentuk sejak kecil, risiko kerusakan gigi bisa ditekan dan masyarakat tidak lagi terbebani biaya perawatan yang mahal,” tutur Adi.

Kesehatan gigi yang baik tidak hanya berdampak pada senyum yang percaya diri, tapi juga kualitas hidup secara menyeluruh.

Menunda perawatan berarti memberi kesempatan masalah kecil berkembang menjadi penyakit besar.

Dengan data dan kondisi di lapangan yang masih memprihatinkan, ajakan para ahli untuk lebih disiplin dalam menjaga kesehatan gigi jelas bukan sekadar peringatan, melainkan kebutuhan yang mendesak.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.