Banten

Usai Kericuhan di Mapolres Jaktim, Pedagang Matraman Kembali Gelar Dagangan

Moehamad Dheny Permana | 1 September 2025, 21:01 WIB
Usai Kericuhan di Mapolres Jaktim, Pedagang Matraman Kembali Gelar Dagangan

Akurat Banten - Aktivitas perdagangan di kawasan Matraman, Jakarta Timur, perlahan kembali pulih setelah sempat terhenti akibat kericuhan yang terjadi di sekitar Markas Polres Metro Jakarta Timur.

Para pedagang yang sebelumnya menutup kios mereka kini tampak kembali membuka lapak, mulai dari penjual makanan, pakaian, warung kelontong, hingga pedagang kaki lima.

Arman (59), penjual kaos kaki dan pakaian, mengaku lega dapat melanjutkan aktivitas dagangnya setelah sehari menutup kios.

"Toko ini biasanya buka setiap hari dari pagi sampai jam 17.00 WIB. Tapi pas kejadian ricuh sampai besoknya saya tutup. Baru Minggu sudah buka lagi, jadi tutupnya cuma sehari saja," ucap Arman.

Meski merasa cemas saat kericuhan berlangsung, Arman menekankan bahwa dirinya berusaha tetap tenang.

"Khawatir, ya, ada, tapi kan kita tahu sasarannya di polres. Saya tahu ricuh juga dari media sosial dan berita, kelihatan massa mengarah ke Polres Jakarta Timur," ungkapnya.

Baca Juga: Rumah Legislator Ahmad Sahroni Diserbu Massa, Polisi Turun Tangan Usut Penjarahan

Menurut Arman, ketakutan itu sempat muncul karena massa terdiri dari pelajar hingga warga yang berbondong-bondong menuju kantor polisi.

Namun ia menilai, sebagai warga, sebaiknya tidak mudah terpancing informasi yang belum jelas.

"Pasti penghasilan berkurang karena kios sempat tutup. Tapi yang penting kita jangan gampang terprovokasi, harus tahu dulu arah masalahnya kemana," jelasnya.

Arman yang pernah merasakan kerusuhan tahun 1998 pun membandingkan situasi tersebut dengan kejadian kali ini.

"Kalau dibanding 1998, jauh lebih parah. Sekarang yang benar-benar menyampaikan pendapat dan yang sekadar bikin rusuh juga tidak jelas bedanya. Jadi kita harus lebih hati-hati," tegasnya.

Senada dengan Arman, Raka (42), pedagang kopi di kawasan Matraman, juga mengaku memilih tidak berjualan demi keselamatan.

"Kalau dipaksain, bahaya juga. Ngeri kalau tiba-tiba jadi kena sasaran. Bisa-bisa dagangan rusak kena lempar batu," tutur Raka.

Ia berharap unjuk rasa yang terjadi di kemudian hari bisa dilakukan secara damai tanpa merusak fasilitas umum maupun merugikan warga lain.

Baca Juga: MUI Kabupaten Tangerang Imbau Masyarakat Tidak Terprovokasi Seruan Aksi Anarkis

"Kalau semua rusak, ricuh di mana-mana, yang rugi kita juga sesama warga. Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini," ujarnya.

Kericuhan di Mapolres Metro Jakarta Timur sendiri sempat membuat situasi mencekam.

Ratusan massa datang membawa batu dan benda keras, bahkan melemparkan bom molotov ke arah gedung polres.

Akibatnya, puluhan kendaraan yang terparkir di halaman markas polisi itu hangus terbakar.

Tak hanya Mapolres Metro Jakarta Timur, lima polsek lain di kawasan tersebut juga menjadi sasaran amuk massa, yakni Polsek Matraman, Makasar, Ciracas, Jatinegara, dan Cipayung.

Kini, kondisi Matraman berangsur tenang.

Warga kembali beraktivitas, dan para pedagang mencoba bangkit setelah sehari penuh dihantui ketidakpastian.

Bagi mereka, normalnya roda perdagangan bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga harapan agar keamanan di Jakarta Timur segera pulih sepenuhnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.