Banten

Tragedi Kebakaran Sumur Minyak di Blora: Dua Orang Tewas, Puluhan Warga Terpaksa Mengungsi

Andi Syafrani | 18 Agustus 2025, 14:53 WIB
Tragedi Kebakaran Sumur Minyak di Blora: Dua Orang Tewas, Puluhan Warga Terpaksa Mengungsi

AKURAT BANTEN - Malam peringatan HUT RI ke-80 yang semestinya jadi momen kebahagiaan berubah menjadi duka mendalam bagi warga Dukuh Gendono, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Sumur minyak tradisional yang berada tak jauh dari pemukiman warga tiba-tiba terbakar hebat pada Minggu malam (17/8/2025), menimbulkan kepanikan dan kerusakan.

Baca Juga: BGN Kuasai Anggaran Raksasa Rp268 Triliun di RAPBN 2026, Fokus Wujudkan Generasi Sehat Lewat Makan Bergizi Gratis

Api yang membubung tinggi tidak hanya melalap rumah warga, tetapi juga merenggut nyawa dua orang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora mengonfirmasi, korban jiwa adalah Tanek (60), seorang petani, dan Sureni (52), warga Dukuh Gendono. Keduanya mengalami luka bakar serius dan tidak sempat terselamatkan meski sudah sempat mendapat perawatan.

“Korban yang meninggal dunia kini bertambah dua orang. Mereka berada dekat dengan titik sumur saat api mulai membesar,” ujar Agung Triyono, anggota Tim Reaksi Cepat BPBD Blora. Pernyataan itu menegaskan betapa cepatnya kobaran api menjalar dan sulit dikendalikan.

Baca Juga: Mentan Amran Targetkan Swasembada Pangan 2025, Hadiah Kemerdekaan untuk Indonesia

Tak hanya menelan korban jiwa, kebakaran ini juga memaksa sekitar 50 kepala keluarga meninggalkan rumah mereka. Sebagian warga memilih mengungsi ke rumah kerabat, sementara lainnya dievakuasi ke tempat penampungan sementara.

Suasana panik masih terasa hingga Senin dini hari karena masyarakat takut api kembali menyala dari sumur yang masih mengeluarkan bau menyengat.

Baca Juga: Kuasa Hukum Wakasek SMPN 23 Kota Tangerang, Bantah Dugaan Pelecehan, Sebut Laporan Fitnah dan Janggal

Bagi warga desa, tragedi ini bukan sekadar kehilangan tempat tinggal. Banyak yang harus menyelamatkan ternak mereka, sumber penghidupan sehari-hari. Enam ekor sapi dan tiga kambing berhasil dipindahkan ke tempat aman.

“Kalau sapi ikut terbakar, habis sudah harapan kami. Itu tabungan hidup,” keluh seorang warga dengan mata berkaca-kaca.

Dari hasil pendataan sementara, satu rumah dilaporkan rusak parah akibat terbakar, sementara tiga rumah lainnya mengalami kerusakan sedang.

Petugas gabungan masih melakukan inventarisasi kerugian, karena diduga jumlah aset yang terdampak bisa lebih banyak. Bagi warga, kehilangan barang bukanlah hal utama, namun trauma dan rasa takut sulit dihapuskan.

Baca Juga: Viral Dugaan 3 WNI yang Nyaris Diculik Oknum Perdagangan Orang di Kamboja, Mulanya Dijanjikan Kerja Resto

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih berjaga ketat di lokasi. Pemadaman memang sudah dilakukan, namun sifat minyak tradisional yang mudah terbakar membuat potensi ledakan susulan tetap ada. Kondisi ini membuat warga enggan kembali ke rumah sebelum situasi benar-benar dinyatakan aman.

Kebakaran sumur minyak tradisional bukanlah hal baru di Blora. Praktik pengeboran yang dilakukan tanpa standar keamanan dan minim pengawasan pemerintah sering kali berujung petaka. Warga sekitar pun berharap ada langkah serius dari pemerintah daerah maupun pusat untuk mencari solusi permanen.

“Kalau dibiarkan terus, nyawa kami selalu terancam,” ucap seorang tokoh desa.

Baca Juga: Fakta Terkini Pendaki Tewas di Kawasan Puncak Bawakaraeng dalam Rangka Peringati HUT RI ke-80

Tragedi di Dukuh Gendono ini juga membuka kembali perdebatan lama tentang nasib sumur minyak rakyat. Di satu sisi, sumur ini memberi nafkah bagi sebagian warga.

Namun di sisi lain, risikonya begitu besar karena dikelola tanpa teknologi memadai. Pemerintah daerah kini dituntut untuk turun tangan lebih tegas, bukan hanya setelah terjadi bencana.

Baca Juga: Aksi Jambret di Tambora Gegerkan Warga, Polisi Intensif Lacak Pelaku Bermotor Misterius

Di tengah suasana berduka, warga hanya bisa berharap adanya bantuan cepat dari pemerintah. Dari kebutuhan dasar seperti makanan, selimut, dan tempat tinggal sementara, hingga perhatian bagi keluarga korban yang kehilangan orang tercinta.

Malam yang seharusnya penuh semangat kemerdekaan, bagi mereka justru menjadi pengingat pahit betapa rapuhnya hidup di sekitar sumber daya alam yang tak dikelola dengan aman.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC