Banten

Lonjakan Kasus DBD di Tangerang, 863 Warga Terinfeksi dan Satu Meninggal Dunia

Moehamad Dheny Permana | 12 Agustus 2025, 12:27 WIB
Lonjakan Kasus DBD di Tangerang, 863 Warga Terinfeksi dan Satu Meninggal Dunia

Akurat Banten - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Tangerang, Banten, kembali menjadi perhatian publik.

Dinas Kesehatan setempat melaporkan total 863 kasus sejak Januari hingga Agustus 2025.

Satu korban dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, menyebut korban tersebut juga memiliki penyakit penyerta yang memperburuk kondisinya.

“Tercatat sejak Januari sampai Agustus tahun ini ada sekitar 863 kasus dan satu orang meninggal, namun yang bersangkutan juga menderita penyakit penyerta,” ujarnya.

Hendra menjelaskan tren kasus DBD di wilayahnya mengalami fluktuasi atau naik-turun setiap bulan.

Ia menilai kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan telah membantu menekan penyebaran nyamuk Aedes aegypti.

Pencegahan, menurutnya, harus menjadi prioritas utama dan dilakukan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Komisi XI Tegaskan Pembukaan Blokir Rekening oleh PPATK Bebas Biaya

Dinas Kesehatan pun mengintensifkan kampanye Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di berbagai lingkungan.

Hendra mengimbau masyarakat dan pengurus RT untuk rutin membersihkan area sekitar.

Ia juga meminta penaburan bubuk abate pada genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

“Kami mengimbau masyarakat dan pengurus RT untuk melakukan PSN, memberikan obat Abate pada tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,” tuturnya.

Selain itu, petugas disiagakan di setiap kecamatan untuk melakukan pengasapan atau fogging.

Fogging dilakukan jika ditemukan kasus DBD yang disertai temuan jentik nyamuk atau korban meninggal.

“Kita pun melakukan fogging dalam radius 100 meter, sebagai antisipasi terdapat kasus disertai temuan jentik atau kematian,” jelasnya.

Hendra mengingatkan fogging hanya efektif membunuh nyamuk dewasa dan bersifat sementara.

Jentik nyamuk yang berada di air akan tetap hidup jika tidak dibersihkan.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Masyarakat diminta melakukan 3M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air.

Baca Juga: Pangdam IX/Udayana Kunjungi Rumah Duka Prada Lucky, 20 Anggota TNI Jadi Tersangka

Musim pancaroba disebut sebagai periode rawan peningkatan kasus DBD.

Perubahan cuaca yang cepat memicu perkembangbiakan nyamuk lebih cepat.

Hendra berharap semua pihak berperan aktif dalam pencegahan.

“Kewaspadaan dan gotong royong masyarakat sangat penting untuk memutus rantai penyebaran,” pungkasnya.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.