Ricuh di Stasiun Tigaraksa, Penumpang Taksi Online Dipaksa Turun: Polisi Imbau Opang dan Ojol Tak Saling Gesek

Akurat Banten - Ketegangan sempat mewarnai kawasan Stasiun Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, setelah insiden tidak menyenangkan dialami sepasang penumpang taksi online.
Mereka adalah pasangan suami istri yang juga membawa bayi, disebut mengalami pemaksaan untuk turun dari mobil oleh sejumlah ojek pangkalan (opang).
Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, mengonfirmasi peristiwa itu dan menjelaskan bahwa situasi bermula dari ketegangan kecil yang berujung ricuh.
“Kami sudah lakukan penyelidikan awal. Kejadiannya memang sekitar jam dua siang di area depan stasiun,” ujar Indra.
Menurut Indra, kejadian ini bermula ketika sang suami istri turun dari kereta dan memesan layanan transportasi daring (ojek atau taksi online).
Baca Juga: Pindahan Massal Napi Risiko Tinggi, Strategi Baru Bersihkan Lapas dari Jaringan Narkoba
Titik penjemputannya diketahui berada di dekat area ojek pangkalan.
Beberapa tukang ojek pangkalan yang melihat taksi online tersebut berhenti dan menaikkan penumpang, langsung bereaksi.
Mereka diduga menegur sopir taksi online, meminta agar tidak mengambil penumpang di area yang selama ini dianggap sebagai wilayah kerja mereka.
“Saat mendengar sopir ditegur, penumpang perempuan akhirnya ikut bicara. Dari situ adu argumen tidak bisa dihindari,” ujar Indra.
Situasi makin memanas hingga akhirnya penumpang diminta turun paksa dari kendaraan.
Namun, bukannya menerima tawaran opang, keluarga kecil itu malah memilih berjalan kaki meninggalkan lokasi. Sopir taksi online kemudian pergi dari area stasiun.
“Kami sedang mengidentifikasi penumpang tersebut karena belum sempat memberikan keterangan langsung,” tambah Indra.
Menyikapi insiden ini, Indra bersama jajaran langsung turun ke lapangan dan bertemu dengan sejumlah perwakilan dari ojek pangkalan.
Dalam pertemuan itu, ia mendengarkan keluhan mereka namun juga memberikan arahan tegas.
“Kata kuncinya itu, sama-sama cari makan. Jangan sampai ada tindakan yang justru merugikan semua pihak, apalagi penumpang,” tegasnya.
Pihak ojol pun tidak luput dari perhatian.
Kepada perwakilan pengemudi transportasi online, Indra juga menyampaikan imbauan agar tidak memprovokasi atau terpancing konflik.
“Kami akan pertemukan kedua belah pihak agar ada titik temu. Persaingan itu wajar, tapi harus sehat dan tetap mengedepankan kenyamanan masyarakat,” ucap Indra.
Ia menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri atau membuat keresahan publik tidak akan ditoleransi.
“Kami tidak akan ragu menindak siapapun yang meresahkan. Jangan korbankan penumpang, karena itu yang paling dirugikan,” tutupnya.
Video terkait insiden ini sempat viral di media sosial dan mengundang reaksi keras dari warganet.
Banyak yang menyayangkan bahwa kenyamanan dan keamanan konsumen justru terpinggirkan dalam konflik antara penyedia layanan transportasi konvensional dan digital.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 2Jika Gugatan Gibran Dikabulkan MK, Yusril Bicara Dampaknya, ‘Saya Tidak Bisa Membayangkan’
- 3Belum Mahir Menyetir, Sopir Pickup SPPG Cibaliung 2 Tabrak 3 Relawan Sampai Terkapar
- 4Jika Gibran Didiskualifikasi MK, 3 Nama Ini Muncul Jadi Wapres Pengganti, Ada AHY dan Anies
- 5Jokowi Akhirnya Buka Suara soal Pendidikan Gibran, Singgung Paket C, 'Masa Disuruh Lagi?'
- 6Gugatan Gibran di MK Disebut KPU Bisa Masuk Ranah Pemakzulan, Ini Alasannya
- 7Dedi Mulyadi Masuk Bursa Pilpres 2029, Tapi Ada Satu Hambatan Besar yang Disorot Pengamat
- 8Sidang Gibran di MK Bikin Terkejut, KPU Akui Tak Cek Langsung Dokumen Pendidikan
- 9Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 10Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti






