KPK Usut Dugaan Korupsi Bantuan Kuota Internet dan Chromebook di Kemendikbudristek

Akurat Banten - Program bantuan kuota internet yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) selama masa pandemi COVID-19 sempat dianggap sebagai solusi strategis untuk menjaga kelangsungan pendidikan jarak jauh.
Namun, di balik niat baik tersebut, kini muncul sorotan tajam yang membawa aroma dugaan korupsi.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara terbuka menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan terhadap dugaan penyimpangan dalam proyek tersebut.
Penyelidikan itu bukan hanya mengenai kuota internet semata, tetapi juga terkait ekosistem digitalisasi yang lebih luas, termasuk penyediaan perangkat Chromebook dan layanan Google Cloud.
“Betul,” kata Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu.
Pernyataan singkat namun tegas ini menandai bahwa lembaga antirasuah telah turun tangan menelusuri lebih dalam proyek-proyek digital Kemendikbudristek.
Asep menambahkan bahwa pihaknya tengah mengkaji keseluruhan rantai pengadaan, dari perangkat keras hingga penyedia layanan penyimpanan data digital.
“Ada perangkat kerasnya (laptop Chromebook), ada tempat penyimpanan datanya (Google Cloud), ada paket datanya (kuota internet gratis) untuk menghidupkan itu (laptop Chromebook). Iya betul,” ungkapnya.
Program kuota gratis sendiri dimulai pada September 2020, dan menyasar seluruh jenjang pendidikan.
Baca Juga: Satgas Pangan Ungkap Tiga Produsen Beras Langgar Standar, Investigasi 212 Merek Dimulai
Siswa PAUD mendapat 20 GB per bulan, siswa SD hingga SMA memperoleh 35 GB, guru mendapatkan 42 GB, dan mahasiswa serta dosen memperoleh hingga 50 GB kuota per bulan.
Program ini disebut-sebut sebagai bentuk dukungan negara terhadap pembelajaran daring di masa sulit.
Namun dalam pelaksanaannya, muncul dugaan bahwa proses pengadaan dan distribusi program tidak sepenuhnya berjalan sesuai aturan.
Pihak Kejaksaan Agung (Kejagung) bahkan telah lebih dahulu menetapkan empat tersangka dalam kasus pengadaan Chromebook periode 2019–2022.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah mantan Staf Khusus Mendikbudristek saat itu, Jurist Tan, serta mantan pejabat tinggi di lingkungan kementerian.
Baca Juga: Erika Carlina Diancam Hancur Kariernya, Pelaku Sebar Data Pribadi lewat WhatsApp
Sumber menyebutkan bahwa dalam pengadaan perangkat digital tersebut, terdapat markup harga dan dugaan permainan tender yang merugikan keuangan negara.
Bahkan, beberapa pihak yang menerima bantuan mengaku perangkat yang diterima tidak maksimal penggunaannya karena akses dan dukungan teknis yang terbatas.
Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi program-program digital di sektor pendidikan.
Alih-alih menjadi solusi pembelajaran modern, pengelolaan yang buruk justru bisa membuka celah korupsi yang merugikan negara dan mengkhianati semangat mencerdaskan bangsa.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Bukan Anies atau Ganjar, Zulhas Malah Diusulkan Jadi Pengganti Gibran, Siapa Pengusulnya?
- 220.980 Prajurit TNI AL Disiagakan di Jakarta, Dokumen Pengerahan Ini Bikin Publik Bertanya-tanya!
- 3Mahfud MD Bongkar Dampak Putusan MA soal Suket Gibran, Nasib Jabatan Wapres Jadi Sorotan
- 4Gibran Terancam Lengser, Relawan Jokowi Beri Peringatan Keras ke Prabowo
- 5Benyamin Davnie Resmi Jadi Ketua Dewan Penasehat Gerindra Tangsel, Siap Gaspol Konsolidasi Internal
- 6Tagihan Air Melonjak Hingga Rp2,3 Juta, Pelanggan Asal Cipondoh Ancam Laporkan Perumda Tirta Benteng ke Ombudsman
- 7Komitmen DPAD Kota Tangerang: Ubah Perpustakaan Jadi Pusat Pemberdayaan dan Kreativitas Warga
- 8Gibran Terancam Kehilangan Kursi Wapres? Pakar Hukum Minta DPR Segera Bertindak
- 9Cuma Butuh Satu Gol! Lamine Yamal Bisa Pecahkan Rekor Kylian Mbappe saat Barcelona Hadapi Aston Villa
- 10Chelsea Serius Kejar Alex Scott, Siapkan Dana Rp2,18 Triliun untuk Boyong Gelandang Bournemouth








