Tewas Membusuk di Gubuk Kali, Sudah 10 Tahun Terputus dari Keluarga

Akurat Banten - Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, sebuah gubuk reyot di bantaran Kali Pesanggrahan, Kebon Jeruk, menjadi saksi bisu dari sebuah kisah hidup yang sunyi dan tragis.
Seorang pria ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tubuh yang mulai membusuk, tanpa ada yang menyadari kepergiannya selama berhari-hari. Identitasnya diketahui berinisial ET, berusia sekitar 50 tahun, dan telah lama hidup menyendiri.
"Korban dengan keluarganya memang sudah memutuskan pisah sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu," ujar Kapolsek Kebon Jeruk Kompol Nur Aqsha Ferdianto.
Pernyataan itu membuka lembaran masa lalu ET yang menyedihkan.
Terputus dari keluarga, tanpa teman dekat, dan tinggal di sebuah gubuk sederhana di tepi sungai, kehidupan ET perlahan-lahan menghilang dari ingatan orang-orang.
Hingga akhirnya jasadnya ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
Baca Juga: Kakak Tewas Ditusuk Adik Kandung, Polisi Masih Memburu Pelaku
Namun, Kapolsek menampik kabar simpang siur yang menyebut tubuh korban hanya tinggal tulang belulang.
“Usianya sekitar 50 tahunan. Tidak benar (ditemukan tinggal tulang), ditemukan masih lengkap,” imbuhnya.
Kematian ET diduga bukan karena tindakan kriminal.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi menduga penyebab meninggalnya adalah penyakit yang telah lama diderita.
“Untuk penemuan mayat diduga karena sakit,” jelas Ferdianto.
Hingga kini, pihak kepolisian masih menyelidiki lebih lanjut untuk memastikan tidak ada unsur kekerasan atau penyebab lain yang mencurigakan.
Baca Juga: Momen Hakim Sebut Tom Lembong Tak Nikmati Hasil Korupsi, tapi Tetap Divonis 4,5 Tahun Bui
Namun, satu hal yang menyayat dari kejadian ini bukan hanya bagaimana ET meninggal, melainkan bagaimana ia menjalani hidupnya di ujung sepi.
Tak ada pelayat, tak ada keluarga yang menunggu kabar.
Hanya keheningan sungai dan bau anyir yang akhirnya mengungkap keberadaannya.
Kisah ET mengingatkan bahwa di tengah padatnya kota besar, masih ada mereka yang hidup dalam bayang-bayang keterasingan.
Bukan karena tak ingin bersosialisasi, tapi karena nasib dan keadaan menempatkan mereka jauh dari pelukan orang-orang terdekat.
Gubuk di pinggir kali itu kini kosong, tapi menyimpan duka yang dalam.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari, Selain AJB Tak Jelas Pengelola Dinilai Buruk
- 2Bawa Sabu 26 Kg, Dua Terdakwa Kasus Narkoba di Tangerang Dituntut Hukuman Mati
- 3Bukan Sekadar Menopang Tulang, Implan Medis Ini Dikembangkan agar Bisa Memulihkan Lapisan Pelindungnya
- 4Polisi Gagalkan Peredaran 120 Cartridge Vape Mengandung Etomidate di Apartemen Pacific Garden
- 5Cicilan Lunas Bertahun-tahun tapi Belum SHM? Tarif Iuran Bengkak Tanpa Transparansi, Ratusan Warga Lippo Karawaci Geruduk Menara Matahari
- 6Harry Kane Ungkap Kebahagiaan Raih Ballon d'Or 2026, Ini Rekor Golnya Bersama Bayern Munich
- 7Gerindra Bela Gibran, Prabowo Tak Bisa Pecat Wapres Sepihak! Ini Aturan yang Wajib Dipahami
- 8Jusuf Kalla Heran Ditantang Buka Buku Nikah, Padahal Hanya Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli!
- 9Dokter Tifa Singgung Ancaman Penjara 7 Tahun di Sidang Ijazah Jokowi, Peringatan untuk Siapa?
- 10TNI AL Kerahkan KRI Brawijaya-320, Meriam 127 mm dan 25 mm Diuji di Laut Jawa









