Banten

IPB dan PLTU Gandeng Masyarakat Tanam Pohon Pengganti Batu Bara

Irsyad Mohammad | 29 November 2024, 14:47 WIB
IPB dan PLTU Gandeng Masyarakat Tanam Pohon Pengganti Batu Bara

AKURAT BANTEN - Sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara dan mengatasi dampak negatifnya terhadap lingkungan, Institut Pertanian Bogor tengah mengembangkan pohon gamal (Gliricidia sepium) sebagai alternatif sumber energi terbarukan. 

Pohon gamal dikenal memiliki pertumbuhan yang cepat dan kapasitas biomassa yang tinggi.

Pohon ini dianggap sebagai solusi potensial untuk menggantikan batu bara dalam pembangkit listrik dan industri.

Pohon untuk biomassa kayu pengganti batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) II Labuan ini di tanam di lahan masyarakat dari 11 desa yang mencapai luas sebesar 270 hektar dan tanah demplot seluas 5 hektar.

Baca Juga: Jangan Salah, Ini Cara Menghitung Kenaikan gaji ASN 2025 Berdasarkan Golongan

Kepala Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi (SBRC) IPB, Dr Meika Syahbana Rusli mengatakan, tanaman itu sebagai percontohan di Provinsi Banten.

Kata Meika, potensi Tanah di Banten ini memiliki potensi yang tinggi untuk tanamanan biomassa kayu. 

Nantinya, Kata Meika, pohon gamal akan mengurangi kebutuhan batu bara 5-10 persen di PLTU.

"Tujuannya untuk pembangunan ekosistem kebun tanaman energi pengganti batu bara untuk PLTU. Kajian kami sebetulnya kebutuhan 5-10 persen substitusi batubara oleh PLTU bisa dicukupi dari wilayah Banten ini, dalam radius 50 kilometer dari PLTU Labuan," ucap Meika di lokasi budidaya, Jumat (29/11/2024).

Baca Juga: Aksi Brutal Anak kiai Tembak Guru Madrasah, Gegara Menyenggol Toyota Camry Miliknya

Menurut Meika, biomassa gamal dan kaliandra memiliki keunggulan dibanding biomassa limbah serbuk kayu yang selama ini digunakan PLTU II Labuan.

Pohon Gamal dan kaliandra memiliki kandungan kalori 4.000 per kilogram. Sedangkan serbuk kayu memiliki kadar air yang tinggi.

"Pohon gamal dan kaliandra cepat tumbuh di lahan kering, dan bisa di panen satu tahun sekali. Karena ketika dipangkas, dia akan tumbuh lagi, tumbuh lagi, trubus lagi, dan dalam setahun kita bisa panen lagi," cetusnya.

Selain itu lanjut Meika, biomassa kayu juga dapat mengurangi emisi gas yang ditimbulkan oleh batu bara.

Baca Juga: RDP Warga Minta DPRD Rekomendasikan HGU Tidak Diperpanjang, PT MII: Kami Punya Izin dan Taat Bayar Pajak

"Pengurangan emisinya net zero sebetulnya, karena menurut perhitungan PLN, 10 juta ton biomasa yang digunakan, maka10,2 juta ton CO2 yang bisa dikurangi emisinya," jelasnya.

Sementara Manajer UPP IP PLTU Labuan, Wisnu Kurniawan mengatakan, PLTU II Labuan sudah menggunakan biomassa dari limbah kayu. Namun, pihaknya membutuhkan penyediaan biomassa yang berkelanjutan.

"Sehingga kami memprakarsai adanya tanaman energi. Inilah biomasa yang berkelanjutan, tadi jargonnya sekali menanam akan panen selamanya," kata Wisnu.

Windu menjelaskan, di Kecamatan Cinangka pihaknya dan IPB menggandeng 16 Kelompok Tani Hutan (KTH) yang mencakup 330 petani untuk melakukan budidaya gamal dan kaliandra tersebut.

"Hasil panennya akan dibeli oleh kita, jadi secara ekonomi masyarakat juga tumbuh," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.