Banten

Viral Bocah SD Naik KRL Subuh dari Tangerang, Rano Karno Sampai Bilang, Ini Si Doel Asli

Andi Syafriadi | 29 November 2025, 22:02 WIB
Viral Bocah SD Naik KRL Subuh dari Tangerang, Rano Karno Sampai Bilang, Ini Si Doel Asli

AKURAT BANTEN — Kisah mengharukan datang dari dunia pendidikan DKI Jakarta dan sekitarnya, yaitu perjuangan seorang bocah SD bernama Hafitar, yang viral karena setiap hari berangkat sekolah seorang diri naik KRL dari Tangerang menuju Klender, Jakarta Timur.

Usia masih SD, tetapi semangat dan kegigihannya menarik simpati publik hingga mengundang perhatian pejabat.

Hafitar tinggal di Tangerang setelah orang tuanya pindah, tetapi ia memutuskan tetap sekolah di SD di Klender, Jakarta Timur lingkungan sekolah lamanya.

Karena itu, setiap pagi sejak pukul 03.00 WIB, ia sudah berangkat dari rumah, melintasi jalur KRL Tangerang–Klender, bahkan harus transit dua kali.

Baca Juga: KEPANIKAN di Stasiun Tanjung Barat: KRL Bogor-Jakarta Tiba-Tiba Berasap, Penumpang Berhamburan Keluar!

Dari Cisauk ke Tanah Abang, lalu ke arah Bekasi, dan turun di Jatinegara sebelum akhirnya tiba di sekolah.

Perjalanan panjang itu dilakukan sendirian, rutin hari demi hari. 

Video kepergiannya yang terekam dan beredar di media sosial sempat viral banyak yang terenyuh sekaligus takjub bahwa seorang bocah SD seberani dan setangguh itu hanya demi mengejar pendidikan. 

Perjuangan Hafitar tak luput dari perhatian pejabat: Rano Karno, Wakil Gubernur DKI Jakarta, mengundang bocah itu ke Balai Kota Jakarta pada Jumat, 28 November 2025.

Baca Juga: BONGKAR TUNTAS! Segini Gaji Masinis KRL 2025 per Bulan, Lengkap dengan Tunjangan Fantastisnya: Bikin Ngiler ...

Dalam pertemuan itu, Rano menyambut Hafitar dengan hangat menyebutnya sebagai “Si Doel asli”, julukan tokoh populer yang diperankannya dulu.

Rano bahkan mengajak Hafitar duduk di kursi kerjanya, mengapresiasi semangatnya, dan berharap suatu hari bocah ini bisa menjadi pemimpin, bahkan “Wagub Jakarta masa depan.”

Tak hanya penghargaan moral: Rano mengajak Hafitar makan siang bersama pemain klub sepak bola ibu kota, dan memberinya hadiah jersey dan bola bertanda tangan sebagai bentuk dukungan dan apresiasi.

Menindaklanjuti viralnya kisah tersebut, pemerintah kota setempat, khususnya Pemkot Jakarta Timur, bergerak untuk mencarikan solusi bagi Hafitar.

Baca Juga: MENGERIKAN! DETIK-DETIK TRUK TERPENTAL: Kecelakaan Maut KRL Tangerang Gegerkan Warga, Begini Kondisi Korban Terbaru

Anak tersebut akan dipindahkan mengikuti orang tuanya ke Tangerang, sehingga ia tidak perlu lagi menempuh perjalanan ekstrem setiap hari.

Untuk sementara, ia dititipkan di rumah orang tua teman dekat (bestie) supaya bisa tetap sekolah dengan lebih aman.

Sambil menunggu perpindahan resmi, Pemkot juga membantu kebutuhan sekolahnya seperti perlengkapan belajar dan memastikan agar hak pendidikan dan keselamatannya tetap dijamin. 

Kasus Hafitar menyentil banyak hal penting:

Baca Juga: Biaya Tarif KRL Solo-Jogja Lebaran Naik? Coba Bayar Pakai KMT Langsung Tap

- Semangat belajar dan pengorbanan: Bahwa ada anak sedemikian gigih demi mengejar pendidikan, bahkan melawan jarak dan waktu sejak subuh.

 

- Perhatian terhadap keselamatan anak: Perjalanan jauh sendirian oleh anak di bawah umur jelas membawa risiko, dan menjadi tanggung jawab bersama orang tua, sekolah, hingga pemerintah.

 

- Respons sosial dan kemanusiaan: Viral bukan sekadar pencitraan; perhatian publik dan pemerintah bisa menjadi jembatan bagi solusi nyata bagi anak dan keluarganya.

 

- Akses dan pemerataan pendidikan: Membuka diskusi tentang kemudahan akses pendidikan bagi warga yang berpindah domisili agar mereka tak harus memilih antara sekolah atau jarak rumah.

Baca Juga: Diduga Bunuh Diri, Seorang Pria Melompat saat KRL Melintas di Stasiun Depok

Semoga langkah pemindahan dan pendampingan untuk Hafitar segera tuntas, dan ia bisa belajar dengan nyaman tanpa harus menempuh perjalanan berisiko lagi.

Lebih jauh, kisah ini menjadi pengingat penting bagi kita semua bahwa hak terhadap pendidikan mesti diiringi ikhtiar, kepedulian, dan sistem yang mendukung agar tak ada anak yang terhalang karena jarak atau mobilitas keluarga.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.