Jusuf Kalla: Dari Semua Pemilu, Tahun Ini Paling Kotor!

AKURAT BANTEN - Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla mengatakan, pilpres 2024 mengandung banyak intrik.
Salah satu yang ia sorot adalah adanya dugaan pengerahan aparat negara untuk mengintimidasi upaya pemenangan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tertentu.
Kalla menganggap pemilihan presiden alias Pilpres 2024 menjadi yang terburuk sepanjang sejarah Indonesia.
Perhitungan itu disampaikan Kalla dengan merujuk situasi yang terjadi sejak pemilihan presiden langsung dimulai pada 2004.
“Dari semua pemilu, akhirnya (tahun) ini yang paling kotor. Pemilu yang paling banyak tekanan dan paling banyak menimbulkan ketidakadilan dari sebelumnya,” kata JK dalam wawancara 'Pergulatan Politik' (Gultik) Katadata, dikutip pada Jum'at (26/1).
Pandangan Jusuf Kalla mengenai kondisi demokrasi hari ini didasarkan pada situasi politik dan demokrasi yang berkembang jelang pemilu.
Termasuk juga soal sikap Presiden Joko Widodo disebut condong ke pasangan 02 Prabowo - Gibran.
- Baca Juga: Jusuf Kalla Soal Anies di Laporkan: Panggil Pak Jokowi, Baru Ramai Negeri Ini!
- Baca Juga: Respon Statment RB, Masyarakat dan Mahasiswa Desak Bawaslu dan Polisi Jagan Meleng
- Baca Juga: Ketua Bawaslu RI, PSI Asal-asalan Tidak Logis Dan Tidak Rasional Dana Kampanye Cuma Rp180 ribu
Sikap ketidak netralan Jokowi salah satunya sangat jelas tercermin saat Jokowi usai menghadiri kegiatan di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (24/1)
“Semua itu pegangannya aturan, kalau aturan boleh, silahkan, kalau aturan tidak boleh, tidak, sudah jelas itu. Jangan presiden tidak boleh, boleh berkampanye boleh. Tetapi dilakukan atau tidak dilakukan terserah individu masing-masing," kata Jokowi.
Kemudian JK menguraikan praktik pengarahan dan keberpihakan rezim pada masa orba terhadap salah satu paslon dan partai tertentu disampaikan secara terbuka.
“Saat itu hanya ada 3 partai, menang aparat resmi masuk Golkar. Ada pengarahan ke sana. Tapi sekarang di depan bicara netral, di belakang perintah lain. Zaman dulu tidak begitu. Orde Baru itu perintahnya terbuka,” kata Jusuf Kalla.
Menurut JK, corak politik tersebut juga berlaku pada trah keluarga Gandhi dan Nehru di India dan manjunya presiden ke-43 AS George Walker Bush menjadi presiden mengikuti jejak ayahnya, George Herbert Walker Bush yang merupakan Presiden ke-41 AS.
Meski begitu menurut negara tersebut melakukannya secara demokratis dan dipilih dengan baik.
“Tapi ini kan berbeda, anaknya tidak memenuhi aturan, undang-undangnya diubah. Jadi memang dari awal sudah cacat keadaan ini, dipaksakan,” ujar Jusuf Kalla lagi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Mahfud MD Bikin Geger! 'Dicari Sampai Mati Pun Tak Akan Ada Ijazah', Ini Penjelasannya soal Gibran
- 2Anies, Ganjar, dan Mahfud Bakal Masuk Istana? Wacana Pemakzulan Gibran Ikut Jadi Sorotan
- 3Denny Indrayana Soroti Sikap Megawati soal Gibran, PDIP Bakal Bergerak atau Pilih Diam?
- 4Duet Dedi Mulyadi-Purbaya Jadi Sorotan! Syahganda Singgung Pilihan Mengejutkan Purbaya
- 5Mahfud MD Jelaskan Beda Pemakzulan dan Pidana dalam Kasus Gibran, Ini Tahapan Hukumnya!
- 6Nasabah BTN Klaim Dana Rp17 Miliar Bermasalah, Setiap Rp1 Miliar Masuk Saldo Disebut Tersisa Rp100, Ada Apa?
- 7Miris! 21 Tahun Jadi Pemulung, Lansia Ini Tak Tahu Punya Uang Pensiun Rp1,1 Miliar
- 8Terkenal Vokal, Ini Strategi Baru Abah Saiful Milah Usai Resmi Duduki Kursi Ketua DPRD Kota Tangerang
- 9Anies, Ganjar, dan Mahfud Bakal Masuk Istana? Wacana Pemakzulan Gibran Ikut Jadi Sorotan
- 10Mahfud MD Jelaskan Beda Pemakzulan dan Pidana dalam Kasus Gibran, Ini Tahapan Hukumnya!







