Banten

Sejarah Taman Entoy Museum Multatuli, Berawal dari Indeks Kepuasan Masyarakat

Ratu Tiarasari | 4 Desember 2023, 19:15 WIB
Sejarah Taman Entoy Museum Multatuli, Berawal dari Indeks Kepuasan Masyarakat

AKURAT BANTEN - Multatuli adalah pseudonym (nama pena/samaran) dari Eduard Douwes Dekker. Dia pertama kali tiba di Rangkasbitung, pada 21 Januari 1856. 

Saat pertama tiba, dia bertugas sebagai asisten residen Lebak.

Dia bekerja tidak lebih dari 84 hari, lalu mengundurkan diri setelah berselisih paham dengan pejabat-pejabat kolonial lainnya.

Baca Juga: Hari Kesetiakawanan, Dinsos Pandeglang Gelar Unit Pelayanan Sosial Keliling

Multatuli kemudian pergi ke Belgia dan menuliskan kegelisahannya dalam bentuk roman berjudul Max Havelaar pada 1860.

Secara umum dan telah menjadi bagian historiografi Indonesia, ceritanya memuat bagaimana bobroknya sistem kolonial, khususnya persekutuannya dengan sistem feodal.

Kisah Multatuli menjadi narasi sebagai aset di Lebak untuk dijadikan pembelajaran (tentang bagaimana kolonialisme bekerja dan bagaimana sistem itu diruntuhkan oleh gerakan nasionalisme) dalam bentuk pendirian museum.

Ide pendirian Museum Multatuli telah direncanakan sejak 2015. Pada tahun 2016, delegasi pejabat dan guru dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak pergi ke Belanda untuk mengunjungi Arsip Nasional Belanda dan Multatuli Huis di Amsterdam.

Baca Juga: Tangerang Great Sale (TGS) Digelar Terdapat Banyak Diskon, Cek Lokasinya!

Kunjungan tersebut dilakukan untuk membangun komunikasi dan persahabatan guna keberlangsungan Museum Multatuli yang sedang dirintis.

Pada 11 Februari 2018, Museum Multatuli secara resmi dibuka untuk masyarakat. Peresmian museum dilakukan Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid dan Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya.

Hal yang menarik diseputaran Museum Multatuli yang saat ini banyak dikunjungi wisatawan, yaitu dikelilingi trotoar khusus bagi para pejalan kaki dan tersedianya tempat duduk untuk bersantai keluarga yang terbuat dari batu Sempur alami.

Baca Juga: Seorang Guru di Lebak Raih Juara Terbaik Nasional Guru Dedikaif 2023, Dindik Lebak Mengaku Bangga

Pembuatan taman yang dipadukan dengan fasilitas pejalan kaki berupa trotoar jalan diseputaran Museum Multatuli yang di inisiasi Kepala Bidang Bina Marga Entoy Saepudin (Alam) semasa hidup bertujuan untuk meningkatkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM).

Sempat terjadi pro dan kontra bahkan tidak sedikit yang menganggap pembuatan taman ini hanyalah penghamburan anggaran.

Kini taman Museum Multatuli lebih dikenal dengan sebutan "Taman Entoy Saepudin".

Setiap hari bahkan hingga malam hari, taman ini selalu ramai tidak pernah sepi dari warga yang sengaja nongkrong orang-orang yang berdiskusi.

Baca Juga: PERBANDINGAN Prestasi Putra Jokowi GIBRAN Vs Lee Hsien Loong Putra Lee Kuan Yew Mantan Perdana Menteri Singapura

Sejarah taman ini melekat kepada almarhum, selain sebagai penginisiasi Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dengan membuat taman diperkotaan, Entoy Saepudin (Alm) dikenal sebagai salah satu pejabat yang dekat dengan masyarakat dan baik kepada semua kalangan.

"Kami menyebutnya ini Taman Entoy. Sebelum seperti ini tidak sedikit yang mengkritisi pembuatan taman ini. Namun, Entoy Saepudin (Alm) saat itu bersikukuh tidak goyah untuk menciptakan IKM. Dan hasilnya sekarang ini dirasakan semua kalangan, kita bisa duduk santai sambil ngopi," kata Ahmad Sarif, salah seorang warga Lebak.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.