Banten

Apa Itu Bubur Asyura yang ada di Peringatan 10 Muharram? Simak sejarah dan filosofinya

Saiful Anwar | 16 Juli 2024, 12:37 WIB
Apa Itu Bubur Asyura yang ada di Peringatan 10 Muharram? Simak sejarah dan filosofinya

AKURAT BANTEN - Hari Asyura atau 10 Muharram diperingati dengan berbagai acara yang berbeda di setiap daerah. Salah satu tradisi yang melekat di Jawa adalah memasak bubur asyura.

Hidangan bubur asyura pada 10 Muharram memang telah menjadi tradisi yang melekat bagi umat Muslim di beberapa daerah Indonesia dan berbagai belahan dunia lainnya.

Bubur asyura merupakan makanan yang terbuat dari campuran biji-bijian, berbagai rempah, sayur, ikan, dan daging. Pembuatan bubur ini biasanya dilakukan secara gotong royong bersama tetangga-tetangga sekitar.

Baca Juga: 906 Capaja Dilantik Jokowi sebagai Prawira TNI dan Polri, 4 Raih Adhi Makayasa

Lantas apa itu bubur asyura, dan bagaimana sejarah dan filosofinya.

Sejarah Bubur Asyura

Bubur asyura berawal dari selamatnya Nabi Nuh AS dari banjir bandang yang melanda pada bulan Muharram. Saat itu Nabi Nuh berhasil menyelamatkan kaumnya berkat kapal besar yang dibuatnya.

Selama berminggu-minggu terombang-ambing di tengah banjir, kapal Nabi Nuh akhirnya berlabuh di sebuah bukit bernama bukit Judi pada tanggal 10 Muharram. Saat itu, persediaan makanan kian menipis, bahkan hampir habis.
 
Mengutip buku Misteri Bulan Suro oleh Muhammad Sholikhin, Nabi Nuh kemudian memerintahkan kaumnya agar mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang masih ada, yaitu gandum, adas (sejenis kacang-kacangan atau kedelai hitam), kacang tanah, dan kacang putih. Semua bahan tersebut dikumpulkan dalam tujuh takaran besar, lalu dimasak dan dimakan bersama-sama.
 
Itulah peristiwa makan bersama yang pertama kali terjadi setelah bencana banjir dan topan melanda. Sejak saat itu, umat Muslim terbiasa makan bersama dengan bahan-bahan campuran yang mendekati makanan Nabi Nuh tersebut.
 
Ibnu Hajar menganjurkan makanan yang disajikan terdiri dari tujuh macam kurma, gandum, beras, daging hewan yang berjalan kaki, kedelai hitam dan putih, serta kacang merah. Hidangan inilah yang saat ini dikenal sebagai bubur Asyura.
 
 

Filosofi Bubur Asyura

Bubur Asyura tidak hanya sebuah makanan, tetapi memiliki makna kebersamaan, rasa syukur, dan solidaritas muslim. Hidangan ini sering kali dibuat dalam jumlah besar dan dibagikan kepada tetangga, teman, dan mereka yang membutuhkan sebagai bentuk amal kebaikan.

Peringatan dan tradisi membuat bubur Asyura mengajarkan pentingnya mengenang sejarah, menghormati pengorbanan, dan berbagi dengan sesama. Sehingga mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.