Banten

Fenomena Global: Gelombang Perpindahan Agama Mengguncang Dunia, Kristen dan Buddha Alami Dampak Terbesar!

Saeful Anwar | 8 April 2025, 07:44 WIB
Fenomena Global: Gelombang Perpindahan Agama Mengguncang Dunia, Kristen dan Buddha Alami Dampak Terbesar!

AKURAT BANTEN– Sebuah studi komprehensif oleh Pew Research Center yang melibatkan hampir 80.000 responden di 36 negara mengungkap tren global yang mengejutkan: lebih dari seperlima populasi dewasa di berbagai belahan dunia telah meninggalkan agama masa kecil mereka.

Fenomena "perpindahan agama" ini, alih-alih sekadar "konversi" yang mengimplikasikan perubahan searah, menunjukkan dinamika kepercayaan yang kompleks dan terus berkembang di era modern.

Laporan yang dirilis pada Minggu (6/4/2025) ini menyoroti bahwa agama Kristen dan Buddha mengalami kerugian signifikan akibat perpindahan ini.

Baca Juga: Libur Lebaran, Kampung Petualangan Buluh Dipadati Pengunjung

Sementara itu, kelompok "tidak berafiliasi" atau mereka yang mengidentifikasi diri sebagai ateis, agnostik, atau "tidak memiliki agama tertentu" justru mengalami lonjakan pengikut.

Dalam konteks laporan ini, perpindahan agama didefinisikan sebagai perubahan antara kelompok agama tempat seseorang dibesarkan di masa kanak-kanak dan identitas agama yang mereka anut saat ini di usia dewasa.

Para peneliti Pew Research sengaja menggunakan istilah "perpindahan agama" untuk mencakup berbagai arah perubahan, termasuk individu yang tumbuh dalam suatu agama namun kini tidak lagi memiliki afiliasi agama.

Baca Juga: Bukan main! Bukan Kunjungan Kenegaraan, Prabowo Jemput Ajudan Kepercayaan

Studi ini fokus pada perubahan antar kategori agama besar (misalnya, dari Buddha ke Kristen, atau dari Hindu ke tidak berafiliasi) dan tidak mencakup perpindahan antar denominasi dalam agama yang sama (misalnya, dari satu aliran Kristen ke aliran Kristen lainnya).

Tingkat perpindahan agama sangat bervariasi di seluruh dunia. Beberapa negara menunjukkan tingkat retensi agama yang sangat tinggi.

Di India, Israel, Nigeria, dan Thailand, lebih dari 95% orang dewasa menyatakan masih menganut agama yang sama dengan agama masa kecil mereka.

Baca Juga: Buntut Penyunatan Insentif Sopir Angkot Jabar: Kabid Dishub Bogor Diundang Makan Malam Gubernur, Syaratnya Bikin Merinding!

Namun, pemandangan yang berbeda terlihat di Asia Timur, Eropa Barat, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Perpindahan agama menjadi fenomena yang cukup umum di wilayah-wilayah ini.

Contohnya, separuh populasi dewasa di Korea Selatan (50%), lebih dari sepertiga di Belanda (36%), lebih dari seperempat di Amerika Serikat (28%), dan sekitar seperlima di Brasil (21%) tidak lagi mengidentifikasi diri dengan agama masa kecil mereka.

Baca Juga: Harga Emas Logam Mulia Turun Hari ini, Update Per 7 April 2025

Ke Mana Mereka Berpindah? Gelombang Besar Menuju "Tidak Berafiliasi"

Data menunjukkan bahwa sebagian besar individu yang meninggalkan agama masa kecil mereka cenderung bergabung dengan kategori "tidak berafiliasi".

Kelompok ini mencakup mereka yang menjawab pertanyaan tentang agama dengan menyatakan diri sebagai ateis, agnostik, atau "tidak memiliki agama tertentu".

Menariknya, banyak dari mereka yang kini tidak berafiliasi dulunya dibesarkan sebagai penganut Kristen.

Baca Juga: Ramai Beredar Isu Permadi Arya Alias Abu Janda Jadi Komisaris Jasa Marga, JMTO Beri Tanggapan

Di Swedia, misalnya, hampir 30% orang dewasa yang disurvei menyatakan dibesarkan sebagai Kristen, namun kini menggambarkan diri mereka sebagai ateis, agnostik, atau tidak beragama.

Agama Buddha juga mengalami kehilangan pengikut yang signifikan di beberapa negara akibat fenomena ini.

Di Jepang, 23% orang dewasa yang disurvei yang dulunya beragama Buddha kini tidak lagi memiliki afiliasi agama. Angka ini juga cukup tinggi di Korea Selatan, mencapai 13%.

Baca Juga: Usai Viral Liburan Tanpa Izin, Bupati Indramayu Lucky Hakim Ditegur Dedi Mulyadi Hingga Dapat Kena Sanksi

Namun, Ada Juga yang Kembali atau Menemukan Iman Baru

Meskipun tren dominan menunjukkan perpindahan menjauhi agama, survei ini juga mencatat adanya pergerakan ke arah sebaliknya.

Korea Selatan menjadi negara dengan proporsi tertinggi orang dewasa yang dibesarkan tanpa afiliasi agama namun kini memiliki keyakinan (9%).

Sebagian besar dari mereka (6% dari total populasi dewasa Korea Selatan) kini menjadi Kristen.

Baca Juga: Kecelakaan Mudik Lebaran 2025 Diklaim Menurun, Menhub Minta Pemudik Hati-hati Berkendara Saat Arus Balik

Selain itu, sekitar satu dari sepuluh orang dewasa atau lebih di Singapura (13%), Afrika Selatan (12%), dan Korea Selatan (11%) tercatat telah berpindah antara dua agama yang berbeda.

Kristen dan Buddha: Kehilangan Pengikut Terbesar

Analisis lebih lanjut mengenai keuntungan dan kerugian bersih antar kelompok agama mengungkapkan bahwa agama Kristen mengalami kerugian bersih terbesar di sebagian besar negara yang disurvei.

Baca Juga: Menpan RB Izinkan ASN Untuk WFA Pada 8 April 2025 Antisipasi Arus Mudik, Dengan Syarat Ini

Di Jerman, misalnya, rasio orang yang meninggalkan Kristen dibandingkan yang bergabung adalah hampir 20 banding 1. Ini menunjukkan arus keluar yang signifikan dari agama Kristen.

Namun, ada pengecualian. Di Singapura, agama Kristen justru mengalami keuntungan kecil, dengan rasio 1 banding 3,2 antara yang keluar dan yang masuk.

Di beberapa tempat lain, seperti Nigeria, jumlah yang keluar dan masuk Kristen relatif seimbang.

Baca Juga: Ikut Pantau Arus Balik Lebaran 2025, Wakil Presiden Gibran Beri Pesan Begini untuk Jasa Marga

Agama Buddha juga menunjukkan kerugian bersih yang besar di beberapa negara, terutama di Jepang, Singapura, dan Korea Selatan, sebagian besar disebabkan oleh mereka yang tidak lagi memiliki afiliasi agama.

Meskipun rasionya tidak setinggi Kristen, di Jepang, perbandingan antara yang meninggalkan Buddha dan yang bergabung adalah 11,7 banding 1.

Baca Juga: Bayar Pajak Kendaraan Tanpa KTP Asli? Samsat Tinggalkan Cara Lama, Buka Opsi Baru yang Bikin Lega!

"Tidak Berafiliasi": Sang Pemenang dalam Arus Perpindahan Agama

Kelompok "tidak berafiliasi" muncul sebagai penerima manfaat terbesar dari perpindahan agama.

Di negara-negara dengan populasi "tidak beragama" yang besar, jumlah responden yang tidak berafiliasi jauh lebih banyak daripada mereka yang bergabung dengan suatu agama setelah dibesarkan tanpa agama.

Baca Juga: Heboh! Arogansi Ajudan Kapolri: Lakukan Pemukulan Seorang Jurnalis di Semarang, Kecaman Meluas!

Di Italia, rasionya bahkan mencapai 1 banding 28,7.

Namun, Hungaria menunjukkan tren yang berbeda.

Di sana, untuk setiap orang yang tidak lagi beragama, hampir dua orang lainnya yang dibesarkan tanpa agama kini mengidentifikasi diri dengan suatu agama, dan sebagian besar dari mereka menjadi Kristen.

Implikasi dan Pertanyaan ke Depan

Studi Pew Research Center ini memberikan gambaran yang jelas tentang lanskap keagamaan global yang dinamis.

Baca Juga: Pemerintah Terkesan Bungkam atas Kebijakan Baru Tarif Impor AS dan Parahnya Permendag No 8 Tahun 2023 Belum juga Dicabut

Fenomena perpindahan agama, dengan arus besar menuju kelompok "tidak berafiliasi" dan kerugian signifikan yang dialami oleh agama-agama besar seperti Kristen dan Buddha di banyak negara, memunculkan berbagai pertanyaan penting.

Faktor-faktor apa yang mendorong individu untuk meninggalkan agama masa kecil mereka?

Mengapa kelompok "tidak berafiliasi" menjadi pilihan yang semakin populer?

Bagaimana tren ini akan memengaruhi struktur sosial dan budaya di masa depan?

Baca Juga: Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta Menduga Bank DKI Alami Serangan Siber dan Kerugiannya tidak Sedikit

Meskipun data ini hanya mencakup 36 negara, temuan ini memberikan wawasan berharga tentang perubahan kepercayaan di era globalisasi dan individualisasi.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara mendalam akar penyebab dan konsekuensi dari gelombang perpindahan agama yang sedang berlangsung ini.

Satu hal yang pasti, peta keagamaan dunia terus mengalami transformasi yang signifikan (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman