Jet Pribadi, Piala Dunia, dan Emisi Karbon: Presiden FIFA Disorot, Janji Ramah Lingkungan Dipertanyakan

AKURAT BANTEN - Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan drama di atas lapangan. Di luar pertandingan, perhatian publik kini tertuju kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang menuai kritik terkait intensitas perjalanan udaranya selama turnamen berlangsung.
Sorotan itu muncul setelah sejumlah kelompok pemerhati lingkungan mempertanyakan penggunaan pesawat untuk mobilitas Infantino di tengah kampanye keberlanjutan yang selama ini digaungkan FIFA.
Kritik tersebut menjadi semakin tajam karena Piala Dunia 2026 sejak awal telah dipromosikan sebagai turnamen yang berupaya mengurangi dampak lingkungan dan menerapkan berbagai program keberlanjutan.
Menurut laporan yang menjadi perhatian berbagai media internasional, Infantino tercatat menghadiri sejumlah pertandingan di kota-kota berbeda dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Baca Juga: Dicibir Setelah Laga Pertama, Ronaldo Langsung Cetak Rekor Bersejarah yang Hanya Bisa Disamai Messi
Dengan wilayah penyelenggaraan yang membentang di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, perjalanan udara praktis menjadi satu-satunya cara untuk memungkinkan kehadiran di banyak lokasi dalam waktu berdekatan.
Namun justru di situlah letak kritik yang muncul. Para aktivis lingkungan menilai penggunaan penerbangan yang intensif menghasilkan jejak karbon yang besar, terutama ketika FIFA dalam beberapa tahun terakhir terus mengampanyekan komitmen terhadap pengurangan emisi dan pembangunan sepak bola yang lebih berkelanjutan.
Kontroversi ini kembali menghidupkan perdebatan lama mengenai dampak lingkungan dari ajang olahraga terbesar dunia. Piala Dunia 2026 sendiri merupakan edisi pertama yang melibatkan 48 negara peserta dan diselenggarakan di tiga negara sekaligus.
Format baru tersebut membuat jarak perjalanan tim, ofisial, media, sponsor, dan suporter menjadi jauh lebih besar dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Baca Juga: Ronaldo Berteriak "Saya Kembali!", Zlatan Langsung Menyentil: "Dia Tidak Pernah Pergi ke Mana-Mana"
Sejumlah peneliti dan organisasi lingkungan sebelumnya memang telah memperingatkan bahwa Piala Dunia 2026 berpotensi menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi dibanding banyak turnamen sebelumnya.
Faktor utama yang menjadi sorotan adalah kebutuhan transportasi udara yang sangat besar untuk menghubungkan puluhan kota tuan rumah yang tersebar di kawasan Amerika Utara.
Meski demikian, FIFA berulang kali menegaskan bahwa mereka memiliki berbagai program untuk mengurangi dampak lingkungan turnamen. Organisasi sepak bola dunia tersebut telah memperkenalkan sejumlah inisiatif keberlanjutan, mulai dari pengelolaan limbah stadion, penggunaan energi yang lebih efisien, hingga program kompensasi karbon.
Di sisi lain, para pengkritik menilai bahwa langkah-langkah tersebut tidak akan cukup apabila aktivitas yang menghasilkan emisi tinggi tetap berlangsung dalam skala besar. Mereka berpendapat bahwa figur penting seperti Presiden FIFA seharusnya menjadi contoh dalam penerapan prinsip keberlanjutan yang selama ini dipromosikan organisasi tersebut.
Baca Juga: Prediksi Skor Skotlandia vs Brasil: Pertaruhan Tiket 32 Besar, Akankah Brasil Tergelincir?
Perdebatan ini juga mencerminkan tantangan yang semakin besar bagi dunia olahraga modern. Turnamen berskala global memang mampu menyatukan jutaan orang dan menghasilkan dampak ekonomi yang besar, tetapi pada saat yang sama juga menimbulkan pertanyaan mengenai konsekuensi lingkungannya.
Bagi FIFA, kritik terhadap perjalanan udara Infantino datang pada saat yang kurang ideal. Di atas lapangan, Piala Dunia 2026 sejauh ini berlangsung sukses dengan rekor jumlah peserta, tingginya angka penonton, dan banyaknya momen bersejarah yang tercipta sejak fase grup. Namun di luar lapangan, isu keberlanjutan kembali menjadi bahan diskusi yang sulit dihindari.
Pendukung FIFA berargumen bahwa kehadiran langsung Presiden FIFA di berbagai lokasi merupakan bagian penting dari tugasnya sebagai pemimpin organisasi. Dengan turnamen yang tersebar di tiga negara dan belasan kota tuan rumah, mobilitas tinggi dianggap tidak terelakkan.
Meski begitu, kritik yang muncul menunjukkan bahwa publik kini semakin memperhatikan konsistensi antara pesan yang disampaikan organisasi olahraga dengan praktik yang dilakukan para pemimpinnya.
Baca Juga: Rekornya Dipecahkan Messi, Klose Malah Angkat Topi: "Dia Pemain Terbaik Sepanjang Masa"
Piala Dunia 2026 mungkin akan dikenang karena gol-gol spektakuler, rekor-rekor baru, dan kejutan di lapangan. Namun di balik gemerlap pertandingan, kontroversi mengenai emisi karbon dan keberlanjutan mengingatkan bahwa sepak bola modern kini tidak hanya dinilai dari apa yang terjadi di lapangan hijau, tetapi juga dari dampaknya terhadap dunia di luar stadion.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Hakim Saldi Isra Cecar Bawaslu soal Syarat Pendidikan Gibran, 'Dipantau Enggak?'
- 2Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 3Jika Gugatan Gibran Dikabulkan MK, Yusril Bicara Dampaknya, ‘Saya Tidak Bisa Membayangkan’
- 4Belum Mahir Menyetir, Sopir Pickup SPPG Cibaliung 2 Tabrak 3 Relawan Sampai Terkapar
- 5Mahfud MD Bongkar Sorotan ke Prabowo, 'Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat'
- 6Denny Indrayana Bongkar Suket Gibran, 'Diajukan dan Terbit di Hari yang Sama, Kok Bisa?'
- 7Jika Gibran Didiskualifikasi MK, 3 Nama Ini Muncul Jadi Wapres Pengganti, Ada AHY dan Anies
- 8Terungkap Dokumen Grade 12 Gibran di UTS Insearch Kembali Dipersoalkan, Disebut Bukan Ijazah SMA
- 9Gugatan Gibran di MK Disebut KPU Bisa Masuk Ranah Pemakzulan, Ini Alasannya
- 10Sidang Gibran di MK Bikin Terkejut, KPU Akui Tak Cek Langsung Dokumen Pendidikan









