Soal Bertahan di Dunia Konten, Raditya Dika Pilih Pegang Satu Kunci, Begini Katanya

AKURAT BANTEN - Artis sekaligus komika Raditya Dika membagikan pengalamannya menjaga konsistensi berkarya di berbagai bidang, mulai dari stand-up comedy, penulisan buku, film, hingga podcast. Ia menilai kemampuan bercerita atau storytelling menjadi fondasi utama yang membuatnya bisa beradaptasi di banyak medium.
Pandangan itu disampaikan Raditya saat berbincang dengan praktisi bisnis sekaligus akademisi Rhenald Kasali dalam tayangan di kanal YouTube Prof Rhenald Kasali, Jumat, 6 Februari 2026.
Percakapan tersebut membahas perjalanan kreatif Raditya yang dinilai mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan tren konten.
Baca Juga: Purbaya Rombak Struktur Strategis Kemenkeu, 43 Pejabat Resmi Dilantik
Rhenald Kasali mengaku penasaran dengan kiprah Raditya Dika yang seolah selalu relevan. Menurutnya, tidak banyak kreator yang bisa sukses sebagai penulis, komika, aktor, sekaligus kreator digital dalam waktu yang panjang.
“Raditya ini menarik, hampir semua medium dia masuki dan audiensnya tetap ada. Dari novel, film, stand-up comedy, sampai podcast yang ditonton jutaan orang. Sebenarnya apa kuncinya?” ujar Rhenald Kasali.
Menanggapi hal itu, Raditya menyebut kuncinya bukan pada banyaknya platform, melainkan pada pemahaman terhadap satu kemampuan inti yang benar-benar dikuasai.
Baca Juga: PT Dirgantara Indonesia Tancap Gas ke Pasar Global, Garap Drone Pertanian hingga Penumpang
“Menurut aku, kita harus sadar skill spesifik apa yang paling kita kuasai, lalu skill itu diterapkan ke medium apa pun,” kata Raditya Dika.
Ia menjelaskan bahwa sejak awal dirinya menyadari kekuatan terbesarnya ada pada storytelling. Kemampuan tersebut kemudian ia bawa ke berbagai panggung dan format, tanpa harus mengubah jati diri berkaryanya.
“Kebetulan skill spesifik aku adalah bercerita. Mau itu di buku, stand-up, film, atau podcast, yang aku lakukan sebenarnya sama, yaitu bercerita,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Tangsel Tahan Pembayaran, 1.800 Honorer Terkendala Dasar Hukum
Raditya juga menuturkan, ketertarikannya pada stand-up comedy berawal dari keinginannya mengasah kemampuan bercerita secara langsung di hadapan audiens.
“Aku suka suasana stand-up karena di situ aku bisa cerita, dan orang-orang benar-benar mendengarkan sampai tertawa bareng,” ungkapnya.
Tak hanya di panggung, Raditya membawa pendekatan serupa ke konten podcast yang ia kelola. Ia memilih konsep obrolan yang mengalir agar pendengar merasa seperti sedang mendengarkan cerita, bukan wawancara formal.
Baca Juga: Bimtek PPP di Bali Gagal Digelar, Tarik Ulur Kekuasaan Internal Partai Kian Terbuka
“Di podcast, aku juga fokus ke cerita. Aku pengin suasananya nyaman, kayak lagi dengerin orang ngobrol dan bercerita,” tuturnya.
Penulis buku Timun Jelita (2025) itu menambahkan, selain memahami kekuatan diri, kreator juga harus mau terus belajar dan mengevaluasi karya yang dihasilkan.
“Aku cuma menerapkan skill itu ke berbagai medium, sisanya belajar. Evaluasi, perbaiki, belajar lagi. Proses itu yang bikin kita berkembang,” pungkas Raditya Dika.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






