Banten

Lahan Siap Panen Hancur Diterjang Banjir Tapanuli Tengah Warga Menangis Tak Berdaya

Moehamad Dheny Permana | 11 Desember 2025, 05:06 WIB
Lahan Siap Panen Hancur Diterjang Banjir Tapanuli Tengah Warga Menangis Tak Berdaya

Akurat Banten - Kebun dan sawah yang seharusnya menjadi sumber harapan bagi warga Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, berubah menjadi pemandangan memilukan setelah banjir dan longsor meratakan hampir seluruh area pertanian yang tengah memasuki masa panen.

Di pengungsian yang penuh sesak, Asidin Sitompul, petani berusia 62 tahun dari Lingkungan IV, hanya bisa menatap kosong mengingat hasil jerih payahnya hilang begitu saja.

“Semua sedang masa panen, pak, tapi habis rusak semua, tak tersisa karena bencana ini,” tuturnya.

Ia menceritakan bagaimana rumah sederhana yang ia tempati bersama keluarganya sudah rata dengan tanah, sementara akses menuju kebunnya benar-benar putus.

Jalan yang biasanya ia lewati kini hancur dan tertutup material longsor, sehingga mustahil dilalui, bahkan dengan berjalan kaki.

Di kebun seluas empat hektare yang diisi ratusan pohon kakao dan durian, buah-buah yang sudah matang hanya bisa dibiarkan membusuk tanpa sempat dipanen.

Baca Juga: P3C Protes Lahan Parkir Gang Bancet Dipasar Ciputat, Minta PT Betania Hentikan Aktivitas

“Asal dipikul pun percuma, pak, tiga jam jalan melintasi bukit, sampai di bawah harganya hancur, rugi semua,” ujarnya.

Kesedihan serupa juga dirasakan Keisia, petani berumur 52 tahun yang sawahnya di Lingkungan I tertimbun material yang dibawa arus banjir.

“Rumah hancur, sawah rusak, mau bagaimana lagi kami ini,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa untuk bertahan hidup, warga kini hanya mengandalkan stok beras seadanya yang disimpan sebelum bencana terjadi, dan itu pun dibagi bersama pengungsi lain.

Huta Nabolon menjadi salah satu wilayah paling parah terdampak sejak banjir besar disertai longsor menghantam kawasan tersebut pada 25 November lalu, menelan korban jiwa dan merusak permukiman serta infrastruktur vital.

Wilayah ini juga menjadi lokasi gelondongan balok kayu besar yang terseret banjir dua pekan lalu dan viral di berbagai platform media sosial.

Kerusakan terpusat di Lingkungan IV, Lingkungan V, dan area menuju bukit Sigiring-giring, di mana material lumpur, batu, dan potongan kayu menghancurkan sedikitnya 150 hingga 200 rumah warga.

Selain permukiman, jalan utama yang menghubungkan Huta Nabolon dan Tukka terputus total, membuat akses bantuan terhambat hingga hari ke-13 masa tanggap darurat.

Baca Juga: PILU MENCEKIK: Suami Pasrah, Calon Bayi dan Istri Tewas di Lantai 5 Kebakaran Terra Drone, Padahal Tinggal Sebulan Melahirkan

Warga yang bertahan di pengungsian mengaku masih banyak kerabat dan tetangga mereka yang belum ditemukan karena diduga tertimbun material banjir.

Mereka berharap tim SAR gabungan bisa segera mencapai lokasi-lokasi yang hingga kini masih sulit dijangkau.

Di tengah keterpurukan itu, para petani hanya bisa berharap ada keajaiban yang mampu memulihkan kembali kehidupan mereka, meski kenyataan di depan mata menunjukkan bahwa jalan menuju pemulihan masih sangat panjang.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.