Banten

Iran Tegaskan Menolak Negosiasi dengan Amerika Serikat di Tengah Tawaran Mediasi Internasional

Riski Endah Setyawati | 6 Maret 2026, 09:57 WIB
Iran Tegaskan Menolak Negosiasi dengan Amerika Serikat di Tengah Tawaran Mediasi Internasional
Dubes Iran (Istimewa)

Akurat Banten - Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi kembali menegaskan sikap keras pemerintah Teheran terkait konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Ia menekankan bahwa Iran tidak akan menerima tawaran mediasi dari berbagai negara apabila proses tersebut melibatkan perundingan dengan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan Boroujerdi ketika ditemui di kediamannya di Jakarta pada Kamis.

Komentar itu muncul sebagai respons atas pernyataan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang sebelumnya menyatakan kesiapan Indonesia untuk membantu memfasilitasi dialog damai.

Pemerintah Indonesia juga sempat menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto bersedia mengambil peran sebagai mediator guna meredakan ketegangan di kawasan tersebut.

Baca Juga: Gagalkan Peredaran 2.000 Pil Ekstasi di Cililitan, Polisi Ringkus Pelajar 24 Tahun di Depan PGC

Namun, Boroujerdi menyatakan bahwa pemerintah Iran tidak memiliki kepercayaan lagi terhadap proses perundingan dengan Washington.

Menurutnya, pengalaman masa lalu menjadi alasan utama Iran menolak kembali duduk di meja perundingan dengan Amerika Serikat.

Ia menjelaskan bahwa Iran setidaknya telah tiga kali menjalani proses negosiasi dengan pemerintah Amerika Serikat.

Dalam setiap kesempatan tersebut, kata dia, hasilnya selalu berakhir dengan pelanggaran kesepakatan atau tindakan militer dari pihak Washington.

Boroujerdi kemudian menjelaskan kronologi beberapa perundingan yang pernah terjadi antara kedua negara tersebut.

Negosiasi pertama berkaitan dengan program nuklir Iran yang menghasilkan kesepakatan internasional bernama Joint Comprehensive Plan of Action atau JCPOA pada tahun 2015.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Takjil Menyegarkan untuk Buka Puasa, Manisnya Bikin Energi Langsung Kembali!

Kesepakatan tersebut melibatkan Iran dan sejumlah negara besar dunia yang berupaya mengatur serta mengawasi pengembangan program nuklir Teheran.

Namun, menurut Boroujerdi, Amerika Serikat kemudian memutuskan untuk menarik diri dari kesepakatan itu secara sepihak.

Langkah tersebut dinilai sebagai bukti bahwa komitmen yang dibangun melalui proses diplomasi tidak dapat dipercaya.

Ia juga menyinggung proses negosiasi berikutnya yang berlangsung dalam lima putaran perundingan.

Dalam proses tersebut, menurut Boroujerdi, dialog masih berlangsung ketika serangan terhadap Iran justru terjadi.

“Negosiasi kedua adalah lima putaran kami melakukan negosiasi dengan mereka dan di tengah-tengah negosiasi mereka telah menyerang negara kami,” ujarnya.

Pernyataan tersebut merujuk pada serangan yang terjadi pada Juni 2025 lalu.

Boroujerdi juga mengungkapkan bahwa upaya diplomasi ketiga pernah dilakukan melalui mediasi Oman.

Baca Juga: DPR Desak Pemerintah Bertindak Tegas terhadap Meta yang Dinilai Abai Aturan di Indonesia

Dalam proses tersebut, Iran dan Amerika Serikat melakukan pembicaraan tidak langsung dengan perantara pihak ketiga.

Putaran perundingan tersebut sempat berlangsung di Jenewa, Swiss.

Saat itu delegasi dari kedua negara sedang menjalani putaran ketiga dialog tidak langsung.

Namun proses diplomasi tersebut kembali terhenti ketika operasi militer antara kedua pihak terjadi.

Rangkaian pengalaman tersebut, kata Boroujerdi, membuat Iran menilai bahwa proses negosiasi tidak memberikan jaminan keamanan maupun komitmen yang jelas.

Ia menilai setiap perundingan yang pernah dijalani Iran berakhir tanpa hasil yang diharapkan.

Karena itu, pemerintah Iran menyatakan tidak akan lagi membuka ruang perundingan dalam konflik yang sedang berlangsung saat ini.

Boroujerdi juga menegaskan bahwa Iran memilih untuk fokus mempertahankan kepentingan nasionalnya.

“Ini berkaitan dengan komitmen terhadap sebuah negosiasi dan jaminan akan berlangsungnya sebuah negosiasi sampai pencapaian hasil,” ujarnya.

“Untuk kali ini kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apapun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran,” lanjutnya.

Sementara itu, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menawarkan diri sebagai mediator dalam konflik tersebut.

Sejumlah pemimpin dunia juga menyampaikan kesiapan mereka untuk membantu meredakan ketegangan.

Presiden Rusia Vladimir Putin termasuk di antara pemimpin yang menyatakan kesediaan untuk berperan sebagai penengah.

Menurut pernyataan resmi Kremlin, Putin bahkan telah menawarkan diri sebagai perantara diplomatik.

Langkah tersebut dilakukan dengan menyampaikan keluhan dari Uni Emirat Arab terkait serangan yang terjadi kepada pihak Iran.

Informasi itu disampaikan setelah percakapan telepon antara Putin dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Percakapan tersebut menjadi bagian dari upaya diplomatik yang dilakukan sejumlah negara guna meredakan konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Meski berbagai tawaran mediasi terus berdatangan, Iran tetap bersikeras bahwa saat ini mereka tidak akan membuka pintu perundingan dengan Amerika Serikat.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.