Banten

Sembilan Siswa Sekolah Rakyat 33 Tangsel Mengundurkan Diri, DPR RI Soroti Penyebabnya

Irsyad Mohammad | 17 September 2025, 17:39 WIB
Sembilan Siswa Sekolah Rakyat 33 Tangsel Mengundurkan Diri, DPR RI Soroti Penyebabnya

AKURAT BANTEN - Program Sekolah Rakyat 33 di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali menjadi sorotan publik. Dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI ke sekolah tersebut pada Rabu (17/9/2025), terungkap bahwa sembilan siswa dinyatakan mengundurkan diri sejak program berjalan satu bulan terakhir.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Haeny Relawati Rini Widyastuti, menyampaikan bahwa laporan itu diterimanya langsung dari Wali Kota Tangsel.

Ia menyebutkan, jumlah siswa yang awalnya 150 kini berkurang menjadi 141 orang.

Baca Juga: Prabowo Reshuffle Kabinet Lagi, Nama Ahmad Dofiri hingga Mahfud MD Muncul di Jajaran Penting Ini

"Tadi saya mendengar laporan dari Wali Kota Tangsel, bahwa ada sembilan siswa di sekolah rakyat 33 ini yang mengundurkan diri. Jadi di awal ada 150 sekarang tersisa 141 siswa," ujar Haeny saat forum diskusi bersama Kemensos dan pihak sekolah.

Haeny menegaskan perlunya penjelasan mendalam mengenai penyebab pengunduran diri tersebut, termasuk latar belakang ekonomi siswa yang mundur.

Ia juga mempertanyakan metode seleksi yang diterapkan serta asesmen yang dilakukan selama siswa mengikuti program.

Baca Juga: 18 Ribu Guru Negeri dan Swasta di Kabupaten Tangerang Akan Terima MBG

"Saya mohon penjelasan penyebabnya apa, dan itu berasal dari desil berapa saja. Karena tujuan dari Presiden sangat baik, yaitu untuk memuliakan dan mengurangi kemiskinan," sambungnya.

Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia, Suratna, menjelaskan bahwa proses rekrutmen siswa dilakukan tanpa psikotes, melainkan dengan metode talent mapping.

Dari hasil evaluasi, penyebab pengunduran diri para siswa beragam, mulai dari faktor kedisiplinan hingga masalah pribadi.

Baca Juga: Pelajar Tewas Terlindas Truk Sampah di Jalan Raya Mauk, Polisi Lakukan Penyelidikan

"Untuk anak-anak yang mengundurkan diri, alasannya karena siswa ini belum kuat untuk hidup disiplin ketat, seperti bangun subuh, mandi, olahraga, dan kegiatan lainnya," kata Suratna.

Selain faktor penyesuaian pola hidup, ada pula siswa yang memilih mundur karena ingin kebebasan yang lebih longgar di luar sekolah.

"Mereka juga masih ingin jajan di luar, meski kami sudah berupaya memberikan snack. Jadi tidak hanya makanan kue saja, tapi juga sesuai dengan keinginan anak-anak," imbuhnya.

Suratna juga mengatakan, tidak sedikit pula yang terpaksa mundur karena beban psikologis akibat kondisi keluarga.

"Terus ada juga yang mengundurkan diri karena terkena masalah pribadi, seperti orangtuanya yang bercerai, sehingga mereka merasa dibuang saat disekolahkan di sini," jelasnya.

Baca Juga: Dinkes Tangerang Catat 35 Kasus Campak, Terbanyak di Kosambi dan Teluknaga

Pihak sekolah, lanjut Suratna, sebenarnya telah memberikan pendampingan melalui bimbingan konseling. Namun keterbatasan tenaga pendidik membuat layanan itu belum maksimal.

"Memang guru BK di sini hanya satu, dan agak penuh mungkin harus mengatur waktu lebih dalam lagi untuk melayani 141 anak-anak yang memang butuh pelayanan spesial," ucapnya.

Kondisi ini membuat sebagian siswa merasa kurang mendapat perhatian, meski pihak sekolah berupaya menjaga agar mereka tetap bertahan.

Baca Juga: Cara Cetak DRH PPPK Paruh Waktu 2025, Kertas yang Dipakai Bikin Banyak Peserta Keliru

Meski demikian, Suratna memastikan bahwa kekosongan akibat sembilan siswa yang keluar akan segera diisi.

Rekrutmen baru akan dilakukan dengan berkoordinasi bersama Dinas Sosial, dengan prioritas penerimaan berasal dari keluarga miskin.

"Kami akan koordinasi dengan Dinas Sosial untuk mencari gantinya, yang tentunya merupakan masyarakat dari Desil 1 dan Desil 2," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.