Banten

Teknologi Jadi Pedang Bermata Dua, Generasi Z Hadapi Risiko Kelelahan Digital

Moehamad Dheny Permana | 10 September 2025, 20:08 WIB
Teknologi Jadi Pedang Bermata Dua, Generasi Z Hadapi Risiko Kelelahan Digital

Akurat Banten - Di tengah derasnya arus digitalisasi, generasi muda kini dihadapkan pada tantangan baru yang tak kalah serius: kelelahan digital.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Taufiqur Rahman, mengingatkan bahwa generasi Z menjadi kelompok paling rawan terhadap kondisi ini.

“Digital fatigue itu nyata. Gejalanya bisa berupa lelah fisik maupun mental akibat terlalu sering berinteraksi dengan gawai,” kata Taufiq.

Fenomena tersebut semakin mudah ditemui di kalangan mahasiswa.

Mereka hampir setiap hari tenggelam dalam aktivitas daring, mulai dari perkuliahan, mengerjakan tugas, hingga interaksi sosial yang didominasi media digital.

Menurut Taufiq, dampaknya tidak bisa dipandang remeh.

Selain mengganggu konsentrasi belajar, kelelahan digital juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan mental.

“Kalau dibiarkan, kelelahan fisik bisa berkembang menjadi persoalan psikis. Dari sekadar mata tegang hingga bisa berujung depresi,” jelasnya.

Baca Juga: Kadin Nilai Perubahan Kabinet Bisa Perkuat Sektor Riil dan Industri Nasional

Gejala lain yang kerap muncul antara lain sulit fokus, cepat merasa letih, hingga sakit kepala.

Kondisi itu diperparah oleh derasnya informasi yang dikonsumsi mahasiswa setiap hari.

Arus konten yang tiada henti membuat otak harus bekerja ekstra, menambah beban mental yang sudah berat.

Menurutnya, keterhubungan yang terus-menerus dengan dunia maya membuat mahasiswa seakan tidak punya jeda untuk bernapas.

Padahal, kata Taufiq, gawai dan internet tidak mungkin bisa dipisahkan dari kehidupan modern.

“Solusinya bukan menjauhi teknologi, tapi bagaimana kita bisa menggunakannya secara seimbang,” ujarnya.

Ia pun menawarkan jalan keluar berupa digital detox.

Langkah sederhana ini bisa dilakukan dengan membatasi penggunaan media digital hanya pada hal-hal penting, serta menghindari kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan jelas.

“Kalau sudah merasa mata sering lelah, susah konsentrasi, atau gampang capek, itu tanda waktunya digital detox,” kata Taufiq.

Ia menambahkan, mengurangi jam penggunaan media sosial, memberikan waktu khusus untuk beristirahat dari layar, hingga lebih banyak beraktivitas di dunia nyata bisa membantu memulihkan kondisi.

Meski terdengar sederhana, menurutnya, kebiasaan ini efektif mencegah mahasiswa terjebak lebih jauh dalam kelelahan digital.

Kesadaran akan bahaya digital fatigue, imbuh Taufiq, harus segera dibangun di lingkungan kampus.

Bukan hanya mahasiswa yang perlu waspada, tetapi juga dosen dan institusi pendidikan agar lebih bijak dalam mendorong pemanfaatan teknologi.

Baca Juga: Kemendagri Minta Pemkab Tangerang Aktifkan Kembali Siskamling

Ia menegaskan, digitalisasi memang membawa banyak manfaat, namun jika tidak diimbangi dengan kesadaran penggunaan, justru bisa menjadi pedang bermata dua.

“Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tapi kita bisa memilih cara terbaik agar teknologi tidak mengendalikan kita,” pungkasnya.

Fenomena kelelahan digital di kalangan generasi Z kini menjadi alarm bagi dunia pendidikan.

Dengan kesadaran sejak dini, diharapkan mahasiswa dapat menemukan keseimbangan antara kehidupan daring dan aktivitas nyata, sehingga teknologi tetap menjadi alat bantu, bukan sumber masalah.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.