Tragis! Puluhan Warga Tewas dan Terluka Saat Berebut Makanan di Gaza

AKURAT BANTEN - Dalam dua hari terakhir, setidaknya sepuluh warga Gaza meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka serius ketika mereka berusaha mendapatkan bantuan makanan di tengah krisis kemanusiaan yang makin memburuk di wilayah tersebut.
Pasukan Israel dilaporkan menembaki warga sipil yang tengah mengantre di titik distribusi bantuan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF).
Baca Juga: Ormas Bikin Resah? Bima Arya: Kalau Perlu, Pidanakan dan Bubarkan Saja!
Organisasi ini mendapat dukungan dari Amerika Serikat, namun keberadaannya ditolak oleh banyak lembaga kemanusiaan internasional dan PBB karena dianggap kontroversial.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebutkan bahwa insiden penembakan terjadi di Rafah, wilayah Gaza bagian selatan. Mereka menyatakan,
“Titik-titik distribusi bantuan berubah menjadi zona bahaya yang mematikan di bawah tekanan tembakan pasukan pendudukan.”
Baca Juga: Pemerintah Tambah Kuota Rumah Subsidi Jadi 350 Ribu, Maruarar: KPR Terjangkau, Hunian Berkualitas
Video yang beredar dari lokasi kejadian memperlihatkan ribuan warga yang berdesakan dalam antrean yang sangat ketat di bawah pengamanan militer yang ketat pula. Sedikitnya 62 orang dilaporkan terluka akibat insiden tersebut. Namun, rincian waktu dan lokasi pasti penembakan belum diinformasikan secara resmi oleh pihak berwenang.
Baca Juga: Indonesia Gandeng Kadin Prancis Bangun 1.000 Dapur Gizi Gratis di Seluruh Indonesia
Berita duka lainnya datang dari Gaza tengah, tepatnya di Deir el-Balah. Di sana, dua warga tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam kericuhan saat ribuan warga berusaha memasuki gudang bantuan pangan yang dikelola oleh Program Pangan Dunia (WFP). WFP menegaskan bahwa warga yang sangat kelaparan mendatangi gudang al-Ghafari dengan harapan mendapatkan makanan.
“Gaza sangat membutuhkan peningkatan bantuan pangan yang signifikan agar masyarakat tidak kelaparan,” kata perwakilan WFP.
Krisis ini semakin rumit dengan kritik keras terhadap model distribusi bantuan yang dijalankan oleh GHF. Meski sudah membuka dua dari empat pusat distribusi yang direncanakan, UNRWA, badan pengungsi PBB, menilai langkah ini justru mengalihkan fokus dari sistem bantuan yang selama ini dikelola oleh lembaga-lembaga kemanusiaan yang lebih berpengalaman.
Baca Juga: Jangan Dispelekan, Ini 5 Alasan Kenapa Laptop Perlu Dibersihkan Secara Berkala
Kepala UNRWA dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York menyerukan,
“Biarkan mekanisme kemanusiaan yang sudah ada berfungsi secara optimal untuk menyelamatkan nyawa. Jangan sampai mekanisme baru ini justru melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan.”
Baca Juga: Gibran Tinjau Proyek Kunci di IKN, Pastikan Infrastruktur Siap Sambut Pemerintahan Baru
Sementara itu, Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Sigrid Kaag, menggambarkan situasi bantuan yang masuk ke Gaza ibarat “sekoci penyelamat setelah kapal karam,” yang artinya sangat tidak memadai dibandingkan kebutuhan besar yang ada di lapangan.
Kondisi ini menambah urgensi bagi komunitas internasional untuk segera meningkatkan bantuan secara signifikan agar krisis kemanusiaan tidak semakin memburuk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









