Bikin Tajir di 2025? Ini Perbandingan Obligasi vs Deposito yang Wajib Diketahui Investor!

Akurat Banten - Memasuki tahun 2025, investor semakin selektif dalam memilih instrumen investasi yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga aman dalam jangka menengah hingga panjang.
Dua pilihan yang kerap menjadi pertimbangan adalah obligasi dan deposito. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing, namun manakah yang lebih cuan dan aman di tahun ini?
Obligasi, khususnya obligasi pemerintah seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) atau Sukuk Ritel (SR), menawarkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dibandingkan deposito.
Rata-rata imbal hasil obligasi ritel saat ini berkisar antara 6–7% per tahun.
Baca Juga: Kontroversi Wamil untuk Anak Nakal: Solusi atau Jalan Pintas Pendidikan?
Selain itu, obligasi bisa diperjualbelikan sebelum jatuh tempo, memberikan fleksibilitas likuiditas yang cukup menarik.
Namun, deposito tetap menjadi pilihan utama bagi investor konservatif.
Dengan tingkat suku bunga yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga nominal tertentu, deposito memberikan rasa aman terhadap risiko kehilangan modal.
Walaupun return-nya cenderung lebih rendah, sekitar 3–4% per tahun, stabilitas dan kemudahan pencairan tetap menjadi keunggulan utamanya.
Baca Juga: Jokowi Naik Mobil Tak Bayar Pajak Rp6.368.400 saat Laporan Tudingan Ijazah Palsu
Pada 2025, tren suku bunga acuan diperkirakan tetap fluktuatif mengikuti arah kebijakan bank sentral.
Ini berpotensi memengaruhi kedua instrumen tersebut, meskipun obligasi masih unggul dari sisi potensi cuan jika dikelola dengan strategi yang tepat.
Investor dengan profil risiko moderat hingga agresif lebih cocok memilih obligasi, sementara yang berorientasi pada keamanan dan kepastian sebaiknya mempertahankan dana pada deposito.
Baca Juga: Saham Anjlok! Simak Alasan Mengapa Obligasi Kini Jadi Primadona Investor Cerdas
Dalam menentukan pilihan, penting bagi investor untuk menyesuaikan dengan tujuan keuangan dan toleransi risiko masing-masing.
Kombinasi keduanya pun bisa menjadi strategi diversifikasi yang cerdas untuk menghadapi dinamika pasar di tahun 2025.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 5Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 6Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 7MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 8Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'
- 9Bukan Cuma Menang 4-1, Italia Ukir Sejarah Lewat Kakak-Adik Esposito Setelah Lebih dari 1 Abad
- 10Barcelona Sudah Menggila di Liga Champions, tapi Lamine Yamal Bilang Trofi Tetap Bergantung pada Keberuntungan










