Banten

Lahirnya Cikal Bakal 'HIZBULLAH' di Tandai Ketika Israel Menginvasi Libanon

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 10 November 2023, 13:02 WIB
Lahirnya Cikal Bakal 'HIZBULLAH' di Tandai Ketika Israel Menginvasi Libanon

AKURAT BANTEN - Asal muasal Hizbullah sulit dipastikan. Namun cikal bakalnya bermula setelah Israel menginvasi Libanon selatan sebagai respons terhadap serangan militan Palestina pada 1982, Ketika itu para pemimpin Syiah mendukung respons militan memisahkan diri dari gerakan Amal yang terkemuka.

Organisasi baru, Islamic Amal, menerima banyak dukungan militer dan organisasi dari Garda Revolusi Iran yang berbasis di Lembah Bekaa, Mereka muncul sebagai milisi Syiah yang paling menonjol dan efektif yang kemudian membentuk Hizbullah.

Kelompok tersebut melancarkan serangan ke militer Israel dan sekutunya, Tentara Libanon Selatan (SLA), serta kekuatan asing di Libanon, Mereka diyakini berada di balik pemboman kedutaan AS dan barak Marinir AS pada 1983, yang menyebabkan 258 tentara Amerika dan 58 prajurit Prancis tewas, serta memaksa pasukan penjaga perdamaian Barat untuk mundur.

Pada 1985, Hizbullah secara resmi mengumumkan pendiriannya dengan menerbitkan sebuah "surat terbuka" yang mengidentifikasi AS dan Uni Soviet sebagai musuh utama Islam dan menyerukan "pelenyapan" Israel, yang menurut mereka menduduki tanah umat Muslim.

 

Hizbullah juga menyerukan “penerapan sistem Islam atas dasar pemilihan bebas dan langsung terhadap masyarakat, bukan atas dasar pemaksaan”.
Perjanjian Taif tahun 1989 yang mengakhiri perang saudara di Libanon dan pelucutan senjata milisi mendorong Hizbullah untuk mengubah nama sayap militernya menjadi kekuatan "Perlawanan Islam", yang didedikasikan untuk mengakhiri pendudukan Israel. Hal ini memungkinkan mereka untuk tetap menyimpan senjatanya.

Setelah militer Suriah mengadakan perdamaian di Libanon pada tahun 1990, Hizbullah melanjutkan perang gerilya di Libanon selatan. Pada saat bersamaan, Hizbullah memainkan peran aktif dalam politik Libanon.
Pada tahun 1992, untuk pertama kalinya Hizbullah berhasil berpartisipasi dalam pemilu nasional Libanon.

Ketika pasukan Israel akhirnya mundur pada tahun 2000, Hizbullah dipuji karena berhasil mengusir mereka, Hizbullah menolak tekanan untuk melepaskan senjata dan justru mempertahankan kehadiran militernya di wilayah selatan guna memantau Israel di Peternakan Shebaa dan wilayah sengketa lainnya.

Pada tahun 2006, milisi Hizbullah melancarkan serangan lintas perbatasan yang menewaskan delapan tentara Israel dan menculik dua lainnya, sehingga memicu respons besar-besaran Israel, Pesawat tempur Israel membom sarang Hizbullah di Selatan dan pinggiran selatan Beirut, sementara Hizbullah menembakkan sekitar 4.000 roket ke Israel, Lebih dari 1.125 warga Libanon, sebagian besar warga sipil, tewas dalam konflik 34 hari tersebut, serta 119 tentara Israel dan 45 warga sipil, Hizbullah mampu bertahan dari perang dan tampil lebih berani.

Meskipun kelompok itu telah meningkatkan dan memperluas persenjataannya serta merekrut sejumlah pejuang baru, belum ada gejolak besar di sepanjang wilayah perbatasan, yang kini dipatroli oleh pasukan penjaga perdamaian PBB dan tentara Libanon.

Seberapa besar pengaruh Hizbullah?
Pada tahun 2008, ketika pemerintah Libanon yang didukung Barat memutuskan untuk menutup jaringan telekomunikasi swasta Hizbullah dan memecat kepala keamanan bandara Beirut karena hubungannya dengan kelompok tersebut, Hizbullah menanggapinya dengan merebut sebagian besar ibu kota dan memerangi kelompok Sunni.

Untuk mengakhiri bentrokan sektarian yang menewaskan 81 orang dan membawa Libanon ke ambang perang saudara baru, pemerintah mundur dan perjanjian pembagian kekuasaan memberi Hizbullah dan sekutunya kekuasaan untuk memveto apa pun keputusan kabinet.

Pada pemilu 2009, partai ini memenangkan 10 kursi di parlemen dan tetap berada di pemerintahan persatuan, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Hassan Nasrallah, telah mengeluarkan manifesto politik baru yang menyoroti "visi politik" kelompok tersebut.

Mereka tidak lagi mengacu pada republik Islam yang tercantum dalam manifesto tahun 1985, namun tetap mempertahankan sikap keras terhadap Israel dan Amerika Serikat dan mengatakan Hizbullah perlu mempertahankan kekuatan militernya.

Pada tahun 2011, kelompok tersebut dan sekutunya memaksa kejatuhan pemerintahan persatuan yang dipimpin oleh Saad Hariri, seorang Sunni yang didukung Saudi, dan Hizbullah memperingatkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam karena empat anggotanya dituduh terlibat dalam pembunuhan Rafik Hariri, mantan Perdana Menteri Libanon.

Pada bulan Desember 2020, anggota Hizbullah, Salim Ayyash, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup secara in absentia oleh Pengadilan Khusus Libanon yang didukung PBB karena keterlibatannya dalam pembunuhan tersebut.
Hizbullah dan sekutunya terus menjadi bagian dari pemerintahan berikutnya, dimana mereka mempunyai pengaruh yang besar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.