Rupiah Kembali Tertekan, Dolar AS Menguat dan Sinyal Suku Bunga Tinggi Masih Bertahan

Akurat Banten - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada penutupan perdagangan di Jakarta.
Mata uang Garuda tercatat turun sebesar 27 poin atau sekitar 0,16 persen ke posisi Rp16.829 per dolar AS dibandingkan sebelumnya Rp16.802 per dolar AS.
Pergerakan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat memengaruhi pasar keuangan domestik.
Analis dari Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Taufan Dimas Hareva, menyebut bahwa pelemahan rupiah tidak terlepas dari ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat.
Menurutnya, pelaku pasar masih memperkirakan kebijakan moneter ketat akan berlangsung lebih lama dari yang sebelumnya diprediksi.
Mengacu pada laporan Xinhua, CME FedWatch Tool menunjukkan peluang sebesar 94 persen bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Maret 2026.
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 80 persen.
“Pelemahan rupiah sebesar 27 poin dari posisi sebelumnya di Rp16.802 mencerminkan tekanan eksternal yang masih dominan di pasar keuangan. Penguatan dolar AS terjadi seiring ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi lebih lama,” ujar Taufan.
Baca Juga: 44 Awardee LPDP Kena Sanksi, Delapan Diwajibkan Kembalikan Dana Negara
Selain faktor kebijakan moneter, kondisi ekonomi Amerika Serikat yang relatif solid juga menjadi pendorong menguatnya dolar AS.
Hal ini membuat aset berbasis dolar tetap menarik di mata investor global.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih kompetitif turut memperkuat daya tarik tersebut.
Sejumlah indikator ekonomi terbaru di Negeri Paman Sam juga menunjukkan perbaikan.
Indeks manufaktur Dallas Fed tercatat naik ke level 0,2 dari sebelumnya minus 1,2.
Sementara itu, indeks Chicago National Activity juga meningkat menjadi 0,18 dari sebelumnya minus 0,21.
Data tersebut memberikan sinyal bahwa aktivitas ekonomi AS masih cukup kuat.
Kondisi ini mendorong aliran modal global beralih ke instrumen berbasis dolar AS.
Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan akibat meningkatnya sikap hati-hati investor atau risk aversion.
“Kondisi tersebut mendorong pergeseran arus modal global menuju aset berbasis dolar serta meningkatkan sikap risk aversion terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah,” kata Taufan.
Dari sisi dalam negeri, pelaku pasar juga terus mencermati langkah kebijakan yang diambil otoritas moneter Indonesia.
Konsistensi dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi perhatian utama di tengah tekanan global yang belum mereda.
Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat.
Pertumbuhan ekonomi yang stabil serta tingkat inflasi yang terkendali menjadi faktor penopang.
Namun, dinamika aliran modal asing di pasar obligasi dan saham tetap menjadi variabel penting yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Fluktuasi arus dana asing ini kerap memicu volatilitas di pasar valuta asing domestik.
Di sisi lain, kebutuhan valuta asing untuk impor dan pembayaran kewajiban luar negeri juga menambah tekanan jangka pendek terhadap rupiah.
Permintaan dolar AS yang meningkat untuk kebutuhan tersebut membuat nilai tukar semakin tertekan.
Menurut Taufan, kombinasi berbagai faktor global dan domestik ini membuat pergerakan rupiah masih akan cenderung berfluktuasi dalam waktu dekat.
“Kombinasi sentimen global yang kuat dan faktor domestik yang bersifat teknikal membuat pergerakan rupiah cenderung fluktuatif dalam waktu dekat,” ujarnya.
Sejalan dengan pelemahan di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan penurunan nilai tukar rupiah.
Pada hari yang sama, JISDOR tercatat di level Rp16.830 per dolar AS.
Posisi ini lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya yang berada di Rp16.818 per dolar AS.
Perkembangan tersebut menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut seiring dominasi sentimen global di pasar keuangan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









