Misteri Kematian NS di Sukabumi: Tubuh Penuh Luka Bakar, Isak Tangis Ibu Kandung Tuntut Keadilan

AKURAT BANTEN– Suasana duka menyelimuti Kampung Cileungsir, Kabupaten Sukabumi. Kematian NS (12), sekaligus santriwan yang dikenal periang, menyisakan luka mendalam sekaligus tanda tanya besar yang belum terjawab.
Di balik nisan yang masih basah, tersimpan jerit hati seorang ibu kandung yang menuntut kebenaran di balik kondisi tragis jenazah putranya.
Pertemuan Terakhir yang Memilukan
Lisnawati (31), ibu kandung NS, tak pernah menyangka kepulangannya ke Sukabumi adalah untuk memeluk jasad anaknya yang sudah kaku.
Sejak berpisah dengan ayah kandung NS saat sang anak baru berusia dua tahun, Lisna yang kini menetap di Cianjur memang jarang bertemu langsung dengan putra tercintanya.
Namun, hancur hati Lisna saat melihat kondisi NS sebelum dimakamkan pada Jumat (20/2/2026).
Air matanya tumpah tak terbendung. Bukan sekadar karena kehilangan, melainkan karena melihat kejanggalan yang dianggap tidak wajar pada tubuh buah hatinya.
Kejanggalan yang Mengiris Hati: Luka Bakar dan Lebam
Kematian NS yang terjadi pada Kamis sore (19/2/2026) di RSUD Jampangkulon kini menjadi sorotan publik setelah video kondisi terakhirnya viral di media sosial.
Dalam cuplikan video yang beredar, NS tampak berjuang dalam sisa napasnya dengan kondisi tubuh yang memprihatinkan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan adanya temuan luka bakar di beberapa bagian tubuh korban serta bekas lebam yang mencurigakan.
Bahkan, sebuah pengakuan lirih dari NS sebelum menghembuskan napas terakhir sempat terekam—sebuah anggukan kecil saat ditanya apakah ia pernah dipaksa meminum air panas.
Ibu Tiri Membantah, Keluarga Ibu Kandung Desak Otopsi Tuntas
Selama ini, NS tinggal bersama ayah kandung dan ibu sambungnya, TR (47), di Jampangkulon.
Menanggapi tudingan penganiayaan yang beredar liar, TR dengan tegas membantah telah melakukan kekerasan terhadap anak sambungnya tersebut.
Namun, bagi keluarga besar Lisnawati, bantahan saja tidak cukup.
Rizki Rahmatullah, perwakilan keluarga ibu kandung, menyatakan bahwa ada banyak pernyataan yang tidak sinkron antara pihak ayah kandung dan ibu tiri.
"Kami hanya meminta keadilan. Kami berharap kasus ini dibuka secara terang-benderang. Banyak kejanggalan dari setiap pernyataan yang kami terima," tegas Rizki.
Menanti Keadilan di Meja Hijau
Kasus ini kini menjadi perhatian serius aparat kepolisian. Hasil otopsi diharapkan menjadi kunci pembuka tabir misteri: Apakah NS meninggal karena sakit, ataukah ada tangan dingin yang sengaja mengakhiri hidup santriwan malang ini?
Bagi Lisnawati, tidak ada yang bisa mengembalikan NS ke pelukannya. Namun, satu-satunya penghibur lara yang ia cari saat ini hanyalah kejujuran.
Siapa yang bertanggung jawab atas luka di tubuh anaknya? Mengapa seorang anak berusia 12 tahun harus pergi dengan cara setragis itu?
Publik kini menunggu. Keadilan untuk NS bukan sekadar tuntutan keluarga, tapi juga ujian bagi kemanusiaan dan penegakan hukum di Sukabumi (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 5Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 6MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 7Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 8Golkar Ungkap Alasan Partai Pendukung Tak Turun Bela Gibran di MK, Ini Penjelasannya
- 9Dedi Mulyadi Disebut Bisa Jadi Cawapres Prabowo 2029, Syarat Politik Ini Jadi Sorotan
- 10Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'










