Banten

Generasi Muda Tertarik Perikanan Modern Berkat Ajakan Raffi Ahmad dan Menteri Trenggono

Moehamad Dheny Permana | 3 November 2025, 05:40 WIB
Generasi Muda Tertarik Perikanan Modern Berkat Ajakan Raffi Ahmad dan Menteri Trenggono

Akurat Banten - Kementerian Kelautan dan Perikanan kembali melakukan gebrakan melalui kunjungan lapangan yang melibatkan figur publik untuk memperkenalkan wajah baru sektor perikanan budidaya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengundang Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad, untuk melihat langsung sistem budidaya ikan nila salin yang tengah dikembangkan di Karawang, Jawa Barat.

Kegiatan ini dilakukan di kawasan Balai Induk Nila Salin atau BINS, pusat riset dan produksi ikan nila berteknologi modern yang dirancang untuk mengubah tambak tradisional menjadi zona produksi berorientasi ekspor.

Raffi tidak datang sendirian, ia ditemani Ariel Noah, Gading Marten, dan Desta yang bergabung dalam kelompok The Dudas-1.

Kehadiran mereka menarik perhatian pekerja lapangan dan masyarakat setempat karena jarang ada selebritas yang terlibat dalam kegiatan perikanan budidaya.

Di lokasi, Trenggono menjelaskan bahwa modernisasi tambak ini adalah bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan melalui sektor perairan.

“Budidaya ikan bukan hanya tentang produksi, tetapi juga masa depan pangan nasional, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan,” tegas Trenggono.

Ia menegaskan bahwa teknologi yang diterapkan di BINS bertujuan menciptakan usaha tambak yang efisien, produktif, dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Beras Nasional Dijaga Tetap Segar dengan Sistem Rotasi Cepat, Pemerintah Tegaskan Stok Aman dan Berkualitas

Trenggono juga mengungkap alasan mengapa Raffi Ahmad dan para publik figur sengaja dilibatkan dalam agenda tersebut.

“Kami ingin konsep ekonomi biru dan budidaya ikan modern bisa dikenal generasi muda melalui cara yang inspiratif dan mudah diterima,” ujarnya.

Selain melihat sistem budidaya, para tamu juga diajak mengamati area pembesaran ikan, pengolahan limbah, hingga fasilitas terintegrasi lain yang ada di lokasi tersebut.

Kawasan BINS berdiri di atas lahan seluas 230 hektare dan dilengkapi dengan sistem air laut dan air tawar yang diatur secara otomatis.

Dengan teknologi ini, KKP menargetkan produktivitas tambak bisa mencapai puluhan ton setiap tahunnya.

BINS bahkan diproyeksikan menyerap sekitar 500 tenaga kerja baru yang berasal dari masyarakat sekitar.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu, menyebutkan bahwa produktivitas tambak nila yang sebelumnya hanya berkisar 0,6 ton per hektare kini dapat meningkat drastis hingga puluhan ton.

Menurut Tb Haeru, nila salin dipilih karena bisa hidup di air payau, tumbuh lebih cepat, dan memiliki ketahanan terhadap penyakit.

Permintaan ikan nila atau tilapia di pasar internasional juga terus mengalami peningkatan.

Data KKP menunjukkan kebutuhan tilapia global pada tahun 2024 mencapai jutaan ton dan terus naik setiap tahun.

Baca Juga: DUKA CIKEMBAR! Dedi Mulyadi Turun Tangan, Perintah Usut Tuntas Kasus yang Gemparkan Publik, Siswi MTs Sukabumi Tewas Diduga Bunuh Diri Korban Bullying

Di tingkat nasional, konsumsi masyarakat terhadap ikan juga semakin tinggi seiring meningkatnya kesadaran akan pangan sehat dan bergizi.

Indonesia kini menjadi produsen tilapia terbesar kedua di dunia dan eksportir utama setelah China dan Kolombia.

Raffi Ahmad mengaku terkesan setelah melihat langsung inovasi sektor perikanan.

“Modeling seperti ini bukan hanya meningkatkan produksi ikan, tapi juga membuka lapangan kerja dan menyediakan sumber protein hewani yang sehat dan bergizi,” kata Raffi.

Raffi bahkan menyebut bahwa budidaya ikan modern memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi peluang usaha bagi anak muda.

Ia menilai bahwa sektor perikanan kini jauh dari kesan kuno atau kotor seperti anggapan banyak orang.

Baginya, ini adalah peluang yang bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan dampak sosial positif.

Trenggono menambahkan bahwa pembangunan BINS merupakan bagian dari visi Indonesia Emas 2045.

Ia menegaskan bahwa pemerintah menargetkan swasembada pangan berbasis protein ikan dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan dukungan teknologi dan keterlibatan generasi muda, sektor perikanan diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi pesisir.

Kunjungan ini menjadi simbol bahwa perikanan bukan sekadar profesi, tetapi peluang masa depan.

Tujuan akhirnya adalah menjadikan Indonesia sebagai pusat perikanan budidaya modern di dunia.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan figur publik, sektor perikanan kini bergerak menjadi industri yang lebih inovatif dan diminati generasi muda.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.