Banten

Drama Eskalator dan Teleprompter Rusak di PBB, Intelijen AS Turun Tangan

Moehamad Dheny Permana | 24 September 2025, 19:41 WIB
Drama Eskalator dan Teleprompter Rusak di PBB, Intelijen AS Turun Tangan

Akurat Banten - Dinas rahasia Amerika Serikat kini menaruh perhatian serius pada insiden kecil yang sempat mengganggu agenda resmi Presiden Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Gangguan yang tampak sepele, yakni eskalator berhenti mendadak dan teleprompter tak berfungsi, kini didalami untuk memastikan apakah ada unsur peretasan yang disengaja.

Bloomberg melaporkan pada Rabu, penyelidikan ini muncul setelah muncul dugaan bahwa gangguan tersebut tak sepenuhnya murni akibat kesalahan teknis.

Seorang pejabat PBB sebelumnya menjelaskan bahwa insiden eskalator kemungkinan besar disebabkan oleh sistem pengaman otomatis yang terpicu.

“Videografer tersebut mungkin secara tidak sengaja memicu fungsi keselamatan itu,” ungkap Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB.

Ia menambahkan, mekanisme tersebut memang dirancang untuk menghentikan mesin jika ada potensi benda asing tersangkut agar tidak menimbulkan kecelakaan.

Menurut Dujarric, videografer yang tanpa sengaja mengaktifkan sensor itu berasal dari rombongan delegasi Amerika Serikat sendiri.

Baca Juga: Buka Suara Terkait Demo Karyawan, Dirut RS Misi: 'Jaspel Tidak Dihilangkan, Disesuaikan dengan Kondisi Keuangan, SHU Minus Rp 1,2 Miliar'

Namun, keterangan resmi itu tidak sepenuhnya meredam spekulasi.

Pasalnya, dua gangguan teknis yang terjadi beruntun saat Trump memasuki arena sidang dianggap cukup janggal untuk dilewatkan begitu saja.

Dalam pidato yang berlangsung 56 menit, Trump secara blak-blakan menyinggung pengalaman tak mengenakkan tersebut.

Ia mengaku dirinya bersama Melania sempat terjebak karena eskalator berhenti tiba-tiba.

Belum selesai dengan kejadian itu, teleprompter yang sudah disiapkan untuk menunjang pidatonya mendadak mati di awal penyampaian.

Trump menyindir hal tersebut di hadapan delegasi dunia.

“Satu-satunya hal yang saya dapatkan dari PBB hanyalah eskalator dan teleprompter yang buruk,” ucapnya.

Ucapan itu memicu tawa sebagian hadirin, namun juga mengundang pertanyaan tentang kesiapan teknis penyelenggaraan sidang yang menjadi forum diplomasi terbesar dunia.

Sumber di Washington menuturkan bahwa dinas rahasia AS tengah memeriksa kemungkinan adanya upaya sabotase.

Baca Juga: Ada Kasus Keracunan MBG di Tangerang? Hati-hati Berkaca dari MBG Bermasalah di Kota Besar Lainnya

Meski sejauh ini belum ditemukan indikasi kuat, mereka tetap menilai setiap celah gangguan terhadap presiden, sekecil apa pun, perlu ditangani secara serius.

Langkah investigasi dianggap wajar mengingat setiap detil keamanan pada kegiatan internasional sebesar UNGA biasanya dijaga dengan protokol ketat.

Pengamat hubungan internasional menilai, insiden ini menunjukkan rapuhnya sisi teknis yang bisa berimbas pada simbol politik.

“Bagi presiden AS, setiap gangguan di panggung global akan selalu ditafsirkan lebih dari sekadar masalah teknis,” ujar salah satu analis dari lembaga think tank di New York.

Hingga kini, pihak PBB belum memberikan komentar tambahan selain penjelasan awal soal sistem pengaman eskalator.

Sementara itu, pihak Gedung Putih memilih menunggu hasil investigasi resmi sebelum memberikan keterangan lebih jauh.

Meski tampak sepele, drama singkat ini justru menjadi salah satu sorotan menarik dari rangkaian sidang PBB yang biasanya diwarnai isu serius seperti geopolitik, iklim, hingga perdagangan internasional.

Bagi Trump sendiri, insiden itu sudah ia ubah menjadi bahan sindiran yang menegaskan gaya khasnya: mencampur diplomasi dengan komentar pedas.

Apakah gangguan ini hanya kebetulan atau memang ada permainan tersembunyi, jawabannya kini bergantung pada hasil penyelidikan intelijen AS.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.