Angin Segar dari Beijing, Negosiasi Dagang AS-China Dorong Rupiah Menguat Tipis

Akurat Banten - Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa penguatan nilai tukar rupiah disebabkan oleh sentimen positif dari hasil negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Menurutnya, meskipun pergerakan rupiah cenderung sideways, penguatan sebesar 0,09 persen menjadi Rp16.260 per dolar AS tetap menjadi sinyal positif bagi pasar.
"Nilai tukar rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.255–Rp16.272 per dolar AS dan ditutup menguat 15 poin dari posisi sebelumnya di Rp16.275. Sentimen positif dari hari kedua negosiasi dagang AS-China menjadi pendorong utama," ujar Josua.
Negosiasi ini mempertemukan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, sebagai bagian dari mekanisme konsultasi ekonomi dan perdagangan bilateral yang berlangsung awal pekan ini.
Baca Juga: Terbongkar! Modus Eksploitasi Anak Lewat Aplikasi Live Streaming di Depok
Para pelaku bisnis menyambut baik proses perundingan ini, karena dianggap dapat memperkuat kepercayaan dan menciptakan hubungan perdagangan yang lebih sehat antar kedua negara.
“Kemajuan dalam negosiasi ini memberikan harapan bagi pasar yang selama ini dilanda kekhawatiran atas kebijakan tarif AS dan ketegangan geopolitik,” jelas Josua.
Namun demikian, penguatan rupiah masih bersifat terbatas. Pasar masih berhati-hati menjelang rilis data inflasi AS untuk bulan Mei 2025.
Inflasi diperkirakan meningkat dari 2,3 persen menjadi 2,5 persen (yoy), yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Josua menambahkan, jika inflasi AS benar-benar naik, maka tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah bisa kembali meningkat.
Untuk perdagangan esok hari, ia memproyeksikan rupiah akan bergerak pada rentang Rp16.250–Rp16.325 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan rupiah, dari Rp16.276 menjadi Rp16.265 per dolar AS.
Situasi ini menunjukkan bahwa sentimen global tetap menjadi penentu utama arah pergerakan nilai tukar.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 2Jika Gugatan Gibran Dikabulkan MK, Yusril Bicara Dampaknya, ‘Saya Tidak Bisa Membayangkan’
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Jokowi Akhirnya Buka Suara soal Pendidikan Gibran, Singgung Paket C, 'Masa Disuruh Lagi?'
- 5Gugatan Gibran di MK Disebut KPU Bisa Masuk Ranah Pemakzulan, Ini Alasannya
- 6Dedi Mulyadi Masuk Bursa Pilpres 2029, Tapi Ada Satu Hambatan Besar yang Disorot Pengamat
- 7Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 8Makin Terbuka! Hakim MK Pertanyakan Verifikasi Dokumen Pendidikan Gibran oleh KPU
- 9Cole Palmer Lagi-Lagi Tak Bisa Bela Inggris, Begini Respons Thomas Tuchel
- 10Gol Kemenangan Berujung Petaka, Mbappé Cedera dan Harus Pulang ke Madrid: Ada Apa dengan Lututnya?






