GAWAT! Dokter Anestesi RSHS Diduga Perkosa Pasien Berulang Kali, Cabuli Pasien dengan Modus Uji Alergi, Korban Bertambah!

AKURAT BANTEN-Kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan oleh Priguna Anugerah Prayoga, dokter residen anestesi di RSHS Bandung, kian meruncing. Selain FH (21), anak dari pasien yang diperkosa di Gedung MCHC lantai 7 pada 18 Maret 2025, polisi kini mengungkap dua korban tambahan yang juga diduga mengalami tindakan serupa oleh Priguna.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Surawan menyebut dua korban baru tersebut telah diperiksa. Keduanya adalah pasien perempuan, dan kejadian berlangsung di lokasi yang sama dengan korban FH, namun dalam waktu berbeda.
"Dua orang lagi sudah dilakukan pemeriksaan kemarin, benar kedua orang ini menerima perlakuan yang sama dari tersangka," kata Surawan di Mapolda Jabar, Jumat (11/5/2025).
Baca Juga: Luka Tertusuk Paku Berujung Pilu: Antara Penolakan Puskesmas dan Tragisnya Layanan Darurat Kosong
Surawan menjelaskan, dua korban itu mengalami kejadian pada 10 dan 16 Maret 2025. Modusnya sama-pelaku berdalih akan melakukan uji alergi obat bius.
"Kejadian pada Tanggal 10 Maret dan 16 Maret. Modus sama dengan dalih akan melakukan anestesi dan kedua akan melakukan uji alergi terhadap obat bius. Korban dibawa ke tempat yang sama, keduanya pasien," ungkapnya.
Identitas kedua korban tidak dirinci lebih lanjut, namun keduanya adalah wanita muda.
Baca Juga: Bocah di Tangerang Digigit Monyet Lepas dari Penangkaran Hewan BPBD
"Tambahan dua korban usia 21 tahun dan 31 tahun," tambahnya.
Meski hingga kini belum ada laporan resmi dari dua korban tersebut, penyidik tetap akan memasukkan keterangan mereka ke dalam berkas perkara dan berencana menjerat pelaku dengan pasal pemberatan.
"Nanti kita periksa tambahan sebagai korban dan nanti kita akan terapkan pasal perbuatan berulang terhadap tersangka. Akan ada tambahan ya, tambahan pemberatan," pungkasnya.
Meski jumlah korban diduga bertambah, Priguna sendiri masih bersikukuh bahwa ia baru sekali melakukan aksinya. Surawan menyebut pengakuan tersebut tidak sejalan dengan temuan penyidik di lapangan.
"Dia belum lama, melakukan itu, sementara keterangan dia baru sekali melakukan," ujar Surawan di Mapolda Jabar.
Kepada penyidik, Priguna mengaku hanya memperkosa FH, yang saat itu sedang mendampingi ayahnya di rumah sakit.
Aksinya dilakukan setelah pasien menjalani pemeriksaan medis, ketika Priguna mengajak korban ke ruangan kosong lantai 7 gedung MCHC.
Baca Juga: Jeratan Hukum Menanti Dokter PPDS, Polda Jabar Ungkap Deretan Korban
Surawan juga membenarkan bahwa saat pemeriksaan awal korban sempat berada dalam pengawasan dokter penanggung jawab. Namun saat aksi terjadi, Priguna melakukannya sendiri.
"Ini insiden ya, ruangan (tempat pemerkosaan belum digunakan, rumah sakit juga lakukan pengawasan terutama untuk residen," kata Surawan.
"Awalnya bersama dokter lain, kemudian dia menghubungi pasien, pasien dipanggil dan dibawa ke ruangan yang sama," tuturnya.
Baca Juga: Tips dan Trik Mengelola Keuangan Usaha bagi Pengusaha Pemula
"Pelayanan pasien sama-sama, saat akan melakukan aksinya dia sendiri," tambahnya.
Lebih lanjut, Surawan mengatakan bahwa korban sempat didampingi keluarga, namun kemudian dibawa sendiri ke ruangan tempat kejadian.
"Pada awalnya korban juga sama keluarga, saat dibawa ke ruangan itu korban dibawa sendiri," tambahnya.
Baca Juga: Bisnis Properti 2025: Masih Menguntungkan atau Mulai Kehilangan Daya Tarik?
Untuk menguatkan pembuktian hukum, polisi telah mengirim sampel DNA ke laboratorium forensik.
"Sedang kita kirim ke Puslabfor, nanti juga ada bantuan dari Pusdokkes, (pemeriksaan) nggak lama paling 4 hari," pungkasnya.
Korban yang diduga diperkosa dokter Priguna Anugerah P (31) bertambah menjadi tiga wanita. Anggota Komisi IX DPR Ashabul Kahfi menyebut kasus ini sistemik dan serius.
Baca Juga: Dampak AI terhadap Industri Bisnis: Ancaman atau Peluang yang Menguntungkan?
"Kami di Komisi IX DPR RI sangat prihatin dengan informasi terbaru bahwa jumlah korban dalam kasus dugaan pemerkosaan oleh dokter Priguna bertambah menjadi tiga orang. Ini bukan sekadar memperparah situasi, tapi juga menandakan bahwa kasus ini mungkin jauh lebih sistemik dan serius dari yang kita bayangkan di awal," ujar Ashabul kepada wartawan, Jumat (11/4/2025).
Ashabul menduga masih ada korban lain yang belum berani bicara atau melapor. Dia menilai kasus ini menunjukkan kegagalan sistem di rumah sakit dan lembaga pendidikan dokter.
"Pertambahan jumlah korban menunjukkan adanya potensi korban lain yang selama ini mungkin belum berani bicara dan ini harus jadi alarm bagi semua pihak, bahwa kita tak boleh anggap remeh persoalan ini. Ini bukan hanya soal individu, tapi tentang kegagalan sistem pengawasan dan etika profesi di lingkungan rumah sakit dan lembaga pendidikan kedokteran," ujarnya.
Baca Juga: Pertarungan Investasi: Kripto vs. Saham, Siapa yang Lebih Unggul di Era Digital?
Dia menyebut Komisi IX DPR mendorong kepolisian untuk mengusut tuntas agar seluruh korban mendapatkan haknya. Ashabul juga mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan institusi pendidikan dokter agar meninjau ulang prosedur terkait pendidikan spesialis.
"Ini juga saatnya bagi institusi terkait untuk introspeksi, bagaimana mungkin seorang dokter bisa melakukan tindakan sehina itu terhadap pasien dan keluarganya lebih dari satu kali?" katanya.
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mendesak Kemenkes melakukan audit menyeluruh terkait prosedur rekrutmen tenaga kesehatan hingga pengaduan di layanan kesehatan. Dia mengatakan hal itu penting agar kasus serupa tak terulang.
Baca Juga: Megawati 'Megatron' Pamit: Air Mata Perpisahan dan Legacy yang Tak Terlupakan di Red Sparks!
"Sebagai mitra pengawas Kementerian Kesehatan, kami mendesak Kemenkes untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap prosedur rekrutmen, pengawasan, dan mekanisme pengaduan di fasilitas layanan kesehatan, baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta," kata Charles.
Charles menegaskan tak boleh ada toleransi terhadap aksi bejat Priguna. Dia berharap pelaku bisa dihukum seberat-beratnya.
"Kejahatan yang dilakukan oleh dokter Priguna adalah kejahatan yang sangat serius dan tidak dapat ditolerir. Kami mengecam keras tindakan ini dan mendukung penuh proses hukum agar pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujarnya.
Baca Juga: Perang Tarif Memanas: Xi Jinping Balas Telak Trump, Dunia Dagang Bergejolak!
Korban pemerkosaan dokter PPDS, Priguna Anugerah, ternyata bukan hanya wanita inisial FH (21). Ada dua pasien RSHS Bandung lainnya yang juga menjadi korban Priguna.
"Dua orang lagi sudah dilakukan pemeriksaan kemarin. Benar, kedua orang ini menerima perlakuan yang sama dari Tersangka," kata Dirkrimum Polda Jabar Kombes Surawan di Mapolda Jabar, dilansir detikJabar, Jumat (11/4).
Priguna memerkosa dua korban tersebut pada waktu yang berbeda. Namun lokasinya sama dengan korban FH.
Baca Juga: GEGER BINTARO, TANGSEL: Upaya Kubur Bayi di Balik Tanggul Boulevard, Pelaku Tertangkap!
"Kejadian pada tanggal 10 Maret dan 16 Maret. Modus sama dengan dalih akan melakukan anestesi dan kedua akan melakukan uji alergi terhadap obat bius. Korban dibawa ke tempat yang sama, keduanya pasien," ujarnya (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Saran Prof Jimly untuk Denny Indrayana, Bawa Nama Ganjar hingga Mahfud Soal Ijazah Gibran, Ada Apa?
- 2Keceplosan Soal 'Pasal Selundupan' untuk Gibran? Komisioner KPU Dicecar Hakim MK, Jawabannya Jadi Sorotan
- 3Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'
- 4Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 5Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 6Terungkap! Alasan Jokowi Gabung PSI Mulai Dibaca Pengamat, Ada Tujuan Besarnya Sinyal Politik untuk Kaesang dan Gibran Menuju 2029
- 7MK Didesak Buka Tahap Pembuktian Gugatan Denny Indrayana soal Ijazah Gibran, Apa yang Dipersoalkan?
- 8Data Desil Bermasalah, Warga Garut Meninggal di RSUD Dr. Slamet Tanpa Penanganan
- 9Juventus Kembali Rugi Rp1,3 Triliun, Utang Tembus Rp6,5 Triliun: Langkah Besar Disiapkan!
- 10Man City Dinyatakan Bersalah, Thomas Tuchel Pilih Diam: Begini Sikapnya kepada Pemain The Citizens di Inggris






