Banten

Pendidikan Karakter dan Otoritas Guru: Presiden Prabowo Bela Ketegasan Pendidik, Sentil Orang Tua Murid 'Nakal'

Saeful Anwar | 29 November 2025, 09:51 WIB
Pendidikan Karakter dan Otoritas Guru: Presiden Prabowo Bela Ketegasan Pendidik, Sentil Orang Tua Murid 'Nakal'

 

AKURAT BANTEN– Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengeluarkan pernyataan tegas yang berpotensi menjadi sorotan dalam dunia pendidikan. Dalam pidatonya yang kuat pada Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Indonesia Arena, Jakarta, Jumat (28/11/2025).

Prabowo menegaskan pentingnya otoritas dan ketegasan guru dalam mendidik murid, bahkan ketika harus menghadapi perilaku yang dianggap "nakal" hingga "kurang ajar".

Kepala negara menekankan bahwa peran guru jauh melampaui sebatas pengajar di kelas. Guru adalah garda terdepan dalam pembentukan karakter dan kedisiplinan generasi muda. Oleh karena itu, menurutnya, guru harus diberi ruang otoritas penuh untuk menjalankan fungsi krusial tersebut.

Baca Juga: TERUNGKAP! Isu Nikah Siri, DM Istri Sah, hingga CCTV Bocor: Tangis Inara Rusli Pecah, Klaim Dirinya Korban Kebohongan Berantai

"Kalau Guru Keras, Jangan-Jangan Anakmu yang Nakal"

Pesan kunci yang disampaikan Prabowo secara eksplisit ditujukan kepada para orang tua di seluruh Indonesia.

"Jadi, hai orang tua di mana-mana, kalau guru itu keras, jangan-jangan anakmu yang nakal," kata Prabowo, yang disambut riuh hadirin.

Pernyataan ini merupakan penegasan bahwa tindakan disiplin dan ketegasan yang diambil guru tidak seharusnya serta-merta dianggap negatif.

Prabowo menyoroti kecenderungan orang tua yang kerap hanya melihat masalah dari sisi anak tanpa berusaha memahami konteks perilaku dan upaya pembentukan disiplin yang tengah dilakukan di lingkungan sekolah.

Baca Juga: SIM DIUBAH SEUMUR HIDUP? DPR Desak Polri Hapus Biaya Perpanjangan: PNBP Jadi Alasan Utama?

Cerita Murid Kurang Ajar dan Arahan 'Lawan' 

Untuk memperkuat argumennya, Prabowo membagikan sebuah kisah nyata yang ia dengar, tentang sebuah kasus disiplin ekstrem yang melibatkan seorang murid yang menunjukkan perilaku sangat tidak sopan.

"Ada (murid) yang banting pintu, langsung kepala sekolah memberhentikan anak itu," ungkap Prabowo.

Namun, keputusan tegas kepala sekolah itu ternyata membawa konsekuensi tak terduga: murid yang diberhentikan adalah anak dari seorang perwira tinggi (Jenderal). Situasi pun menjadi "canggung" dan kepala sekolah merasa tertekan.

"Tahu-tahu kepala sekolahnya agak grogi karena yang diberhentikan itu anak jenderal," lanjutnya.

Alih-alih menyarankan kompromi, Prabowo memberikan arahan yang membela institusi sekolah.

Kepala sekolah tersebut bahkan menghubunginya untuk meminta petunjuk.

"Kepala sekolahnya telepon saya. Saya bilang, 'Enggak usah ragu-ragu. Mana jenderal itu? Suruh menghadap saya'. Aku tunggu-tunggu enggak datang-datang juga itu," ujar Prabowo, memberikan penekanan.

Melalui kisah ini, Presiden Prabowo mengirimkan pesan yang sangat kuat: disiplin di sekolah harus ditegakkan secara konsisten, tanpa pandang bulu, dan tanpa takut pada tekanan eksternal, siapapun orang tua murid tersebut.

Baca Juga: BENCANA EKOLOGI BATANGTORU: Ketika Emas Dinikmati Korporasi, Bencana Ditanggung Rakyat

Otoritas Guru Penting

Penekanan Presiden Prabowo hadir di tengah perdebatan publik tentang batas-batas hukuman dan pendisiplinan di sekolah.

Banyak kasus kekerasan terhadap guru yang dilakukan oleh orang tua atau murid karena merasa keberatan dengan tindakan disiplin, yang pada akhirnya mengikis wibawa dan otoritas pendidik.

Prabowo menyimpulkan bahwa pendidikan karakter tidak akan berjalan efektif bila guru atau kepala sekolah harus berjalan dalam ketakutan atau merasa terintimidasi.

Keberanian guru untuk bersikap tegas adalah prasyarat utama dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan disNakal (**) 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman